Tuturpedia.com — Peta kekuatan sepak bola Afrika dalam dua dekade terakhir menunjukkan pergeseran yang makin jelas. Jika awal 2000-an dikuasai Kamerun dan Mesir, maka satu nama kini muncul paling konsisten di barisan terdepan: Senegal.
Berdasarkan catatan juara Piala Afrika sejak tahun 2000, Senegal mencatatkan dua gelar dalam tiga edisi terakhir; 2021 dan 2025. Catatan ini menempatkan Les Lions de la Teranga sebagai kekuatan paling stabil di Afrika dalam satu dekade terakhir.

Dominasi Senegal bukan datang tiba-tiba. Tim ini membangun fondasi sejak awal 2010-an, ketika generasi pemain yang merumput di Eropa mulai menjadi tulang punggung tim nasional. Investasi federasi pada pembinaan usia muda, kompetisi domestik, serta pengiriman pemain ke liga-liga Eropa terbukti berbuah konsistensi prestasi.
Era Lama: Kamerun dan Mesir
Pada awal milenium, Piala Afrika berada dalam genggaman Kamerun. The Indomitable Lions meraih gelar pada 2000 dan 2002, lalu kembali berjaya pada 2017. Keberhasilan tersebut menegaskan posisi Kamerun sebagai salah satu raksasa tradisional Afrika.
Sementara itu, Mesir mencatat era keemasan yang jarang tertandingi. Negeri Piramida meraih tiga gelar beruntun pada 2006, 2008, dan 2010 rekor yang hingga kini belum mampu disamai negara lain kecuali Senegal hari ini. Generasi pemain seperti era Hassan Shehata menjadikan Mesir simbol dominasi mutlak di Piala Afrika.
Namun, setelah 2010, dominasi Mesir mulai memudar. Peta kekuatan menjadi lebih terbuka, memberi ruang bagi negara lain untuk naik ke puncak.
Munculnya Juara Baru
Tunisia membuka era baru pada 2004, disusul Zambia yang mencuri perhatian lewat gelar emosional pada 2012. Nigeria dan Pantai Gading juga mencatatkan namanya sebagai juara masing-masing pada 2013 dan 2015.
Aljazair kemudian tampil sebagai kampiun 2019, menandai kuatnya Afrika Utara di akhir dekade 2010-an. Namun, setelah itu, sorotan beralih ke Afrika Barat tepatnya Senegal.
Senegal dan Konsistensi Prestasi
Berbeda dari juara lain yang datang dan pergi, Senegal tampil konsisten. Dalam tiga edisi terakhir, mereka selalu menjadi tim yang paling solid, baik secara taktik maupun mental bertanding. Kombinasi pemain berpengalaman, kedalaman skuad, serta organisasi permainan yang matang membuat Senegal sulit digoyahkan.
Keberhasilan ini sekaligus mengubah narasi lama tentang Piala Afrika yang kerap disebut sulit diprediksi. Senegal menunjukkan bahwa konsistensi dan perencanaan jangka panjang tetap bisa menghasilkan dominasi, bahkan di turnamen yang terkenal keras dan penuh kejutan.
Peta Kekuatan yang Terus Bergerak
Daftar juara sejak 2000 memperlihatkan satu hal penting: Piala Afrika tidak lagi dimonopoli satu negara dalam jangka panjang, tetapi periode tertentu tetap melahirkan kekuatan dominan. Dari Kamerun, Mesir, hingga Senegal, tiap era memiliki penguasanya sendiri.
Dengan regenerasi pemain yang terus berjalan dan persaingan antarnegara yang makin ketat, Piala Afrika ke depan tampaknya akan tetap menjadi panggung pertarungan terbuka. Namun untuk saat ini, satu fakta tak terbantahkan: Senegal adalah standar baru sepak bola Afrika.***
Penulis: Rizal Akbar || Editor: Permadani T.















