Blora, Tuturpedia.com – Bisnis minyak ilegal atau yang dikenal dengan sebutan latung di Kabupaten Blora kembali memakan korban. Insiden berdarah di kawasan Pom Mini Medang Kamulyan tak hanya menyisakan luka fisik, tetapi juga membuka tabir dugaan kuat keterlibatan oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam jaringan mafia migas lokal. Minggu, (04/05/2026).
Peristiwa yang melibatkan anggota ormas Grib Jaya berinisial BLS itu memicu perhatian luas publik. Dilansir dari berbagai sumber, bahwasanya Kapolres Blora, AKBP Wawan Andi Susanto, akhirnya angkat bicara dan memastikan bahwa pihaknya akan mengusut tuntas kasus tersebut.
“Iya, sudah kami monitor. Tadi malam anggota Polsek Kota bersama Satreskrim juga langsung ke lokasi kejadian,” ujar AKBP Wawan, Sabtu (2/5).
Pernyataan itu muncul di tengah sorotan tajam terhadap aparat penegak hukum yang sebelumnya dinilai lamban menangani praktik minyak ilegal di wilayah Blora. Meski demikian, Kapolres menegaskan bahwa laporan terbaru ini tidak akan dibiarkan mengendap.
“Akan kita tindak lanjuti,” tegasnya singkat.
Bentrok Dipicu Dugaan Angkut Minyak Ilegal
Insiden bermula saat gabungan ormas, yakni Grib Jaya dan Pemuda Pancasila, berupaya menghadang truk tangki yang diduga membawa minyak ilegal dari kawasan Plantungan. Namun situasi justru memanas ketika mereka dihadang oleh seorang oknum ASN berinisial (A) yang datang bersama puluhan orang.
Alih-alih terjadi dialog, bentrokan tak terhindarkan. (A) diduga melakukan aksi kekerasan dengan menyundul pelipis korban hingga mengalami luka serius dan harus mendapat empat jahitan di RSUD Blora.
Lebih jauh, (A) disebut-sebut bukan sekadar pelaku di lapangan. Ia diduga kuat sebagai aktor intelektual sekaligus pemilik sumur minyak ilegal yang selama ini beroperasi di wilayah tersebut. Jika dugaan ini terbukti, maka kasus ini berpotensi menjadi skandal besar yang menyeret aparat negara ke dalam pusaran bisnis ilegal.
Barang Bukti Raib, Dugaan Permainan Terorganisir
Yang paling mencurigakan dalam peristiwa ini adalah hilangnya truk-truk tangki yang diduga menjadi barang bukti utama. Di tengah kekacauan, kendaraan tersebut justru dilaporkan melarikan diri kembali ke arah Plantungan.
Seorang saksi berinisial Z menyebut kejadian itu bukan kebetulan. “Truk-truk itu sengaja dilarikan saat situasi kacau. Ini seperti sudah diatur untuk menghilangkan barang bukti,” ujarnya.
Hilangnya barang bukti ini memperkuat dugaan adanya koordinasi sistematis dalam melindungi praktik ilegal yang bernilai ekonomi besar tersebut.
Kasus Menggelinding ke Polda, Kepercayaan Dipertaruhkan
Merasa penanganan di tingkat lokal belum memberikan kepastian, pihak korban berencana membawa kasus ini ke Polda Jawa Tengah. Langkah ini menjadi sinyal kuat adanya krisis kepercayaan terhadap proses hukum di daerah.
Publik kini menanti langkah konkret aparat. Komitmen Kapolres Blora AKBP Wawan Andi Susanto sedang diuji: apakah mampu membongkar jaringan mafia minyak hingga ke akar, termasuk menyeret oknum ASN yang diduga terlibat, atau justru kasus ini kembali menguap tanpa jejak.
Kasus ini tak lagi sekadar penganiayaan. Ia telah menjelma menjadi potret buram penegakan hukum di tengah gurita bisnis ilegal yang diduga melibatkan kekuatan besar.
Blora kini di persimpangan: antara keberanian menegakkan hukum, atau tunduk pada bayang-bayang mafia minyak yang kian berani.














