Semarang, Tuturpedia.com — Layanan transportasi publik Trans Jateng terus menunjukkan performa positif di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Tingkat keterisian penumpang (load factor) kini menembus angka lebih dari 110 persen, sementara penggunaan sistem pembayaran nontunai ikut mengalami peningkatan.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah Arief Djatmiko menyebut, capaian tersebut tak lepas dari peran ratusan petugas Trans Jateng yang setiap hari melayani masyarakat. Saat ini, terdapat 566 petugas yang bertugas di tujuh koridor, dengan sekitar 41 persen di antaranya berasal dari keluarga prasejahtera.

“Ini bukan hanya soal angka, tapi tentang dedikasi para petugas di lapangan,” ujar Arief, Jumat (6/2/2026).
Sebagai bentuk apresiasi, Dishub Jateng menggelar evaluasi kinerja dan memberikan penghargaan kepada kru berprestasi. Sebanyak 33 petugas terbaik dari berbagai kategori menerima penghargaan dalam acara yang digelar di Aula Dishub Jateng, akhir pekan lalu.
Arief menegaskan, evaluasi ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan transportasi publik. Menurutnya, transportasi yang andal berperan penting dalam mendukung mobilitas masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, sekaligus membangun kepercayaan publik terhadap layanan pemerintah.
Penilaian dilakukan secara menyeluruh, mencakup petugas administrasi, timer, pengawas perjalanan angkutan (PPA), hingga pramujasa. Aspek yang dinilai antara lain kedisiplinan, kinerja sesuai tugas, serta kontribusi terhadap peningkatan kualitas layanan, termasuk dorongan penggunaan transaksi nontunai.
Selain petugas, Dishub Jateng juga menilai kinerja rute Trans Jateng terbaik. Indikatornya meliputi tingkat keterisian penumpang, pertumbuhan transaksi cashless, pendapatan tiket, jumlah aduan masyarakat, keterlibatan dalam program edukasi transportasi (edutrip), hingga keaktifan promosi di media sosial.
Data Balai Transportasi Jawa Tengah mencatat, sejak pertama beroperasi pada 2017 hingga 2025, jumlah penumpang Trans Jateng telah mencapai lebih dari 45,5 juta orang. Khusus sepanjang 2025, pengguna layanan ini tercatat menembus angka 10,24 juta penumpang.
Peningkatan minat masyarakat ini juga didukung kebijakan tarif murah dari Gubernur Ahmad Luthfi, yang menetapkan ongkos khusus sebesar Rp1.000 bagi buruh, pelajar, dan veteran.
Sejalan dengan perkembangan teknologi, transaksi nontunai di Trans Jateng juga terus tumbuh. Pada 2025, penggunaan pembayaran cashless mencapai 8,72 persen, didominasi QRIS sebesar 5,98 persen, disusul metode tapping 2,41 persen, serta aplikasi Si Anteng 0,34 persen.
Pengguna pembayaran non tunai mayoritas berasal dari penumpang umum (62,06 persen), diikuti pelajar, buruh, lansia, difabel, dan veteran.
Tak hanya melayani perjalanan reguler, Trans Jateng juga aktif mendukung kegiatan edutrip bagi pelajar. Sepanjang 2025, tercatat lebih dari 11 ribu perjalanan edukasi di seluruh koridor.
Arief berharap, penghargaan yang diberikan dapat menjadi pemantik semangat bagi para petugas untuk terus meningkatkan kualitas layanan.
“Kami ingin Trans Jateng tumbuh sebagai transportasi publik yang ramah, aman, dan profesional, sekaligus menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat Jawa Tengah,” pungkasnya.***
Kontributor Jawa Tengah: Rizal Akbar















