News  

Sawah Pati Retak Dihantam Kekeringan, 4.000 Hektare Lahan Pertanian Terancam

TUTURPEDIA - Sawah Pati Retak Dihantam Kekeringan, 4.000 Hektare Lahan Pertanian Terancam
banner 120x600

Pati, Tuturpedia.com – Hamparan sawah yang seharusnya menghijau dengan tanaman padi kini berubah menjadi tanah kering kerontang. Permukaannya retak-retak, sementara harapan petani untuk mendapatkan hasil panen dihadapkan pada ancaman kekeringan yang melanda Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Kondisi memprihatinkan itu terlihat di Desa Tlogoayu, Kecamatan Gabus, salah satu wilayah yang disebut menjadi titik terdampak parah kekeringan. Di lokasi tersebut, lahan pertanian mulai kesulitan mendapatkan pasokan air akibat menyusutnya sumber pengairan.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Pati yang disampaikan dalam keterangannya, lebih dari 4.000 hektare lahan pertanian terancam akibat kekeringan. Kecamatan Gabus menjadi wilayah dengan luasan terdampak terbesar, mencapai 764 hektare sawah di sekitar aliran Sungai Silugonggo yang kini dilaporkan hampir tidak mengalir.

Kondisi tersebut menjadi ancaman serius bagi petani. Ketika air semakin sulit diperoleh, keberlangsungan tanaman padi ikut terancam. Risiko gagal panen pun membayangi, terlebih jika kekeringan berlangsung lebih lama tanpa penanganan yang memadai.

Turun Langsung, Dengarkan Keluhan Petani

Melihat kondisi tersebut, seorang wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah III turun langsung ke Desa Tlogoayu, Kecamatan Gabus, untuk melihat kondisi lahan sekaligus mendengarkan keluhan petani.

Kunjungan itu dilakukan bukan sekadar untuk menyaksikan sawah yang mengering, melainkan juga untuk memahami persoalan yang dihadapi petani secara langsung, termasuk kebutuhan air dan langkah penanganan yang diperlukan.

“Petani Pati tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian,” demikian pesan yang disampaikan dalam keterangannya. Minggu, (25/10/2026).

Ia menegaskan, kondisi di lapangan perlu menjadi perhatian serius agar persoalan kekeringan tidak berhenti sebagai laporan semata. Aspirasi petani dan kebutuhan penanganan konkret harus diperjuangkan hingga tingkat pusat.

Bagi petani, air bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan penentu keberlangsungan usaha pertanian. Tanpa pasokan air yang cukup, lahan produktif berisiko kehilangan fungsi dan pendapatan petani ikut terancam.

Perlu Langkah Konkret, Bukan Sekadar Melihat

Ancaman kekeringan di Pati membutuhkan penanganan yang terukur dan berkelanjutan. Upaya tersebut dapat mencakup pemetaan lahan terdampak, distribusi air untuk kebutuhan pertanian yang mendesak, optimalisasi sumber air yang masih tersedia, serta perbaikan sistem irigasi sesuai kondisi lapangan.

Koordinasi antara pemerintah daerah, dinas terkait, dan pemerintah pusat juga diperlukan agar kebutuhan petani dapat ditangani berdasarkan tingkat kedaruratan dan luas wilayah terdampak.

Kondisi Sungai Silugonggo yang dilaporkan hampir tidak mengalir menjadi salah satu persoalan yang perlu ditelusuri lebih lanjut, terutama untuk mengetahui alternatif sumber air yang memungkinkan dimanfaatkan bagi lahan pertanian di sekitarnya.

Kini, lebih dari 4.000 hektare lahan pertanian yang terancam menjadi pengingat bahwa dampak kekeringan tidak hanya menyangkut kondisi tanah, tetapi juga menyangkut nasib petani, keberlangsungan produksi pangan, dan penghasilan keluarga yang bergantung pada hasil sawah.

Kehadiran wakil rakyat di tengah petani diharapkan menjadi langkah awal untuk membawa persoalan tersebut ke meja pengambilan kebijakan. Namun, yang paling dinantikan petani adalah tindak lanjut nyata agar sawah yang kini retak-retak kembali mendapatkan air dan harapan untuk panen tidak ikut mengering.

Sebab, bagi petani Pati, setiap tetes air berarti kesempatan untuk mempertahankan tanaman, menjaga penghasilan keluarga, dan menyelamatkan masa depan pertanian mereka.

Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.

tuturpedia.com - 2026