Lampung, Tuturpedia.com — Suasana hangat terasa di Balai Desa Bagelen, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung, saat Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi berkunjung ke permukiman transmigran asal Jateng, Rabu, 7 Januari 2026. Puluhan warga menyambut kedatangannya dengan penuh keakraban, layaknya menyambut keluarga sendiri.
Percakapan berbahasa Jawa mengalir sepanjang pertemuan. Sekilas, suasananya terasa seperti berada di sebuah desa di Jawa Tengah. Maklum, mayoritas penduduk Desa Bagelen merupakan keturunan suku Jawa yang telah menetap di Lampung selama beberapa generasi.

Sejarah desa ini bermula lebih dari seabad lalu. Sekitar tahun 1905, puluhan warga dari wilayah Kedu Selatan, Jawa Tengah, dikirim ke Lampung oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Mereka membuka lahan dan membangun permukiman yang kini dikenal sebagai Desa Bagelen. Program transmigrasi tersebut kemudian berlanjut pada 1906 hingga 1908 dan menjangkau wilayah lain di Lampung.
Salah satu warga, Warkim Prawiroatmojo, menceritakan bahwa nama Bagelen diambil dari daerah asal leluhur mereka di Jawa Tengah, yang juga dikaitkan dengan sosok tokoh bernama Nyi Bagelen. Sejak awal berdirinya desa, adat dan tradisi Jawa tetap dijaga dan diwariskan hingga sekarang.

“Mbah saya asalnya dari Kedu Selatan, sekarang wilayah Purworejo. Ada yang dari Semawung, Borok, Wonoroto. Dulu dikenal dengan sebutan Nyai Bagelen atau Nyai Roro Timur. Supaya tetap rukun, warga keturunan Jawa di Sumatera kemudian membentuk paguyuban Pujakesuma,” tuturnya.
Warkim pun mengaku senang dan bangga karena Gubernur Jawa Tengah berkenan datang langsung menyapa warga Desa Bagelen.

Hal senada disampaikan Tito, warga lainnya. Ia menyebut kunjungan Ahmad Luthfi sebagai bentuk perhatian dan pengakuan bahwa warga transmigran tetap dianggap bagian dari keluarga besar Jawa Tengah.
“Kami merasa seperti disambangi saudara jauh. Harapannya, ke depan bisa terjalin kerja sama, khususnya di bidang pertanian dan perkebunan, untuk memajukan Desa Bagelen,” ujarnya.
Sementara itu, Ahmad Luthfi mengaku kunjungan ini memberi kesan tersendiri baginya. Ia merasa bangga melihat kondisi warga transmigran yang hidup rukun dan sejahtera.
“Saya ingin menelusuri jejak sejarah di sini. Di Lampung, sekitar 60 persen penduduknya berasal dari Jawa, terutama Jawa Tengah. Dan saya melihat warga transmigran di sini sudah makmur,” kata Luthfi.
Ia berharap masyarakat Desa Bagelen terus hidup dalam suasana gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja—makmur, tenteram, dan sejahtera.
Luthfi juga berpesan agar warga transmigran asal Jawa Tengah mampu terus beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggalnya. Menurutnya, banyak di antara mereka yang sudah puluhan tahun menetap, bahkan lahir dan besar di tanah transmigrasi.
“Mereka sudah membangun desa di Lampung. Jadi di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Artinya, kita harus bisa menyesuaikan diri dengan daerah tempat kita hidup,” pungkasnya.***
Kontributor Jawa Tengah: Rizal Akbar















