Jakarta, Tuturpedia.com – Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan kisah emosional yang menyentuh relung terdalam keluarga. Film terbaru produksi Rapi Films bersama Screenplay Films berjudul Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan resmi merilis teaser trailer perdananya pada Senin (30/3/2026).
Film ini mengangkat tema kehilangan yang tidak biasa—bukan karena kematian, melainkan karena memudarnya ingatan orang tercinta. Pertanyaan emosional menjadi pembuka cerita: bagaimana rasanya jika orang yang paling kita cintai perlahan melupakan kita?

Kisah ini berpusat pada karakter Kesha yang diperankan oleh Yasmin Napper. Ia adalah anak sulung dari tiga bersaudara yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika sang ibu, Yuke Yolanda (Lulu Tobing), mulai kehilangan ingatannya akibat penyakit yang menyerang.
Sebagai anak pertama, Kesha terbiasa memendam perasaan. Ia hidup di tengah keluarga yang hangat, namun penuh tuntutan. Adiknya, Kanya (Sofia Shireen), dikenal sebagai anak berprestasi yang selalu menjadi kebanggaan ibu. Sementara Karlo (Jourdan Omar), si bungsu, membutuhkan perhatian khusus karena kondisi kesehatannya.


Di tengah situasi tersebut, Kesha yang tengah menempuh pendidikan di sekolah film memiliki keinginan sederhana: menjadi mandiri. Namun, rencana itu harus berhadapan dengan kenyataan pahit ketika sang ibu mulai melupakan hal-hal penting, termasuk anak-anaknya sendiri.

“Memerankan Kesha membuatku sadar bahwa kehilangan yang paling nyata adalah saat kita masih ada secara fisik, tapi sudah tiada di dalam ingatan orang yang kita sayangi,” ungkap Yasmin Napper dalam siaran pers.
Ia menambahkan, karakter Kesha dihadapkan pada pilihan sulit antara mengejar masa depan atau menghabiskan waktu bersama ibunya yang perlahan kehilangan memori. “Ini adalah pilihan yang mustahil, tapi harus dihadapi,” lanjutnya.
Peran ayah dalam keluarga ini juga tak kalah penting. Ibnu Jamil memerankan sosok ayah yang tegar, berusaha menjaga keutuhan keluarga di tengah kondisi yang semakin rapuh.
Produser film, Sunil Samtani, menjelaskan bahwa film ini hadir sebagai refleksi mendalam tentang arti keluarga. “Kami ingin membawa kedalaman emosi sebuah keluarga yang sedang menghadapi tantangan terberat. Film ini akan menjadi refleksi bagi setiap anak tentang arti kehadiran orang tua,” ujarnya.
Sementara itu, sutradara Kuntz Agus menekankan bahwa film ini tidak hanya ingin ditonton, tetapi juga dirasakan. “Kami ingin penonton merasakan kekalutan dan cinta yang tumpang tindih dalam keluarga ini,” katanya.
Dengan naskah yang ditulis oleh Alim Sudio, film ini menghadirkan potret keluarga yang awalnya hangat, namun perlahan berubah menjadi asing akibat penyakit yang menggerus ingatan. Konflik utama semakin terasa ketika Kesha harus memilih: melanjutkan impiannya atau kembali ke rumah sebelum ia benar-benar “hilang” dari ingatan ibunya. Film ini menegaskan satu pesan kuat—bahwa ada hal-hal yang boleh hilang dalam hidup, tetapi jangan sampai seseorang hilang dari hati dan ingatan seorang ibu.
Dengan pendekatan emosional yang kuat dan cerita yang relevan, film ini diprediksi mampu menyentuh hati penonton lintas generasi. Kisah tentang cinta, pengorbanan, dan kehilangan ini menjadi pengingat bahwa waktu bersama keluarga adalah hal yang tak tergantikan.



















