Blora, Tuturpedia.com – Mengenalkan alam dan satwa kepada anak tidak harus jauh-jauh pergi ke kebun binatang di kota besar. Di tengah rindangnya hutan jati Kabupaten Blora, terdapat sebuah destinasi edukasi alternatif yang sangat ramah keluarga, yakni Kawasan Penangkaran Rusa Tlogotuwung.
Destinasi yang terletak di Petak 32 Hutan Wengkon, Desa Tlogotuwung, Kecamatan Randublatung ini menyimpan potensi besar sebagai magnet baru pariwisata daerah. Namun sayangnya, mutiara tersembunyi ini masih terkendala oleh klasik-nya permasalahan infrastruktur: akses jalan yang rusak.
Berdasarkan pantauan awak media ini di lapangan pada Jumat (22/05/2026), jalur utama menuju lokasi penangkaran rusa masih memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan.
Walau sebagian titik telah tersentuh pembangunan berupa jalan cor beton, namun beberapa ruas jalan penghubung di wilayah Tlogotuwung masih berupa jalan tanah berbatu (makadam) yang berlubang, bergelombang, dan rawan menjadi kubangan lumpur saat diguyur hujan.
Kondisi ini dikeluhkan karena dinilai menghambat kenyamanan dan keselamatan para pengendara yang melintas.
Yunia, salah seorang wisatawan asal Blora Kota yang sengaja datang bersama buah hatinya, menyayangkan kondisi infrastruktur tersebut.
Menurutnya, Penangkaran Rusa Tlogotuwung memiliki nilai edukasi yang sangat tinggi bagi anak-anak untuk mengenal satwa sejak dini langsung di habitat alaminya. Namun, perjalanan yang harus ditempuh cukup menguras energi akibat guncangan di sepanjang jalan yang rusak.
“Tempatnya sangat bagus, asri, dan mendidik untuk anak-anak. Tapi akses jalannya masih menantang sekali karena banyak yang berlubang. Saya sangat berharap dalam waktu dekat ini Pemerintah Kabupaten Blora segera menuntaskan perbaikan jalan yang masih rusak di wilayah Tlogotuwung ini,” ujar Yunia saat ditemui di lokasi penangkaran.
Urat Nadi Ekonomi Warga Setempat
Desakan perbaikan infrastruktur jalan ini tidak hanya datang dari sektor pariwisata. Jalan yang membelah kawasan hutan jati ini sejatinya merupakan urat nadi perekonomian utama bagi warga Desa Tlogotuwung dan sekitarnya.
Sehari-hari, jalur tersebut digunakan oleh masyarakat setempat untuk mengangkut hasil pertanian, mobilitas perdagangan, serta akses anak-anak menuju sekolah.
Tampak kendaraan-kendaraan besar maupun truk angkutan barang harus berjalan ekstra hati-hati saat melintasi jalur yang belum merata pembangunannya tersebut. Lambatnya arus transportasi akibat jalan rusak secara langsung berdampak pada pembengkakan biaya logistik dan waktu tempuh para petani serta pelaku usaha lokal.
Yunia menambahkan, penuntasan pembangunan jalan ini memiliki efek domino yang luar biasa bagi kemajuan daerah. Jika akses jalan mulus, kunjungan wisatawan dipastikan akan melonjak tajam, yang mana hal itu akan menghidupkan sektor UMKM di sekitar tempat wisata.
“Hal ini sangat penting. Selain demi mendukung kenyamanan tempat wisata agar makin ramai dikunjungi, infrastruktur yang layak adalah kunci utama agar akses ekonomi warga setempat bisa berjalan lancar dan bertumbuh pesat,” tambahnya secara normatif menekankan pentingnya kehadiran pemerintah daerah.
Masyarakat kini menaruh harapan besar kepada para pemangku kepentingan (stakeholders) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Blora—Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), hingga jajaran legislatif—untuk memberikan perhatian khusus dan memprioritaskan kelanjutan pengaspalan atau pengecoran jalan di wilayah Tlogotuwung pada tahun anggaran berjalan.
Konektivitas yang baik di wilayah pinggiran hutan ini diyakini tidak hanya akan memajukan destinasi wisata edukasi berbasis lingkungan, tetapi juga menjadi stimulan utama dalam mewujudkan pemerataan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Blora secara menyeluruh.














