Indeks
News  

Setahun “Holopis Kuntul Baris”, Gubernur Jawa Tengah Pilih Jadi Orkestrator Super Team, Bukan One Man Show

Semarang, Tuturpedia.com – Satu tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah diwarnai semangat kolaborasi bertajuk “Holopis Kuntul Baris”. Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jawa Tengah menegaskan, kepemimpinan di provinsi ini bukanlah model one man show, melainkan orkestrasi kerja tim besar lintas sektor. Senin, (23/02/2025).

Di tengah sindiran yang ramai di media sosial—“Jawa ora nduwe gubernur?”—jawabannya justru tegas. Jawa Tengah tidak mencari figur superman, tetapi membangun super team. Gubernur diposisikan sebagai orkestrator yang membuka ruang inovasi bagi kepala dinas, merangkul bupati/wali kota, DPRD, hingga masyarakat sipil.

Filosofi kepemimpinan itu selaras dengan ajaran Ki Hajar Dewantara: Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan. Konsep modernnya dikenal sebagai collaborative governance—atau dalam bahasa sederhana: gotong royong.

Semangat itu juga menggemakan pesan Sukarno tentang gotong royong: kerja bersama untuk kebahagiaan bersama. “Holopis kuntul baris” menjadi energi kolektif membangun Jawa Tengah.

44 Kampus, 15 Negara, dan Investasi Melonjak

Baru 25 hari dilantik, gubernur mencatat sejarah dengan penandatanganan MoU bersama 44 perguruan tinggi untuk mendukung program strategis daerah. Dari kerja sama itu lahir program konkret seperti desalinasi air payau, verifikasi rumah tidak layak huni, hingga penanganan stunting dan TBC.

Tak berhenti di dalam negeri, selama setahun Jawa Tengah menjalin komunikasi dan kerja sama dengan 15 negara, di antaranya Australia, Singapura, Jepang, Uni Emirat Arab, hingga Uni Eropa. Dampaknya mulai terasa pada peningkatan investasi dan kualitas sumber daya manusia.

Realisasi investasi melampaui target: dari Rp78,3 triliun menjadi Rp88,5 triliun dengan serapan tenaga kerja mencapai 418.138 orang. Pertumbuhan ekonomi berada di angka 5,37 persen, di atas rata-rata nasional. Inflasi 2025 tercatat 2,72 persen—terkendali dan stabil.

Kemiskinan Turun, Pengangguran Jadi PR
Jumlah penduduk miskin memang masih sekitar 3,3 juta orang, namun persentasenya turun menjadi 9,39 persen sesuai target. Tingkat pengangguran 4,66 persen masih sedikit di atas target 4,42 persen—menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.

Program kesehatan juga mencatat capaian signifikan. Layanan kesehatan spesial hingga pelosok telah menjangkau 935 desa dengan lebih dari 91 ribu sasaran. Program cek kesehatan gratis menembus 14,2 juta orang—tertinggi di Indonesia.

Di sektor perumahan, persentase rumah layak huni meningkat menjadi 77,19 persen. Kondisi jalan provinsi membaik hingga 89,94 persen. Produksi padi melampaui target dengan capaian 1,2 juta ton, meski tantangan banjir masih membayangi petani di sejumlah daerah seperti Demak dan Grobogan.

Banjir dan Lingkungan Jadi Alarm Serius

Sepanjang 2025, tercatat 368 kejadian bencana di Jawa Tengah. Banjir menjadi yang paling dominan dengan dampak kerusakan lebih dari 169 ribu rumah dan ratusan fasilitas umum. Sebanyak 90 orang meninggal dunia dan hampir 20 ribu jiwa mengungsi.

Normalisasi sungai seperti Kali Kuto di Kendal, Kali Tuntang di Grobogan, hingga Kali Dombo di Demak dilakukan di lebih dari 41 titik. Pompa air tenaga surya dibangun di Sayung Demak. Penanganan darurat dilakukan di puluhan lokasi lintas kabupaten.

Tambang berisiko ditutup, sementara Gunung Slamet dan Muria diusulkan menjadi kawasan taman nasional. Penanaman lebih dari satu juta mangrove digencarkan untuk menahan abrasi pesisir.

Gotong Royong sebagai Kompas

Pemprov Jawa Tengah juga membentuk 8.556 koperasi desa/kelurahan Merah Putih—terbanyak di Indonesia. Sinergi dengan DPR RI, DPRD provinsi/kabupaten/kota, Forkopimda, hingga Baznas diperkuat melalui forum komunikasi rutin yang dipimpin langsung gubernur.

Namun tantangan tetap ada: indeks integritas ASN baru mencapai 75,3 dari target 80,9. Produksi sampah lebih dari 6 juta ton per tahun, sementara baru 60 persen yang terkelola optimal.

Satu tahun berjalan, ibarat pohon, belum semua berbuah lebat. Namun bunga-bunga sudah mulai mekar. TPPD menegaskan, membangun Jawa Tengah bukan kerja satu orang, melainkan kerja bersama. “Cencut taliwondo, holopis kuntul baris.” Dari semua, untuk semua.

Exit mobile version