Semarang, Tuturpedia.com – Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) merilis data realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) kabupaten/kota di Jawa Tengah sepanjang 2025. Selasa, (16/06/2026).
Hasilnya menunjukkan dominasi kuat Kota Semarang sekaligus persaingan ketat di level kabupaten, terutama di wilayah selatan.
Kota Semarang kembali menegaskan posisinya sebagai motor ekonomi Jawa Tengah. Sebagai ibu kota provinsi, Semarang mencatat realisasi PAD sebesar Rp3,39 triliun.
Angka ini terpaut jauh dari daerah lain dan mencerminkan kuatnya sektor jasa, perdagangan, industri, hingga pendidikan yang berkembang pesat di kota tersebut.
Di bawahnya, Kabupaten Cilacap menempati peringkat kedua dengan capaian Rp959,85 miliar. Posisi ini memperlihatkan kokohnya basis ekonomi daerah yang dikenal sebagai pusat industri strategis di Jawa Tengah.
Tak jauh tertinggal, Kabupaten Banyumas berada di peringkat ketiga dengan PAD sebesar Rp903,57 miliar, ditopang aktivitas ekonomi di Purwokerto sebagai pusat jasa, perdagangan, dan pendidikan.
Secara umum, peta kekuatan PAD di Jawa Tengah menunjukkan konsentrasi pada beberapa daerah unggulan.
Lima besar daerah dengan PAD tertinggi ditempati oleh Kota Semarang, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes, dan Kabupaten Semarang.
Sementara itu, di sisi lain, sejumlah daerah masih berada di kelompok dengan PAD terendah. Kota Pekalongan, Kabupaten Wonogiri, Kota Salatiga, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Pemalang tercatat sebagai daerah dengan realisasi PAD paling kecil sepanjang 2025.
Untuk kelompok papan tengah, daerah-daerah mencatat PAD di kisaran Rp500 miliar hingga Rp600 miliar. Kabupaten Kendal memimpin kelompok ini dengan Rp657,63 miliar, sementara Kabupaten Demak berada di batas bawah dengan Rp507,46 miliar.
Meski berada di posisi kedua, Kabupaten Cilacap dinilai masih menghadapi tantangan dalam memperluas sumber pendapatan.
Selama ini, PAD daerah tersebut masih banyak bertumpu pada sektor konvensional seperti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), tenaga listrik, serta opsen kendaraan bermotor.
Ke depan, diversifikasi sumber pendapatan menjadi pekerjaan rumah penting. Pengembangan sektor pariwisata, pendidikan, serta perluasan sektor jasa dan perdagangan dinilai perlu dipacu agar struktur ekonomi lebih seimbang dan tidak terlalu bergantung pada sektor industri besar.
Data ini tidak hanya menunjukkan kesenjangan antarwilayah, tetapi juga menjadi gambaran arah pertumbuhan ekonomi daerah di Jawa Tengah yang semakin kompetitif.
