Tuturpedia.com – Kreator konten sekaligus influencer Saputra Kori siap menunjukkan sisi berbeda dalam debutnya di film horor 402 Rumah Sakit Angker Korea (402 RSAK). Film produksi MD Pictures yang berkolaborasi dengan Umbara Brothers Films ini menjadi remake resmi dari film horor Korea Selatan legendaris Gonjiam: Haunted Asylum, yang dikenal sebagai salah satu film horor paling menyeramkan dalam beberapa tahun terakhir.
Disutradarai Anggy Umbara, film 402 Rumah Sakit Angker Korea mengusung konsep found footage atau sudut pandang (point of view/POV) yang mengajak penonton mengikuti perjalanan sekelompok kreator konten saat melakukan penelusuran di sebuah rumah sakit paling angker di Korea Selatan. Ambisi mereka untuk menciptakan konten viral justru berubah menjadi mimpi buruk ketika teror supranatural mulai bermunculan.
Kehadiran Saputra Kori menjadi salah satu daya tarik utama film ini. Kreator yang memiliki lebih dari 20 juta pengikut di TikTok tersebut dipercaya memerankan karakter Adit, seorang kameramen dalam kelompok pemburu hantu. Meski sama-sama berprofesi sebagai kreator konten, karakter yang dimainkan Kori ternyata sangat bertolak belakang dengan kepribadiannya di dunia nyata.

Karakter Berbeda Total dari Kehidupan Asli
Selama ini, Saputra Kori dikenal melalui berbagai kontennya yang santai, ramah, dan memiliki pembawaan tenang. Namun di film 402 Rumah Sakit Angker Korea, ia justru dituntut memerankan sosok yang usil, tengil, bahkan kerap menjadi pemicu konflik di dalam kelompok.
Perbedaan karakter tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Kori. Ia mengaku harus keluar dari zona nyaman agar mampu menampilkan sisi yang benar-benar baru di hadapan penonton.
“Justru ini jadi tantangan buatku, karena di sini aku harus memerankan bentuk konten kreator yang 180 derajat dengan aku. Jujur di film ini kalian akan melihat sisi Saputra Kori yang beda banget,” ungkap Kori.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting sebagai aktor. Tidak hanya menghafal dialog, ia juga harus membangun emosi dan gestur yang sama sekali berbeda dengan karakter dirinya sehari-hari.
Tak Sekadar Akting, Benar-Benar Menjadi Kameramen
Keunikan film ini tidak hanya terletak pada alur cerita, tetapi juga metode pengambilan gambar yang dibuat semirip mungkin dengan situasi nyata.
Para pemain tidak hanya ditugaskan berakting, tetapi juga mengoperasikan kamera sendiri selama proses syuting berlangsung. Konsep tersebut dipilih agar hasil visual benar-benar terasa autentik, sehingga penonton seolah ikut berada di dalam rumah sakit angker bersama para karakter.
Saputra Kori mengungkapkan bahwa setiap pemain dibekali sebuah camera rig dengan berat sekitar lima kilogram yang harus terus dibawa sepanjang proses pengambilan gambar.
“Di sini aku ga cuma jadi aktor, tapi jadi cameraman juga. Setiap pemain diberikan rig kamera yang beratnya sekitar 5 kg, dan kami harus pakai itu sepanjang syuting. Ini pengalaman syuting paling unik yang pernah kualami,” katanya.
Beban fisik tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar selama produksi. Membawa kamera berbobot lima kilogram sambil tetap menjaga kualitas akting bukanlah pekerjaan mudah, terlebih sebagian besar adegan dilakukan sambil berjalan, berlari, hingga menghadapi berbagai adegan menegangkan.
Namun justru metode tersebut diharapkan mampu menghasilkan pengalaman menonton yang lebih realistis dan membuat penonton ikut merasakan ketegangan para karakter.
Pengalaman Horor yang Benar-Benar Nyata
Tidak berhenti sampai di situ, pengalaman ekstrem lain yang dialami para pemain adalah ketika mereka harus melakukan proses syuting tanpa didampingi kru di dalam lokasi utama.
Alih-alih dikelilingi lampu sorot, kamera tambahan, maupun arahan sutradara secara langsung, para pemain benar-benar dibiarkan menjelajahi set rumah sakit sendirian.
Konsep tersebut sengaja diterapkan demi mendapatkan ekspresi takut yang alami tanpa rekayasa.
“Karena konsepnya penelusuran, kami para cast memang ditinggal sendirian di lokasi syuting. Mas Anggy dan tim lainnya ada di tenda yang lokasinya di luar rumah sakit, dan kami berenam harus melakukan penelusuran ini sendirian,” beber Kori.
Atmosfer rumah sakit yang dibangun khusus untuk kebutuhan produksi disebut memiliki nuansa yang sangat mencekam. Kondisi tersebut membuat para pemain benar-benar merasakan ketegangan layaknya sedang melakukan eksplorasi di lokasi angker sungguhan.
Metode syuting seperti ini menjadi salah satu pendekatan yang membedakan 402 Rumah Sakit Angker Korea dari film horor kebanyakan. Reaksi spontan para pemain diharapkan mampu memperkuat nuansa horor yang menjadi ciri khas remake dari Gonjiam: Haunted Asylum.
Tayang Mulai 9 Juli 2026
Dengan berbagai tantangan produksi yang dijalani para pemain, 402 Rumah Sakit Angker Korea digadang-gadang menghadirkan pengalaman horor yang lebih imersif melalui teknik pengambilan gambar bergaya POV.
Film ini juga menjadi ajang pembuktian bagi Saputra Kori sebagai aktor layar lebar yang tidak hanya mengandalkan popularitas sebagai kreator konten, tetapi juga menunjukkan totalitas dalam menjalani setiap adegan.
Bagi pencinta film horor, remake resmi Gonjiam: Haunted Asylum ini dijadwalkan mulai tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 9 Juli 2026. Penonton akan diajak menyaksikan bagaimana ambisi mencari konten viral berubah menjadi teror yang mengancam nyawa di dalam rumah sakit paling angker di Korea Selatan.
Kontributor: Sarah Limbeng














