Mulai dari Pelatih Tim Besar hingga Kepala Tim F1, Inilah Pekerjaan Kepelatihan Tersulit di Dunia Olahraga

TUTURPEDIA - Mulai dari Pelatih Tim Besar hingga Kepala Tim F1, Inilah Pekerjaan Kepelatihan Tersulit di Dunia Olahraga
banner 120x600

Tuturpedia.com — Menjadi pelatih di level elite bukan sekadar soal taktik dan strategi. Di balik sorotan kamera, ada tekanan publik, ekspektasi manajemen, tuntutan suporter, hingga ego ruang ganti yang harus dikelola setiap hari. Tak heran jika sejumlah posisi kepelatihan dinilai sebagai yang paling sulit di dunia olahraga.

Berdasarkan jajak pendapat pembaca media olahraga Inggris The Athletic, posisi Pelatih Tim Nasional Sepak Bola Pria Inggris menempati urutan teratas sebagai pekerjaan kepelatihan tersulit, dengan 15,7 persen suara. Tingginya ekspektasi publik di negara yang mengklaim diri sebagai “rumah sepak bola” menjadi faktor utama.

Sejak menjuarai Piala Dunia 1966, Inggris belum lagi mengangkat trofi turnamen besar. Setiap pelatih dari era Sir Alf Ramsey hingga generasi modern, selalu dibebani harapan untuk mengakhiri penantian panjang tersebut. Tekanan media Inggris yang dikenal agresif serta kultur sepak bola domestik yang kompetitif membuat kursi pelatih timnas kerap terasa panas bahkan sebelum turnamen dimulai.

TUTURPEDIA - Mulai dari Pelatih Tim Besar hingga Kepala Tim F1, Inilah Pekerjaan Kepelatihan Tersulit di Dunia Olahraga

Di posisi berikutnya, pelatih klub-klub raksasa Eropa juga masuk daftar teratas. Pelatih Manchester United meraih 12,9 persen suara, disusul pelatih Real Madrid dengan 12,8 persen. Dua klub ini bukan sekadar tim sepak bola, melainkan institusi global dengan sejarah panjang dan basis penggemar lintas benua.

Di Manchester United, bayang-bayang era Sir Alex Ferguson masih terasa hingga kini. Setiap pelatih baru kerap dibandingkan dengan masa kejayaan tersebut. Sementara di Real Madrid, budaya “menang sekarang” menjadi hukum tak tertulis. Trofi bukan target jangka panjang, melainkan kewajiban setiap musim.

Dari Amerika Serikat, pelatih New York Jets (11,6 persen) dan Toronto Maple Leafs (6 persen) turut disebut. Di NFL dan NHL, tekanan tak kalah besar. Jets belum meraih Super Bowl sejak 1969, sedangkan Maple Leafs terakhir kali menjuarai Stanley Cup pada 1967. Tradisi panjang tanpa gelar justru memperbesar ekspektasi.

Menariknya, daftar ini tidak hanya didominasi sepak bola. Pelatih Tim Nasional Sepak Bola Pria Brasil (5,9 persen) juga dinilai sarat tekanan. Dengan lima gelar Piala Dunia dan identitas nasional yang melekat pada sepak bola, publik Brasil menuntut gaya bermain indah sekaligus kemenangan.

Dari lintas cabang olahraga, posisi Team Principal Ferrari di Formula 1 memperoleh 4,7 persen suara. Ferrari bukan sekadar tim balap, melainkan simbol kebanggaan Italia. Setiap kegagalan di lintasan kerap menjadi perdebatan nasional. Tekanan politik internal dan ekspektasi tifosi menjadikan jabatan ini penuh risiko.

Di Major League Baseball, pelatih New York Yankees (4,7 persen) menghadapi tekanan serupa. Sebagai tim tersukses dalam sejarah MLB, standar juara adalah harga mati. Sementara itu, pelatih kriket India (3,8 persen) memikul beban dari salah satu basis penggemar olahraga terbesar di dunia. Di negara dengan lebih dari satu miliar penduduk, kriket bukan sekadar olahraga, melainkan identitas kolektif.

Posisi pelatih Tottenham Hotspur (3,8 persen) juga masuk daftar. Meski tidak seprestisius beberapa klub lain, Spurs kerap berada dalam pusaran ekspektasi untuk bersaing di papan atas Liga Inggris tanpa selalu memiliki stabilitas jangka panjang.

Survei ini menunjukkan satu benang merah: semakin besar sejarah dan basis penggemar sebuah tim, semakin berat pula tekanan terhadap pelatihnya. Di era media sosial, setiap keputusan taktik dapat diperdebatkan secara global dalam hitungan menit.

Secara struktural, tekanan terhadap pelatih elite juga tercermin dalam tingginya angka pergantian pelatih di berbagai liga top Eropa dan Amerika Utara. Studi CIES Football Observatory dan laporan tahunan liga-liga utama menunjukkan bahwa masa jabatan pelatih semakin singkat dibandingkan dua dekade lalu. Stabilitas menjadi kemewahan.

Pada akhirnya, jabatan pelatih di level tertinggi adalah kombinasi antara kepemimpinan, manajemen krisis, diplomasi, dan tentu saja hasil di lapangan. Ketika menang, pelatih dipuji sebagai jenius. Ketika kalah, ia menjadi pihak pertama yang dimintai pertanggungjawaban.

Daftar versi pembaca The Athletic ini mungkin bersifat subjektif, namun ia merefleksikan realitas yang tak terbantahkan bahwa di olahraga modern, kursi pelatih adalah salah satu pekerjaan paling menegangkan di dunia.***

tuturpedia.com - 2026