Blora, Tuturpedia.com — Tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Blora, Jawa Tengah, kembali harus turun tangan menangani tumpahan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang tercecer di badan jalan. Jumat, (02/10/2026).
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena tumpahan solar di jalan raya bukan sekadar mengotori aspal. Lapisan minyak yang licin dapat membuat kendaraan, terutama sepeda motor, kehilangan kendali dan berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas.
Dalam penanganan kali ini, petugas Damkar terlihat bekerja ekstra. Dengan menggunakan semprotan air dan peralatan pembersih, petugas berupaya menghilangkan sisa solar yang menempel di permukaan jalan agar tidak membahayakan pengguna jalan.
Petugas bahkan harus melakukan penyemprotan dan pembersihan berulang di sejumlah titik yang terkena tumpahan.
Kondisi ini kembali memunculkan pertanyaan: sampai kapan persoalan tumpahan solar di jalan harus berujung pada Damkar yang turun tangan?
Persoalan tersebut dinilai perlu mendapatkan perhatian lebih serius dari pihak-pihak yang berkaitan dengan distribusi maupun penggunaan kendaraan pengangkut BBM dan bahan bakar. Sebab, ketika solar tercecer di jalan, risikonya langsung berhadapan dengan masyarakat pengguna jalan.
Terlebih, wilayah Kabupaten Blora memiliki sejumlah jalur yang cukup padat dilalui kendaraan berat maupun kendaraan pengangkut berbagai komoditas.
Jangan Tunggu Ada Korban
Tumpahan solar di jalan dapat menciptakan permukaan aspal yang sangat licin. Bagi pengendara sepeda motor, kondisi tersebut bisa menjadi jebakan berbahaya, khususnya ketika pengendara tidak mengetahui adanya tumpahan.
Motor yang melintas kemudian melakukan pengereman atau menikung di atas permukaan yang terkena solar dapat kehilangan traksi dan tergelincir. Persoalannya, tumpahan tersebut sering kali tidak langsung terlihat jelas oleh pengguna jalan.
Karena itu, penanganan cepat memang penting. Namun, penanganan setelah solar tumpah seharusnya bukan menjadi satu-satunya solusi. Pencegahan harus diperkuat.
Peristiwa serupa sebelumnya juga pernah menjadi sorotan di wilayah Kecamatan Cepu. Dalam kejadian yang diberitakan sebelumnya, warga mengalami kecelakaan setelah terdapat tumpahan solar di jalan dan korban dilaporkan meninggal dunia.
Keterkaitan langsung antara tumpahan solar dan penyebab kecelakaan tentunya harus berdasarkan hasil pemeriksaan pihak berwenang. Namun, kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa tumpahan BBM di jalan tidak boleh dianggap persoalan sepele.
Satu titik solar yang tercecer bisa berarti ancaman keselamatan bagi puluhan hingga ratusan pengguna jalan yang melintas.
Damkar Jangan Terus Jadi “Pemadam” Persoalan Solar
Turunnya Damkar untuk membersihkan tumpahan solar patut diapresiasi. Petugas bekerja di lapangan untuk memastikan jalan kembali aman dilalui. Namun di sisi lain, kondisi ini juga harus menjadi bahan evaluasi. Damkar memiliki tugas penanganan kebakaran dan keadaan darurat lainnya.
Ketika petugas harus berulang kali turun membersihkan tumpahan solar, tentu diperlukan evaluasi mengenai mengapa tumpahan tersebut bisa terjadi dan bagaimana agar tidak berulang.
Jangan sampai pola yang terjadi selalu sama:
solar tumpah → jalan licin → masyarakat terancam → Damkar turun → jalan dibersihkan → persoalan selesai sementara → kemudian terulang kembali.
Kalau pola itu terus terjadi, maka yang perlu diperkuat bukan hanya respons petugas di lapangan, tetapi juga pengawasan dan penindakan terhadap sumber persoalannya.
Pemeriksaan terhadap kendaraan yang mengangkut BBM, kondisi tangki, sistem pengamanan muatan, hingga prosedur ketika terjadi kebocoran perlu menjadi perhatian.
Harus Ada Langkah Tegas
Pemerintah daerah bersama aparat terkait diharapkan tidak hanya menunggu laporan ketika solar sudah tercecer di jalan.
Perlu ada langkah pencegahan dan pengawasan yang lebih tegas, terutama di jalur-jalur yang rawan dilalui kendaraan pengangkut BBM.
Jika ditemukan kelalaian yang menyebabkan bahan bakar tercecer dan membahayakan pengguna jalan, mekanisme penanganan sesuai ketentuan harus dijalankan. Sebab, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas.
Di tengah kondisi kemarau yang juga masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah Jawa Tengah, air menjadi sumber daya yang sangat dibutuhkan masyarakat. Namun pada saat yang sama, air juga kembali digunakan oleh petugas Damkar untuk membersihkan jalan akibat tumpahan solar.
Situasi tersebut menjadi ironi tersendiri.
Di satu sisi pemerintah berjibaku mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan. Di sisi lain, petugas harus bekerja ekstra menggunakan air untuk membersihkan tumpahan bahan bakar agar jalan kembali aman.
Karena itu, pencegahan jauh lebih penting daripada sekadar penanganan setelah kejadian. Jangan menunggu korban berikutnya jatuh. Tumpahan solar di jalan bukan sekadar persoalan kotor atau licin. Ini menyangkut keselamatan pengguna jalan. Dan kalau sudah berulang kali terjadi, evaluasi serta langkah tegas tidak boleh terus ditunda.
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.














