Tuturpedia.com – Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, meninggal dunia pada Senin (2/3) setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Soebroto. Kabar duka ini menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang prajurit yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk negara, dari medan militer hingga kursi wakil presiden.
Try Sutrisno lahir di Surabaya, 15 November 1935. Ia tumbuh dalam generasi awal republik, ketika stabilitas negara masih rapuh dan militer menjadi salah satu pilar utama penjaga kedaulatan. Pendidikan militernya ditempuh di Akademi Teknik Angkatan Darat (1956–1959), sebuah fondasi yang membentuk karakter teknokrat sekaligus prajurit lapangan.
Kariernya menanjak perlahan namun pasti. Pada 1974, ia dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto. Posisi ini bukan sekadar jabatan protokoler, melainkan pintu masuk ke lingkaran strategis kekuasaan Orde Baru. Delapan tahun berselang, ia menjabat Panglima Kodam Jaya (1982), wilayah yang menjadi barometer stabilitas nasional.
Puncak karier militernya tercapai saat ia diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (1986–1988), lalu Panglima ABRI (1988–1993). Di masa itu, ABRI (yang kini menjadi TNI) memegang peran sentral dalam politik dan keamanan nasional. Kepemimpinan Try dikenal tegas, disiplin, namun relatif rendah profil di ruang publik.
Pada 1993, Majelis Permusyawaratan Rakyat memilihnya sebagai Wakil Presiden RI mendampingi Soeharto untuk periode 1993–1998. Ia menjadi figur militer yang dipercaya mengisi posisi sipil tertinggi kedua di republik ini. Masa jabatannya berlangsung dalam periode penuh dinamika, hingga akhirnya berakhir seiring tumbangnya Orde Baru pada 1998.
Selepas lengser dari jabatan wakil presiden, Try tidak sepenuhnya meninggalkan ruang pengabdian. Ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan kebangsaan. Pada 2022, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) periode 2022–2027—sebuah peran simbolik sekaligus strategis dalam menjaga fondasi ideologis negara.
Sejumlah sumber resmi seperti Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), dokumentasi Sekretariat Negara, serta publikasi biografis TNI mencatat kiprah Try Sutrisno sebagai salah satu perwira penting dalam transisi generasi militer Indonesia era 1970–1990-an. Jejaknya juga terekam dalam risalah Sidang Umum MPR 1993 yang menetapkannya sebagai wakil presiden.
Kepergiannya menutup satu bab penting sejarah Indonesia modern, bab tentang militer, stabilitas, dan transformasi politik. Di tengah perdebatan panjang tentang peran dwifungsi ABRI dan dinamika Orde Baru, nama Try Sutrisno berdiri sebagai bagian tak terpisahkan dari periode itu.
Ia mungkin bukan figur yang gemar tampil di panggung wacana. Namun dalam senyap, ia menempuh lintasan pengabdian yang panjang dari Surabaya, barak militer, Istana Negara, hingga ruang-ruang pembinaan ideologi bangsa.
Selamat jalan, Jenderal. Republik mencatat namamu dalam lembar sejarahnya.***
















