Tuturpedia.com — Di tengah megahnya kompleks Basilika Santo Petrus, sebuah karya seni dari Indonesia mendapat tempat istimewa di hadapan pemimpin Gereja Katolik dunia. Budayawan Butet Kartaredjasa menyerahkan secara langsung rangkaian lukisan kaca bertajuk Jalan Salib versi Jawa kepada Paus Leo XIV, menghadirkan perpaduan unik antara spiritualitas Katolik dan kekayaan budaya Nusantara.
Karya yang terdiri atas 14 panel tersebut mengisahkan perjalanan sengsara Yesus Kristus, tetapi dengan pendekatan yang tidak lazim. Alih-alih menggunakan representasi visual yang umum ditemukan dalam tradisi Barat, Butet menghadirkan tokoh-tokoh Punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong sebagai medium penceritaan. Melalui tangan seniman asal Yogyakarta itu, kisah Jalan Salib diterjemahkan ke dalam bahasa budaya Jawa tanpa kehilangan makna religius yang terkandung di dalamnya.

Bagi Butet, proyek tersebut bukan sekadar karya seni, melainkan upaya membangun jembatan antara iman dan kebudayaan. Selama berbulan-bulan, ia bersama timnya mengerjakan satu per satu panel kaca yang memadukan simbol-simbol kekristenan dengan estetika tradisional Jawa.
Dalam salah satu panel, sosok Semar bahkan ditempatkan sebagai figur sentral yang merepresentasikan nilai-nilai pengorbanan, kebijaksanaan, dan kemanusiaan yang juga hadir dalam kisah Yesus. Pendekatan itu dipilih agar pesan spiritual dapat lebih mudah dipahami melalui simbol-simbol yang telah lama hidup dalam tradisi masyarakat Jawa.
Dua hari setelah penyerahan karya tersebut, Butet menceritakan pengalaman yang menurutnya sangat berkesan. Dalam keterangannya yang disampaikan pada 19 Juni 2026, ia mengaku momen bertemu Paus Leo XIV menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan.

“Saya belum pernah mengalami perjuangan untuk mencium tangan Paus Leo XIV itu seperti Yesus, begitu sengsaranya dibakar matahari selama empat jam,” kata Butet mengenang suasana audiensi umum di Vatikan.
Di balik proses kreatifnya, Butet menjelaskan bahwa penggunaan tokoh Punakawan bukanlah pilihan yang muncul secara kebetulan. Ia melihat tokoh-tokoh tersebut sebagai figur yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan memiliki kemampuan menyampaikan nilai-nilai universal dengan cara yang sederhana.
“Tokoh-tokoh itu sangat bersahabat dengan masyarakat. Saya membayangkan kalau sosialisasi nilai kenapa tidak menggunakan idiom Punakawan yang ada di dalam tradisi Jawa?” ujarnya.
Menurut Butet, karya tersebut juga menjadi wujud nyata dialog lintas budaya dan lintas keyakinan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
“Intinya ini mewujudkan pluralisme lintas iman, lintas kebudayaan. Jalan salib tradisi Katolik ditafsir secara Jawa memakai lukisan kaca,” katanya.
Saat berhadapan langsung dengan Paus Leo XIV, Butet mengaku sempat menjelaskan asal-usul karya yang dibawanya. Ia memperkenalkan lukisan tersebut sebagai karya dari Jawa, Indonesia, yang menggabungkan nilai-nilai Katolik dengan warisan budaya lokal.
Respons yang diterimanya, menurut Butet, sangat hangat.
“Saya bilang dari Jawa, Indonesia, beliau senang. Mudah-mudahan bisa dipajang di dinding Basilika,” tuturnya.
Peristiwa ini menjadi lebih dari sekadar penyerahan karya seni. Di tengah Vatikan yang selama berabad-abad menjadi pusat peradaban dan seni religius dunia, sebuah karya yang lahir dari tradisi Jawa berhasil hadir dan berbicara dengan bahasanya sendiri. Tidak melalui pidato panjang atau diplomasi resmi, melainkan lewat sapuan warna pada kaca dan tokoh-tokoh pewayangan yang telah hidup ratusan tahun dalam kebudayaan Nusantara.
Kehadiran karya Butet di Vatikan sekaligus menunjukkan bahwa identitas lokal tidak harus ditinggalkan untuk dapat diterima di panggung global. Justru melalui akar budayanya yang kuat, pesan tentang kemanusiaan, pengorbanan, dan harapan dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
Dari Yogyakarta menuju Vatikan, perjalanan 14 panel Jalan Salib versi Jawa itu menjadi bukti bahwa seni mampu melampaui batas negara, bahasa, dan agama. Dan di antara dinding-dinding bersejarah Basilika Santo Petrus, jejak budaya Jawa kini ikut tercatat dalam sebuah kisah yang akan dikenang lama.***














