Blora, Tuturpedia.com – Belum genap sepekan merayakan peresmian dan melangkah masuk ke bangunan baru, para pedagang Pasar Ngawen, Kabupaten Blora, justru dibuat gigit jari. Bangunan pasar megah bernilai Rp30 miliar dari dana APBN Kementerian PUPR tersebut dinilai jauh dari kata layak dan menyusahkan tempat mereka mencari nafkah.
Pasar yang dirancang menampung hingga 924 pedagang (155 kios dan 680 los) ini berujung kekecewaan mendalam. Diharapkan menjadi sarana kebangkitan ekonomi warga setelah musibah kebakaran hebat pada 9 Januari 2024 lalu, kondisi riil di lapangan justru menunjukkan banyaknya fasilitas yang bermasalah.
Saat hujan deras mengguyur pada Minggu (01/11/2026), area los pasar langsung tergenang air akibat atap yang bocor parah. Kejadian ini memicu amarah warga dan pedagang setelah rekaman video amatir beredar luas di media sosial.
“Ngeniki piye, Lur? Banyu ra iso metu… Anggaran berpuluh-puluh miliar, kok bangunane kaya ngene. Ya Allah Gusti,” keluh perekam video meluapkan kekecewaannya di tengah lantai keramik pasar yang membasah.
Fasilitas Semrawut: Pintu Macet Hingga Token Listrik Ribet
Tidak hanya kebocoran atap yang mengganggu aktivitas jual beli, keluhan pedagang juga merembet pada berbagai fasilitas vital bangunan lainnya. Berdasarkan curahan hati netizen di media sosial, pengerjaan pasar bernilai puluhan miliar ini terkesan asal-asalan.
Akun media sosial Liem Cell mengungkapkan bahwa selain atap bocor, banyak pintu pertokoan yang sudah macet dan sulit dioperasikan padahal baru saja ditempati.
“Tp y itu… bangunan blm sampai dtempati sdh banyak minusnya. Slh 1 nya bocor tsb, pintu pertokoan banyak sekali yg macet, listrik ada beberapa yg blm ON (pakai token yg langsung dr PLN tdk bs beli mandiri via aplikasi apapun, ribet),” tulis akun tersebut.
Ia juga menambahkan rasa keprihatinannya terhadap nasib para pedagang: “Memang sungguh dsayangkan, krn berbanding terbalik dg pedagang yg sangat bersemangat memperbaiki ekonomi keluarga setelah hampir 3th terpuruk akibat kbakaran,” lanjutnya.
Kondisi tersebut langsung mengundang gelombang kritik tajam dari masyarakat luas yang mempertanyakan kualitas pengerjaan dan pengawasan proyek. Sejumlah warganet bahkan mendesak lembaga penegak hukum untuk turun tangan.
“Kakean korupsi. Blora ndak ape darurat korupsi,” tulis akun Bakso Raja Kikil.
Sementara akun Setyowati Dukuhan menambahi, “KPK mana KPK… Tlong di priksa pejabatnya.”
Desak Evaluasi dan Perbaikan Segera
Mengingat proyek rehabilitasi Pasar Ngawen ini sebelumnya sudah mengalami keterlambatan dari target pertengahan 2026 hingga terkena denda keterlambatan kontrak mendekati Rp1 miliar, buruknya kualitas bangunan saat ini memicu desakan kuat dari para pedagang.
Pedagang tidak membutuhkan kemegahan seremonial semata. Mereka mendesak Pemerintah Kabupaten Blora, dinas teknis, serta pihak pengawas untuk segera memaksa kontraktor melakukan perbaikan menyeluruh. Mulai dari pembenahan drainase dan atap, kelancaran pintu toko, hingga kemudahan akses instalasi listrik PLN.
Anggaran Rp30 miliar uang rakyat tidak seharusnya menghasilkan tempat usaha yang menyusahkan para pedagang yang sedang berjuang bangkit dari keterpurukan.
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.














