Jakarta, Tuturpedia.com – Menjelang rencana aksi unjuk rasa yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Agustus 2026, ruang digital dan media sosial diwarnai maraknya penyebaran informasi bohong atau hoaks yang berpotensi menyesatkan masyarakat. Berbagai narasi provokatif beredar secara masif, mulai dari klaim mobilisasi massa besar-besaran hingga kabar yang menggambarkan situasi Jakarta dalam kondisi mencekam. Selasa, (25/08/2026).
Salah satu informasi yang ramai beredar menyebutkan adanya pengerahan massa dalam jumlah fantastis menuju Jakarta dari berbagai daerah. Narasi tersebut mengklaim terdapat 50 bus dari Pati, 20 bus dari Kudus, 25 bus dari Demak, 25 bus dari Blora, hingga ratusan bus dari sejumlah kota lain seperti Semarang, Ngawi, Surabaya, dan Lampung.
Namun setelah ditelusuri berdasarkan berbagai pemberitaan dan informasi resmi, klaim tersebut dipastikan tidak benar. Data yang beredar di media arus utama menunjukkan jumlah rombongan yang berangkat dari Pati jauh lebih sedikit dibanding angka yang disebarkan di media sosial, yakni diperkirakan hanya sekitar 7 hingga 10 bus. Sementara itu, tidak ditemukan bukti adanya mobilisasi besar-besaran dari daerah lain sebagaimana yang diklaim dalam narasi viral tersebut.
Tak hanya menyebarkan data yang tidak akurat, sejumlah akun juga diketahui mendaur ulang video lama untuk membangun persepsi seolah-olah terjadi gelombang kedatangan massa menuju Jakarta. Salah satu video yang beredar memperlihatkan rombongan puluhan bus disebut berangkat dari Palembang menuju ibu kota untuk mengikuti aksi demonstrasi. Setelah ditelusuri, video tersebut merupakan rekaman lama dengan konteks berbeda dan tidak berkaitan dengan agenda aksi yang akan berlangsung pada akhir Agustus 2026.
Gelombang disinformasi juga menyasar isu keamanan. Beredar kabar yang menggambarkan Jakarta berada dalam situasi genting akibat kedatangan para pendemo. Narasi tersebut kemudian memicu kekhawatiran dan kecemasan di kalangan masyarakat.
Menanggapi hal itu, Polda Metro Jaya menegaskan bahwa informasi mengenai kondisi Jakarta yang mencekam merupakan kabar bohong. Kepolisian memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah DKI Jakarta hingga saat ini tetap aman, terkendali, dan kondusif. Aktivitas masyarakat berlangsung normal tanpa gangguan berarti.
Pengamat media menilai maraknya hoaks menjelang aksi unjuk rasa menunjukkan adanya upaya sistematis dari pihak-pihak tertentu untuk memperkeruh suasana, menciptakan keresahan publik, serta menggiring opini masyarakat melalui informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi. Setiap warga diharapkan melakukan verifikasi terlebih dahulu terhadap informasi yang diterima dengan merujuk pada sumber resmi dan media yang kredibel.
Di tengah derasnya arus informasi digital, menjaga ketenangan, mengedepankan sikap kritis, serta tidak ikut menyebarkan kabar yang belum terverifikasi menjadi langkah penting dalam menjaga persatuan, keamanan, dan stabilitas nasional. Hoaks bukan hanya menyesatkan, tetapi juga berpotensi memecah belah masyarakat apabila tidak disikapi secara cerdas dan bertanggung jawab.
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.
