News  

Kisah Bu In, “Srikandi Bunga” dari Gedongsari yang Panen Berkah Lebaran 2026

TUTURPEDIA - Kisah Bu In, "Srikandi Bunga" dari Gedongsari yang Panen Berkah Lebaran 2026
banner 120x600

Blora, Tuturpedia.com – Gema takbir yang bersahutan di langit Desa Gedongsari, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, bukan hanya menjadi penanda hari kemenangan bagi Bu In. Baginya, aroma Idul Fitri 1447 H ini tercium sewangi tumpukan mawar, melati, dan kenanga yang memenuhi teras rumahnya. Jumat, (20/03/2026).

Lebaran 2026 membawa rezeki melimpah bagi ibu paruh baya ini. Sebagai pedagang bunga ziarah rumahan, Bu In menjadi tumpuan bagi ratusan peziarah yang ingin menyekar ke makam leluhur. Di saat toko-toko besar mungkin tutup, halaman rumah Bu In justru berubah menjadi pasar kaget yang estetik dan penuh warna.

TUTURPEDIA - Kisah Bu In, "Srikandi Bunga" dari Gedongsari yang Panen Berkah Lebaran 2026

Tradisi Nyekar yang Tak Pernah Mati

Sejak H-1 Lebaran hingga hari kedua Idul Fitri, rumah Bu In tidak pernah sepi. Dengan cekatan, jemarinya membungkus campuran bunga mawar merah-putih, irisan daun pandan, dan bunga telon ke dalam plastik-plastik kecil.

“Tahun ini permintaannya luar biasa, Mas. Mungkin karena mudik tahun 2026 ini paling ramai setelah beberapa tahun lalu, jadi yang ziarah ke makam keluarga di Gedongsari juga membludak,” ujar Bu In sambil menyeka keringat, namun tetap melempar senyum lebar kepada pembeli.

Meskipun hanya berjualan di teras rumah, kualitas bunga Bu In dikenal segar. Ia mengambil pasokan langsung dari petani lokal dan sebagian hasil kebun sendiri, sehingga harganya tetap merakyat di tengah kenaikan harga bahan pokok lainnya.

Serbuan Pembeli: Dari Warga Lokal Hingga Pemudik Jakarta

Antrean pembeli terlihat mengular sejak pukul 06.30 WIB. Salah satunya adalah Danang (34), seorang pemudik asal Jakarta yang baru tiba di Blora tadi malam.

“Setiap pulang kampung ke Banjarejo, saya pasti mampir ke tempat Bu In. Bunganya lengkap, segar, dan yang paling penting, lokasinya dekat dengan area pemakaman. Jadi nggak perlu repot cari ke pasar kota,” kata Danang sambil menenteng tiga kantong bunga tabur.

Lain lagi dengan Siti, warga lokal Desa Gedongsari. Ia mengaku lebih memilih membeli di tetangga sendiri untuk membantu UMKM rumahan.

“Beli di Bu In itu sudah tradisi. Sambil beli bunga, bisa sekalian silaturahmi dan tanya kabar. Berkahnya dapet, bunganya juga cantik,” tuturnya.

Ekonomi Kerakyatan yang Bersemi

Fenomena Bu In adalah potret nyata bagaimana perputaran ekonomi di tingkat desa melaju kencang saat Lebaran. Tanpa perlu menyewa ruko mahal, dedikasi Bu In menyediakan kebutuhan ritual “nyekar” masyarakat menjadikannya pahlawan ekonomi keluarga.

Harga satu porsi bunga ziarah tak dipatok harga, dan tergantung kelengkapan jenis bunganya. Meski terlihat sederhana, dalam sehari Bu In mampu menjual ratusan bungkus bunga, sebuah angka yang cukup untuk menambah tabungan dan biaya syukuran keluarga di hari raya.

Bagi warga Desa Gedongsari, Bu In bukan sekadar penjual bunga. Ia adalah pengingat bahwa di balik tradisi menghormati mereka yang telah tiada, ada kehidupan dan ekonomi yang terus tumbuh bersemi—sewangi bunga-bunga di teras rumahnya.

tuturpedia.com - 2026