Blora, Tuturpedia.com – Setelah lebih dari dua dekade bertahan dengan fasilitas serba terbatas, wajah pendidikan anak usia dini di TK Pertiwi 2 Tambaksari, Kabupaten Blora, mulai berubah.
Sekolah yang telah berdiri selama 22 tahun itu kini mendapat program revitalisasi dengan anggaran sebesar Rp502.497.000 dari Kementerian. Menariknya, pembangunan tidak sepenuhnya mengandalkan tenaga pekerja. Pelaksanaannya dilakukan secara swakelola dengan melibatkan komite sekolah, pihak sekolah, masyarakat, hingga orang tua murid.
Bahkan, salah satu wali murid terlihat ikut turun langsung membantu proses pengerjaan pembangunan.
Keterlibatan tersebut menjadi gambaran bahwa pembangunan sarana pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah dan pemerintah, tetapi juga mendapat dukungan dari masyarakat sekitar.
Dana revitalisasi tersebut digunakan untuk sejumlah pekerjaan utama, yakni Ruang Kelas Baru (RKB), ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS), Alat Permainan Edukatif (APE) outdoor, serta penataan lingkungan sekolah.
Penataan lingkungan meliputi pembangunan atau pembenahan pagar, paving, dan drainase.
Pelaksanaan pembangunan dilakukan melalui panitia P2SP yang dibentuk dari unsur komite sekolah. Ketua panitia berasal dari komite, sementara bendahara berasal dari unsur guru. Untuk keamanan, pihak sekolah turut dilibatkan, termasuk Imam, mantan penjaga sekolah yang dinilai memahami kondisi lingkungan TK Pertiwi 2 Tambaksari.
Puluhan Tahun Belajar Serba Terbatas
Kepala TK Pertiwi 2 Tambaksari sekaligus Ketua IGTKI Kecamatan Blora, Nurul Umah Fitriana, mengatakan anggaran yang diterima berupaya dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana sekolah.
“Dananya tetap itu, jadi kami meminta yang terbaik untuk sarana prasarana,” ujarnya.
Meski demikian, menurut Nurul, anggaran Rp502,5 juta tersebut belum mampu meng-cover seluruh kebutuhan sekolah.
Salah satunya fasilitas toilet. Saat ini, TK Pertiwi 2 Tambaksari baru memiliki satu kamar mandi. Sekolah masih membutuhkan fasilitas toilet yang terpisah untuk anak dan guru, termasuk ruang guru dan ruang administrasi.
Keterbatasan fasilitas tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang sekolah yang selama puluhan tahun harus berjuang dengan kondisi seadanya.
Nurul mengungkapkan, sebelumnya sekolah hanya memiliki satu ruangan berukuran sekitar 4×5 meter. Ruangan tersebut digunakan sekaligus untuk kegiatan belajar mengajar, ruang guru, dan kantor.
“Saya di sini sendirian sampai empat tahun, tempatnya jadi satu. Anak-anak belum punya permainan. Sekarang kami merasa senang sekali dan bahagia, akhirnya seperti TK-TK yang lain,” tuturnya.
Kolam di Samping Sekolah Jadi Perhatian
Selain kebutuhan ruang dan sanitasi, keamanan anak juga menjadi perhatian pihak sekolah.
Di sisi sekolah terdapat kolam yang berbatasan dengan area bermain anak. Sekolah memang telah mendapatkan pagar BRC, namun masih membutuhkan perlindungan tambahan.
Nurul berharap apabila ke depan terdapat tambahan anggaran, pihaknya dapat membuat kanopi atau pelindung di atas pagar tersebut.
“Di samping ada kolam, kami belum bisa meng-cover untuk keamanan anak-anak. Kalau musim hujan kan kebak air. Jadi, umpama ada tambahan dana, kami ingin membuat kanopi pelindung di atas pagar BRC supaya anak-anak aman,” jelasnya.
Murid Mulai Bertambah
Revitalisasi tersebut juga membawa harapan baru bagi TK Pertiwi 2 Tambaksari.
Saat ini sekolah memiliki sekitar 15 murid. Setelah pembangunan berjalan, jumlah peserta didik mulai bertambah sekitar dua hingga tiga anak.
Sebagian murid bahkan berasal dari luar desa, seperti Desa Tambaksari, Tempurejo dan Temurejo. Kondisi tersebut tidak terlepas dari masih terbatasnya lembaga pendidikan TK di wilayah sekitar.
Bagi pihak sekolah, pembangunan sarana baru bukan sekadar membangun gedung, tetapi juga membuka harapan agar anak-anak mendapatkan ruang belajar yang lebih layak.
Nurul pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, dari swakelola, pelaksana, seluruh panitia, dan pemerintah yang sudah memberikan dana kepada TK Pertiwi 2 Tambaksari. Anak-anak juga bahagia,” pungkasnya.
Progres Pembangunan Sudah 60 Persen
Sementara itu, Tulus, selaku pelaksana pembangunan, mengatakan pekerjaan dilakukan dengan mengacu pada gambar dan spesifikasi yang tercantum dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Pembangunan dikerjakan secara swakelola dengan melibatkan tenaga kerja lokal. Dukungan masyarakat dan orang tua murid juga terlihat dalam proses pengerjaan di lapangan.
“Insyaallah target dikejar sesuai target,” ujar Tulus. Jumat, (02/10/2026).
Hingga saat ini, progres pembangunan telah mencapai sekitar 60 persen dan ditargetkan selesai pada akhir Oktober.
Material yang dibutuhkan juga telah dipesan dan tinggal menunggu proses pengiriman. Tulus memastikan pengerjaan dilakukan sesuai gambar serta spesifikasi yang telah ditetapkan.
Bangunan yang dikerjakan merupakan gedung baru yang dibangun dari awal. Selain RKB dan ruang UKS, pekerjaan juga mencakup penataan bagian depan dengan paving serta sejumlah penataan lingkungan lainnya.
Seluruh material yang digunakan disesuaikan dengan ketentuan dan spesifikasi pembangunan.
Wali Murid: Kini Ada Harapan Baru
Salah satu wali murid, Dewi, mengaku bersyukur dengan adanya program revitalisasi tersebut.
Menurutnya, pembangunan ini memberikan perubahan berarti bagi TK Pertiwi 2 Tambaksari, terutama dalam menyediakan ruang belajar yang lebih layak bagi anak-anak.
“Dengan pembangunan tersebut, TK Pertiwi 2 Tambaksari kini memiliki harapan baru untuk memberikan ruang belajar yang lebih layak, aman, dan nyaman bagi anak-anak,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan yang telah dilalui selama bertahun-tahun, pembangunan senilai Rp502,5 juta itu kini menjadi babak baru bagi TK Pertiwi 2 Tambaksari.
Bukan hanya gedung yang sedang dibangun, tetapi juga harapan agar anak-anak di wilayah tersebut dapat menikmati pendidikan usia dini dengan fasilitas yang lebih aman, nyaman, dan memadai.
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.
