Blora, Tuturpedia.com – Keterbatasan ruang kelas masih menjadi persoalan di SMP Negeri 1 Sambong, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sebanyak enam rombongan belajar (rombel) terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di luar ruang kelas karena belum terpenuhinya fasilitas pembelajaran yang memadai.
Kondisi tersebut mendorong perlunya penambahan ruang belajar. Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026 dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), SMPN 1 Sambong mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp1,9 miliar untuk pembangunan dan rehabilitasi fasilitas sekolah.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMPN 1 Sambong, Wiwik Sulistyowati, mengatakan sekolah yang dipimpinnya memiliki 543 siswa yang terbagi dalam 19 rombongan belajar.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 192 siswa atau enam rombel, dengan masing-masing kelas berisi 32 siswa, belum dapat menempati ruang kelas sebagaimana mestinya. Mereka harus mengikuti pembelajaran di sejumlah fasilitas sekolah, mulai dari musala, lobi, aula, hingga laboratorium.
“Dari jumlah tersebut, sebanyak 192 siswa atau enam rombel harus mengikuti pembelajaran di sejumlah fasilitas sekolah, seperti musala, lobi, aula, dan laboratorium,” ujar Wiwik di Blora, Jumat (16/10/2026).
Menurutnya, keterbatasan ruang kelas menjadi persoalan yang perlu segera ditangani agar proses pembelajaran berlangsung lebih efektif dan nyaman. Ketersediaan ruang belajar yang memadai dinilai penting untuk menunjang konsentrasi siswa sekaligus mendukung kualitas pendidikan.
Melalui program revitalisasi tersebut, sejumlah pekerjaan pembangunan dan rehabilitasi dilakukan. Pekerjaan itu meliputi rehabilitasi enam ruang kelas, pembangunan tiga ruang kelas baru (RKB), rehabilitasi laboratorium IPA, serta rehabilitasi kantor tata usaha (TU).
Dengan adanya pembangunan tersebut, pihak sekolah berharap kebutuhan ruang belajar dapat terpenuhi secara bertahap sehingga siswa tidak lagi harus menggunakan fasilitas lain yang sejatinya bukan diperuntukkan sebagai ruang kelas reguler.
Pelaksana pembangunan, Rasiman, menjelaskan proyek yang dimulai pada Juli 2026 itu telah mencapai progres 85 persen. Saat ini, pengerjaan memasuki tahap penyelesaian atau finishing, termasuk pemasangan keramik.
“Progres pembangunan sudah mencapai 85 persen dan saat ini memasuki tahap penyelesaian atau finishing, termasuk pemasangan keramik,” katanya.
Proyek revitalisasi ini juga melibatkan 29 tenaga kerja lokal. Keterlibatan pekerja setempat diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar, selain mendukung peningkatan fasilitas pendidikan.
Sementara itu, salah seorang wali murid kelas IX, Khamsiati, menyambut baik pembangunan dan rehabilitasi fasilitas sekolah tersebut. Ia mengaku telah menantikan perbaikan sarana pendidikan agar anak-anak memperoleh tempat belajar yang lebih layak.
“Setelah ada program revitalisasi ini, alhamdulillah saya merasa senang sekali. Setelah dua tahun menanti, akhirnya gedung baru untuk anak-anak bisa terwujud sehingga mereka mendapatkan ruang pembelajaran yang layak dan nyaman,” ungkapnya.
Revitalisasi SMPN 1 Sambong menjadi langkah penting untuk menjawab persoalan keterbatasan ruang kelas. Namun, penyelesaian pembangunan perlu diikuti dengan pemanfaatan fasilitas secara optimal agar seluruh siswa dapat menikmati proses belajar mengajar di ruang kelas yang layak, aman, dan nyaman.














