Tuturpedia.com – Kabar baik datang dari titik terbarat Pulau Jawa, yaitu kamera jebak yang dipasang di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) berhasil merekam anak badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang belum pernah teridentifikasi sebelumnya pada Minggu (4/3/2024).
Dikutip Tuturpedia dari siaran pers Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Senin (15/4/2024), penemuan tersebut menambah perkiraan jumlah badak jawa yang tersisa di di wilayah TNUK, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, menjadi 82 individu.
Anak badak jawa yang kemudian diberi identitas sementara ID.093.2024 tersebut diperkirakan berusia 3-5 bulan dan terlihat melintasi kamera jebak bersama seekor induk betina. Namun, jenis kelaminnya belum dapat diketahui karena ciri pembeda yang tidak terlihat dari kamera.
Penemuan tersebut dilihat sebagai tanda dari keberhasilan TNUK sebagai habitat bagi badak jawa, spesies paling langka dari 5 spesies badak di seluruh dunia.
“Alhamdulillah ini merupakan berita gembira dan membuktikan bahwa badak jawa di dunia yang hanya ada di Ujung Kulon dapat berkembang dengan baik dan lestari,” ungkap Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Satyawan Pudyatmoko.
Kamera jebak digunakan untuk mengawasi spesies yang menjadi maskot Provinsi Banten tersebut karena sifat hewan yang sangat pemalu terhadap manusia. Pertemuan antara badak jawa dan manusia adalah hal yang sangat langka.
Bahkan pada 2023 TNUK menutup Semenanjung Ujung Kulon dari aktivitas wisata setelah diketahui jika badak jawa menyingkir dari wilayah yang biasa dilalui wisatawan.
Selain menggunakan kamera, tanda kehidupan badak jawa juga diketahui dari jejak kaki, kotoran, hingga goresan badan dan cula pada pohon.
Namun badak jawa tetap dibayangi-bayangi oleh kepunahan. Mengutip dari laporan yang dibuat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Auriga Nusantara, terdapat 18 individu badak yang hilang dari pantauan kamera dengan indikasi akibat perburuan liar.
Jumlah badak betina yang tidak seimbang dengan badak jantan di TNUK juga mengurangi kemampuan tingkat reproduksi badak di samping ancaman bencana alam berupa tsunami dan gempa dari letusan Gunung Krakatau.***
Penulis: Fadillah Wiyoto
Editor: Nurul Huda
