News  

Alih-alih Nyaman, Pasar Ngawen Baru Langsung Banjir dan Bocor Saat Hujan Deras, Pedagang: Piye Iki Lur?

TUTURPEDIA - Alih-alih Nyaman, Pasar Ngawen Baru Langsung Banjir dan Bocor Saat Hujan Deras, Pedagang: Piye Iki Lur?
banner 120x600

Blora, Tuturpedia.com – Harapan para pedagang untuk menempati Pasar Ngawen yang baru direhabilitasi dengan fasilitas lebih nyaman justru diwarnai kekecewaan. Belum genap sepekan digunakan, bangunan pasar tersebut sudah dikeluhkan mengalami kebocoran dan genangan air saat diguyur hujan. Minggu, (01/11/2026).

Keluhan itu mencuat setelah beredarnya rekaman video amatir di media sosial dan grup percakapan warga Blora. Dalam video tersebut terlihat air hujan merembes dan menetes dari bagian atap bangunan hingga membasahi lantai keramik di area los pasar.

Perekam video terdengar heran sekaligus kecewa melihat kondisi bangunan yang baru saja ditempati tersebut.

“Ngeniki piye, Lur? Banyu ra iso metu… Anggaran berpuluh-puluh miliar, kok bangunane kaya ngene. Ya Allah Gusti,” keluh perekam video sambil memperlihatkan genangan air dan kebocoran atap.

Padahal, Pasar Ngawen merupakan salah satu proyek rehabilitasi yang sangat dinantikan masyarakat setelah kebakaran hebat pada 9 Januari 2024 lalu. Pembangunan kembali pasar ini diharapkan mampu menghidupkan aktivitas perdagangan sekaligus memulihkan perekonomian para pedagang yang terdampak musibah.

Proyek rehabilitasi yang dikerjakan bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan melibatkan Pemerintah Kabupaten Blora tersebut menghabiskan anggaran miliaran rupiah.

Pasar baru ini menyediakan sebanyak 835 tempat usaha, terdiri atas 155 kios dan 680 los, untuk menampung sekitar 924 pedagang.

Pasar tersebut mulai diserahkan dan ditempati kembali pada Jumat Kliwon, 30 Oktober 2026. Namun, belum lama pedagang menikmati fasilitas baru, persoalan kebocoran dan genangan air justru muncul ketika hujan turun.

Kondisi ini tentu memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Bagaimana kualitas pekerjaan konstruksi bangunan yang menelan anggaran besar tersebut? Apakah sistem saluran pembuangan air dan konstruksi atap sudah diperiksa secara menyeluruh sebelum pasar diserahkan untuk digunakan?

Persoalan ini bukan sekadar soal bangunan yang bocor. Pasar merupakan tempat masyarakat menggantungkan penghidupan. Pedagang membutuhkan tempat berjualan yang aman, layak, dan nyaman, bukan justru harus khawatir barang dagangan maupun lapaknya terkena air hujan.

Karena itu, dinas terkait bersama pihak pelaksana proyek diharapkan segera melakukan pemeriksaan langsung terhadap kondisi bangunan, mengevaluasi kualitas pekerjaan, serta memperbaiki bagian yang bermasalah.

Jika ditemukan pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi, harus ada pertanggungjawaban sesuai ketentuan yang berlaku.

Jangan sampai pasar yang dibangun dengan anggaran besar justru menyisakan persoalan sejak awal digunakan. Masyarakat tentu berharap Pasar Ngawen benar-benar menjadi pusat perekonomian yang membanggakan, bukan menjadi bangunan baru yang lebih dahulu dikenal karena kebocorannya.

Untuk diketahui, Pasar Ngawen yang terbakar 9 Januari 2024 lalu itu, dibangun kembali menggunakan anggaran APBN sebesar Rp30 miliar, dengan masa pelaksanaan pekerjaan selama 240 hari kalender atau sekitar 8 bulan.

Pembangunan dimulai pada pertengahan November 2025 dan ditargetkan rampung pada Juli 2026 sesuai kontrak kerja.

Proyek tersebut semula ditargetkan selesai pada pertengahan 2026, tetapi mengalami keterlambatan hingga pekerjaan masih berlangsung setelah masa kontrak berakhir.

Hal ini diungkapkan oleh Staf Ahli Presiden Armindo Dos Santos Suarez saat datang meninjau langsung pembangunan Pasar Ngawen Blora, Kamis (17/9/2026).

Menurut Armindo, keterlambatan itu juga berkonsekuensi pada denda kontrak bagi pelaksana proyek.

“Berdasarkan hukum kontrak, apabila terlambat itu adalah denda. Teman-teman PU sudah menjalankan sesuai prosedur dan dendanya sudah hampir Rp1 miliar,” ungkap Armindo.

Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.

tuturpedia.com - 2026