Bagaimana Jika “Kebrutalan” Argentina di Final Piala Dunia 2026 Disandingkan dengan Berbagai Lukisan Klasik?

TUTURPEDIA - Bagaimana Jika “Kebrutalan” Argentina di Final Piala Dunia 2026 Disandingkan dengan Berbagai Lukisan Klasik?
banner 120x600

Tuturpedia.com — Ada pertandingan sepak bola yang dikenang karena golnya. Ada pula yang diingat karena permainan indahnya. Namun, final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol tampaknya akan memiliki tempat lain dalam ingatan publik: sebagai pertandingan yang tidak hanya menghasilkan juara baru, tetapi juga meninggalkan sejumlah gambar tentang benturan, emosi, dan keributan.

Spanyol keluar sebagai juara setelah mengalahkan Argentina 1-0 melalui gol Ferran Torres pada babak tambahan waktu. Kemenangan itu sekaligus menggagalkan upaya Argentina mempertahankan gelar yang mereka raih pada 2022 (20/07).

Namun, cerita final tidak berhenti ketika bola masuk ke gawang. Setelah peluit panjang berbunyi, ketegangan yang terakumulasi sepanjang pertandingan pecah. Sejumlah pemain terlibat perselisihan, termasuk Leandro Paredes dan Gavi. Keributan kemudian berkembang menjadi konfrontasi antarpemain dan staf.

Di tengah riuhnya pembicaraan mengenai laga tersebut, muncul sebuah cara pandang yang tidak biasa di media sosial. Beberapa foto dari final Argentina versus Spanyol disandingkan dengan lukisan-lukisan klasik yang dibuat berabad-abad silam.

Bukan karena ada hubungan langsung antara para pesepak bola dan seniman tersebut. Bukan pula karena para pemain sedang “memerankan” karya seni tertentu.

Kemiripannya hanya terletak pada momen, gestur tubuh, komposisi visual, dan kekacauan yang tertangkap kamera.

TUTURPEDIA - Bagaimana Jika “Kebrutalan” Argentina di Final Piala Dunia 2026 Disandingkan dengan Berbagai Lukisan Klasik?

Hasilnya justru menarik, seolah-olah beberapa detik paling brutal dalam final Piala Dunia 2026 keluar dari kanvas sejarah seni dan hidup kembali di lapangan sepak bola.

Jika lukisan klasik mengabadikan drama manusia di atas kanvas, kamera olahraga melakukannya dalam sepersekian detik.

Perbandingan paling mencolok dalam unggahan tersebut sebenarnya berasal dari satu rangkaian keributan yang sama.

Foto pertama memperlihatkan Leandro Paredes dan Gavi dalam sebuah konfrontasi setelah pertandingan. Paredes tampak menjatuhkan atau membanting Gavi ke tanah. Tubuh Gavi yang berada di bawah, sementara Paredes berada di atasnya, menciptakan komposisi yang secara visual mengingatkan pada The Martyrdom of Saint Bartholomew karya Jusepe de Ribera.

TUTURPEDIA - Bagaimana Jika “Kebrutalan” Argentina di Final Piala Dunia 2026 Disandingkan dengan Berbagai Lukisan Klasik?

Ribera merupakan salah satu pelukis penting dalam tradisi Barok Spanyol. Karya The Martyrdom of Saint Bartholomew yang dibuat pada 1644 menggambarkan Santo Bartolomeus dalam adegan kemartiran yang intens. Tubuh manusia menjadi pusat drama, sementara figur-figur lain mengelilinginya dalam sebuah komposisi yang sarat ketegangan.

Lukisan tersebut tentu memiliki konteks religius yang sama sekali berbeda dengan sebuah keributan di lapangan sepak bola. Namun, secara visual, persamaannya terasa kuat, satu tubuh berada dalam posisi paling rentan, sementara sosok lain berada di atasnya dan menguasai ruang dalam adegan.

Ribera menggunakan kuas, cahaya, dan ekspresi untuk menciptakan ketegangan. Fotografer olahraga hanya membutuhkan satu momen. Bedanya, Barok membutuhkan kanvas. Sepak bola hanya membutuhkan satu benturan yang tertangkap kamera pada waktu yang tepat.

Namun, kamera belum selesai bercerita. Foto kedua masih berasal dari insiden yang sama antara Paredes dan Gavi, tetapi diambil dari sudut berbeda. Kali ini, perhatian justru tertuju pada tangan Paredes yang terlihat berada di sekitar wajah Gavi.

TUTURPEDIA - Bagaimana Jika “Kebrutalan” Argentina di Final Piala Dunia 2026 Disandingkan dengan Berbagai Lukisan Klasik?

Adegan itu kemudian disandingkan dengan Les Femmes se battant karya Louis-Léopold Boilly, sebuah lukisan yang menampilkan sejumlah perempuan dalam sebuah perkelahian.

Jika perbandingan dengan Ribera menonjolkan posisi tubuh, maka karya Boilly terasa lebih dekat pada gerakan tangan dan kekacauan fisik, Dua foto, Satu insiden, Dua lukisan. Dan di situlah permainan visualnya menjadi menarik.

Sebuah keributan yang berlangsung hanya dalam hitungan detik ternyata memiliki cukup banyak sudut untuk menghasilkan dua “karya seni” yang berbeda.

Dalam kedua gambar, perhatian mata tidak langsung tertuju pada satu orang. Pandangan justru bergerak dari satu tangan ke tangan lain, dari satu tubuh ke tubuh lain, mencoba membaca siapa yang sedang melakukan apa.

Lukisan Boilly menangkap kekacauan dalam sebuah adegan yang dibangun di atas kanvas. Fotografi olahraga menangkap kekacauan yang benar-benar terjadi di depan kamera. Keduanya sama-sama membekukan satu momen. Hanya saja, para pelukis klasik membutuhkan waktu berbulan-bulan. Fotografer olahraga hanya memiliki sepersekian detik.

Jika dua gambar pertama berasal dari satu insiden setelah pertandingan, foto ketiga memiliki cerita yang berbeda.

Kali ini, bukan Paredes dan Gavi. Foto tersebut menangkap momen ketika Enzo Fernández melakukan pelanggaran keras terhadap Pau Cubarsí. Insiden itu terjadi saat pertandingan masih berlangsung dan kemudian berujung pada kartu kuning kedua bagi Fernández. Argentina pun harus menyelesaikan pertandingan dengan 10 pemain. Foto tersebut disandingkan dengan Mephisto karya Joaquín Espalter y Rull.

TUTURPEDIA - Bagaimana Jika “Kebrutalan” Argentina di Final Piala Dunia 2026 Disandingkan dengan Berbagai Lukisan Klasik?

Dibanding dua perbandingan sebelumnya, kemiripannya mungkin lebih bersifat teatrikal. Tubuh yang terpelanting, posisi kaki yang tidak beraturan, serta gestur pemain menciptakan sebuah komposisi yang terasa seperti potongan adegan dari sebuah pertunjukan panggung.

Namun, konteksnya penting. Jika dua foto pertama menggambarkan keributan setelah pertandingan, foto ketiga justru terjadi ketika pertandingan masih berlangsung. Pelanggaran Fernández terhadap Cubarsí menjadi salah satu momen penting pada fase akhir pertandingan, sebelum Spanyol akhirnya memastikan kemenangan melalui gol Ferran Torres di babak tambahan waktu.

Dan internet melakukan apa yang paling sering dilakukannya yakni mengambil sebuah momen, melepaskannya dari konteks beberapa detik, lalu memberinya kehidupan baru. Kali ini, kehidupan baru itu datang dalam bentuk lukisan.

Ketika Fotografi Olahraga Bertemu Seni Klasik

Tentu, menyandingkan adegan pertandingan dengan lukisan klasik bukan berarti menyamakan konteks kedua peristiwa.

Tidak ada hubungan historis antara Paredes dan Ribera, Gavi dan Boilly, ataupun Fernández dan Espalter. Kemiripan yang muncul adalah permainan visual, sebuah kebetulan komposisi yang menjadi menarik karena sejarah seni dan fotografi olahraga sama-sama memiliki satu obsesi yakni untuk mengabadikan gerak tubuh manusia.

Sejak berabad-abad lalu, pelukis mencoba menangkap manusia dalam keadaan ekstrem, ketika seseorang jatuh, melawan, berlari, diserang, atau berada dalam situasi penuh tekanan.

Fotografi olahraga melakukan hal serupa dengan cara yang jauh lebih cepat. Satu tombol kamera, Satu per seribu detik. Lalu, tiba-tiba, seorang pesepak bola yang terjatuh di rumput terlihat seperti figur dalam lukisan Barok.

Di sinilah letak keunikan perbandingan tersebut. Sepak bola modern dimainkan di stadion dengan teknologi canggih, disaksikan jutaan penonton, dan direkam dari berbagai sudut kamera. Namun, ketika satu frame dipisahkan dari konteksnya, gambar itu bisa terlihat seperti sesuatu yang berasal dari abad lain. Ada ironi kecil di sana. Para pelukis klasik menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menciptakan satu adegan dramatis. Fotografer olahraga hanya membutuhkan sepersekian detik.

Dan pada final Piala Dunia 2026, sepersekian detik itu kebetulan terjadi ketika sepak bola sedang menunjukkan wajahnya yang paling kacau. Pada akhirnya, sejarah akan mencatat final tersebut dengan angka yang sederhana, Spanyol 1, Argentina 0.

Nama Ferran Torres akan dikenang sebagai pencetak gol kemenangan. Spanyol mengangkat trofi. Argentina pulang sebagai runner-up. Namun, di internet, mungkin ada arsip visual lain yang ikut bertahan.

Ada Paredes dan Gavi, yang dalam dua foto dari satu keributan yang sama seolah-olah keluar dari dua lukisan klasik. Ada Enzo Fernández dan Cubarsí, yang menjadi gambaran lain dari kerasnya pertandingan sebelum kartu merah.

Dan ada kamera yang, tanpa pernah berniat menjadi pelukis, berhasil menangkap semuanya dalam satu frame. Sebab, jika “kebrutalan” Argentina di final Piala Dunia 2026 memang harus dijadikan karya seni, barangkali kanvasnya sudah tersedia.

Tinggal menunggu kamera menekan tombol rana. Jika lukisan klasik mengabadikan kebrutalan manusia di atas kanvas, maka sepak bola modern melakukannya dalam resolusi 4K.***

Penulis: Rizal Akbar
Editor: Permadani T.

tuturpedia.com - 2026