Indeks
News  

Ultimatum FBS: Abaikan Aspirasi, Warga Blora Selatan Siap turun Massal

Blora, Tuturpedia.com – Front Blora Selatan (FBS) kembali melontarkan peringatan keras kepada pemerintah dan pihak perusahaan terkait dampak proyek yang dinilai semakin meresahkan warga. Mereka menegaskan, kesabaran masyarakat kini berada di ujung batas. Jumat, (22/05/2026).

Aktivis FBS, Iwan Sekend, menyatakan bahwa jika dalam waktu dekat tidak ada langkah konkret untuk mengatasi kerusakan infrastruktur dan keresahan warga, maka aksi besar-besaran tidak bisa dihindari. Bahkan, massa dari berbagai wilayah di Blora Selatan disebut siap turun ke jalan.

“Ia memperingatkan, apabila dalam waktu dekat tidak ada langkah konkret dari pihak perusahaan maupun pemerintah terkait dampak infrastruktur dan keresahan warga, maka FBS siap menggelar aksi yang lebih besar dengan melibatkan massa dari berbagai wilayah di Blora Selatan,” demikian ditegaskan dalam pernyataan usai audiensi.

Menurut Iwan, jalur komunikasi yang selama ini ditempuh masyarakat mulai kehilangan makna karena tidak direspons serius. Ia menilai, jika dialog terus dianggap sekadar formalitas, maka tekanan publik akan beralih ke aksi nyata di lapangan.

“Kalau audiensi dan komunikasi terus dianggap angin lalu, maka jalanan yang akan bicara. Massa akan turun lebih besar. Bahkan kalau diperlukan, masyarakat akan melakukan portalisasi jalan seperti yang pernah terjadi di Bojonegoro. Karena rakyat juga punya batas kesabaran,” tegasnya.

Ia menegaskan bahwa rencana aksi tersebut bukan sekadar ancaman kosong, melainkan bentuk perlawanan warga yang merasa ruang dialog tidak lagi dihargai.

“Jangan tunggu rakyat bergerak sendiri. Sebab kalau kemarahan warga sudah menyatu, itu bukan lagi soal organisasi, tapi soal harga diri masyarakat yang merasa terus dibebani dampak proyek tanpa perlindungan yang jelas,” lanjutnya.

Iwan juga menyindir pihak-pihak yang dinilai terlalu fokus pada narasi investasi, namun abai terhadap realitas di lapangan.

Ia menekankan bahwa fasilitas yang digunakan proyek adalah bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Yang dipertaruhkan bukan sekadar debu jalanan, infrastruktur jembatan, dan dampak sosial. Anak sekolah lewat situ, petani lewat situ, warga cari nafkah lewat situ. Kalau semua dipaksa menanggung risiko demi proyek, sementara suara rakyat diabaikan, maka jangan heran kalau nanti kemarahan itu berubah menjadi perlawanan terbuka,” pungkasnya.

Pernyataan ini menjadi sinyal serius meningkatnya tensi sosial di Blora Selatan. Jika tidak segera direspons dengan kebijakan nyata, potensi konflik terbuka antara warga dan pihak terkait proyek dikhawatirkan semakin membesar.

Penulis: Lilik Yuliantoro Editor: Permadani T.
Exit mobile version