Wonogiri, Tuturpedia.com — Hari Tani Nasional tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan. Di tengah hamparan kawasan karst Pracimantoro, Wonogiri, para petani mengingatkan kembali satu pertanyaan penting, masihkah petani memiliki masa depan di atas tanah yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka. Sabtu, (12/09/2026).
Pertanyaan itu menjadi bagian dari refleksi masyarakat Pracimantoro melalui Genduren Gunungsewu. Pertemuan warga tersebut bukan sekadar kegiatan budaya atau hiburan. Di dalamnya terdapat upaya merawat rasa syukur, kebersamaan, sekaligus kecintaan terhadap ruang hidup yang selama ini menjadi tempat masyarakat bertani, membangun keluarga, dan mewariskan kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam momentum tersebut, masyarakat juga menikmati pertunjukan seni Wayang Beber, kesenian yang menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal. Seni dan tradisi menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul sekaligus mengingat kembali asal-usul mereka.
Namun di balik suasana kebersamaan itu, tersimpan keresahan yang jauh lebih serius.
Bagi petani Pracimantoro, mencintai tanah tidak cukup hanya dengan menjaga tradisi dan menikmati keindahan alam. Mencintai ruang hidup berarti pula mempertanyakan bagaimana nasib tanah pertanian ketika berbagai kepentingan pembangunan mulai masuk dan berpotensi mengubah wajah wilayah.
Petani dan Tanah yang Tak Sekadar Bernilai Rupiah
Menjadi petani di kawasan karst bukan perkara mudah.
Tanah yang tidak selalu dalam, keterbatasan air, musim yang semakin sulit diprediksi, hingga harga hasil pertanian yang naik turun membuat kehidupan petani penuh ketidakpastian.
Namun mereka tetap bertahan.
Sebab bagi petani, tanah bukan sekadar tempat mencari penghasilan.
Tanah adalah sumber pangan. Tanah adalah ruang bekerja. Tanah adalah tempat keluarga bertahan hidup. Bahkan lebih jauh, tanah merupakan warisan yang diharapkan masih dapat diberikan kepada anak-anak mereka.
Karena itu, ketika lahan pertanian terancam hilang, persoalannya tidak bisa hanya dihitung berdasarkan berapa rupiah harga tanah tersebut ketika dijual.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar yang ikut dipertaruhkan.
Ketika tanah produktif berubah menjadi kawasan industri atau fungsi lain, yang hilang bukan hanya sebidang sawah maupun tegalan.
Yang ikut terancam adalah pekerjaan keluarga petani, keberlanjutan pangan, pengetahuan pertanian yang diwariskan turun-temurun, serta hubungan sosial masyarakat dengan ruang hidupnya.
Tanah memiliki nilai kehidupan yang jauh lebih panjang daripada sekadar nilai transaksi.
Pembangunan Jangan Sampai Menghilangkan Petani
Ironisnya, ketika berbagai kemajuan mulai mempermudah kehidupan petani—jalan semakin terbuka, teknologi pertanian berkembang, akses pasar semakin luas, dan pengetahuan pertanian semakin mudah diperoleh—muncul persoalan yang lebih mendasar.
Bagaimana jika lahan pertaniannya sendiri semakin berkurang?
Pertanyaan inilah yang membuat refleksi Hari Tani Nasional menjadi penting.
Kesejahteraan petani tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa besar kompensasi yang diterima ketika tanah dijual.
Sebab setelah tanah berpindah tangan, petani mungkin mendapatkan uang dalam jumlah tertentu. Namun uang tersebut bisa habis.
Sementara tanah yang menjadi sumber penghidupan tidak mudah kembali.
Karena itu, pembangunan semestinya tidak menempatkan petani sebagai pihak yang selalu harus mengalah ketika berhadapan dengan kepentingan investasi dan perubahan tata ruang.
Kemajuan seharusnya memperkuat kehidupan petani, bukan menghilangkan fondasi kehidupannya.
Genduren, Wayang Beber, dan Perlawanan yang Berangkat dari Kebudayaan
Menariknya, keresahan tersebut tidak selalu disampaikan melalui aksi besar atau suara yang keras.
Di Pracimantoro, pesan tentang ruang hidup justru tumbuh dari kebudayaan.
Genduren menjadi ruang berkumpul dan bersyukur. Wayang Beber menjadi media untuk mengingat kembali perjalanan dan identitas masyarakat. Sementara tanah menjadi titik temu antara kehidupan, kebudayaan, pangan, dan masa depan.
Kebudayaan dan pertanian pada akhirnya memiliki akar yang sama: tempat di mana masyarakat hidup.
Ketika masyarakat kehilangan ruang hidupnya, bukan hanya aktivitas ekonomi yang berubah. Kebudayaan, hubungan sosial, bahkan identitas masyarakat pun berpotensi ikut terkikis.
Karena itu, menjaga lahan pertanian juga dapat dimaknai sebagai menjaga bagian dari kehidupan dan kebudayaan masyarakat.
Dari Pracimantoro, Suara Petani Bertemu Jawa Tengah
Keresahan masyarakat Pracimantoro sebenarnya bukan persoalan yang berdiri sendiri.
Di berbagai daerah Jawa Tengah, masyarakat menghadapi persoalan berbeda-beda terkait tanah, air, lingkungan, tata ruang, pembangunan, hingga keberlanjutan mata pencaharian.
Persoalannya berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: masyarakat ingin suaranya diperhitungkan dalam setiap keputusan yang menyangkut ruang hidup mereka.
Dari pengalaman berbagai wilayah tersebut kemudian tumbuh Jateng Guyub, sebuah ruang bersama yang mempertemukan suara masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
Momentum Hari Tani Nasional pada 22–24 September 2026 menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan suara-suara tersebut. Bukan semata-mata untuk mempertentangkan masyarakat dengan pembangunan. Bukan pula untuk menyamakan seluruh persoalan daerah menjadi satu isu. Melainkan untuk mengingatkan bahwa setiap kebijakan pembangunan memiliki manusia yang hidup di dalam wilayah tersebut.
Ada petani yang menggantungkan hidup pada tanah. Ada masyarakat yang bergantung pada sumber air. Ada keluarga yang mempertahankan ruang hidupnya.
Dan ada generasi muda yang berharap masih memiliki tempat untuk hidup di tanah kelahirannya.
Hari Tani Bukan Sekadar Seremoni
Bagi masyarakat Pracimantoro, keterlibatan dalam gerakan masyarakat yang lebih luas tidak berarti meninggalkan persoalan lokal. Justru pengalaman lokal dibawa ke ruang yang lebih luas.
Persoalan lahan pertanian, kawasan karst, sumber air, dan masa depan keluarga petani menjadi bagian dari percakapan mengenai arah pembangunan Jawa Tengah. Di sinilah Hari Tani Nasional mendapatkan maknanya.
Hari Tani tidak cukup hanya dengan seremoni, pidato, maupun ucapan penghormatan kepada petani. Hari Tani seharusnya menjadi momentum untuk bertanya apakah kebijakan yang dibuat hari ini benar-benar memberikan ruang bagi petani untuk hidup dan bertahan di masa depan.
Sebab petani tidak hanya membutuhkan bantuan untuk bertahan hari ini. Mereka membutuhkan jaminan bahwa tanah tempat mereka bertani masih ada untuk esok hari.
Menjaga Tanah Berarti Menjaga Pilihan Masa Depan
Bagi petani, mempertahankan tanah pada dasarnya adalah mempertahankan pilihan.
Selama masih memiliki tanah, seorang petani masih memiliki pilihan untuk menanam, menghasilkan pangan, bekerja bersama keluarganya, dan menentukan jalan hidupnya sendiri.
Tetapi ketika tanah hilang, pilihan itu ikut menyempit.
Karena itu, pesan dari Pracimantoro terasa sederhana tetapi kuat: bersyukur atas tanah yang memberi kehidupan juga berarti memiliki keberanian untuk menjaganya.
Genduren menjadi ruang untuk berkumpul.
Wayang Beber menjadi ruang untuk mengingat.
Pertanian menjadi sumber kehidupan.
Dan suara petani menjadi pengingat bahwa di balik setiap hamparan tanah terdapat manusia yang sedang memperjuangkan masa depannya.
Dari Pracimantoro, Wonogiri, suara itu kemudian bertemu dengan suara masyarakat dari berbagai penjuru Jawa Tengah.
Sebab menjaga ruang hidup bukan hanya persoalan satu desa atau satu kelompok masyarakat.
Ia adalah ikhtiar bersama agar pembangunan tetap menempatkan manusia sebagai pusatnya, pemerintah hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan wilayahnya, dan Hari Tani Nasional benar-benar menjadi momentum untuk memastikan petani masih memiliki tempat dalam masa depan Jawa Tengah.
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.














