Blora, Tuturpedia.com — Gelombang tuntutan kepastian dari para petani tebu kembali menguat. Dalam aksi yang digelar di depan Pabrik Gula GMM, suara petani kian tegas: mereka tidak lagi membutuhkan janji, melainkan kejelasan waktu penyelesaian persoalan yang tengah dihadapi. Senin, (01/06/2026).
Perwakilan peserta aksi, Exi Wijaya, dalam orasinya menegaskan bahwa ketidakpastian justru menjadi ancaman terbesar bagi petani saat ini.
Menurutnya, kajian yang dilakukan pihak perusahaan harus dibarengi dengan target waktu yang jelas agar petani dapat menentukan langkah terhadap tanaman tebu yang telah memasuki masa panen.
“Kawan-kawan ini butuh kepastian jawaban. Kalau perlu kajian, itu kira-kira waktunya berapa lama lagi. Satu atau dua minggu lagi, itu yang kita tunggu,” tegas Exi di hadapan massa aksi.
Ia menekankan, waktu menjadi faktor krusial dalam sektor pertanian tebu. Tanaman yang sudah siap panen tidak bisa dibiarkan terlalu lama di lahan karena berisiko mengalami penurunan kualitas.
Jika hal tersebut terjadi, maka dampaknya langsung dirasakan petani melalui turunnya nilai jual tebu.
“Kondisi ini sangat merugikan petani. Tebu yang sudah matang itu ada batas waktunya. Kalau terlambat dipanen atau tidak segera masuk ke pabrik, kualitasnya turun dan otomatis harga juga ikut turun,” imbuhnya.
Situasi tersebut membuat petani berada dalam posisi serba sulit. Di satu sisi mereka telah mengeluarkan biaya produksi yang tidak sedikit, mulai dari pengolahan lahan, bibit, hingga perawatan.
Namun di sisi lain, hasil panen yang seharusnya menjadi sumber pengembalian modal justru terancam merugi akibat ketidakpastian penyerapan.
Para petani pun kini menaruh harapan besar pada tim gabungan yang telah dibentuk oleh PG GMM bersama Bulog.
Tim tersebut diharapkan tidak hanya menjadi formalitas, tetapi benar-benar bekerja cepat dan menghasilkan keputusan konkret.
“Kami berharap tim ini segera turun, bekerja, dan memberikan hasil. Jangan sampai petani terus menunggu tanpa kepastian. Nasib panen kami ada di sini,” ujar Exi.
Aksi ini menjadi gambaran nyata kegelisahan petani di tengah persoalan tata kelola penyerapan tebu. Mereka berharap ada langkah cepat dan terukur dari pihak terkait agar polemik ini tidak berlarut-larut.
Jika tidak segera ditangani, bukan hanya kerugian ekonomi yang mengancam, tetapi juga kepercayaan petani terhadap sistem kemitraan dengan pabrik gula bisa semakin menurun.
Kini, semua mata tertuju pada langkah tim gabungan PG GMM dan Bulog. Waktu terus berjalan, sementara tebu di lahan menunggu keputusan—apakah akan segera dipanen dengan harga layak, atau justru kehilangan nilainya akibat keterlambatan yang tak kunjung terjawab.















