Blora, Tuturpedia.com — Suasana khidmat menyelimuti Tugu Pancasila di Desa Kedung Jenar, Kabupaten Blora, Rabu (30/9/2026) malam. Sejumlah elemen organisasi kemasyarakatan berkumpul dalam kegiatan renungan suci untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila.
Kegiatan tersebut dipimpin Ketua Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Blora, Munaji, dan diikuti berbagai organisasi kemasyarakatan, di antaranya Skuad Nusantara, Lindu Aji, Grib Jaya, serta LSM Harimau.
Renungan digelar sebagai momentum untuk kembali mengingat perjalanan sejarah bangsa sekaligus merefleksikan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Munaji menegaskan, Pancasila bukan sekadar simbol atau rangkaian lima sila yang dihafalkan, melainkan hasil kesepakatan para pendiri bangsa dan kristalisasi nilai-nilai luhur yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

“Kegiatan di Tugu Pancasila ini dalam rangka renungan suci, Kesaktian Pancasila. Kita harus bersama-sama belajar, di mana saktinya Pancasila itu tidak hanya sakti sendiri, tetapi juga berkat pengorbanan jiwa, raga, bahkan nyawa para pahlawan revolusi kita,” ujar Munaji.
Menurutnya, semangat memperingati Hari Kesaktian Pancasila tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan. Nilai-nilai Pancasila harus dipahami dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyebut renungan tersebut juga ditujukan kepada generasi muda dan pelajar. Bahkan, sejumlah santri dari salah satu pondok pesantren turut hadir mengikuti kegiatan.
Munaji mengatakan, Blora memiliki catatan sejarah yang perlu terus dikenalkan kepada generasi penerus. Karena itu, pemahaman mengenai Pancasila dan sejarah bangsa dinilai penting agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi maupun provokasi yang dapat memecah persatuan.
“Pesan kami, mari jadikan Pancasila sebagai pedoman hidup. Kita harus menjaga ideologi Pancasila ini sampai sekarang. Kita akui begitu saktinya Pancasila, dan di sila-silanya kita harus mengerti, paham, serta mempelajarinya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari berbangsa dan bernegara,” tegasnya.
Tugu Pancasila dan Filosofi Empat Arah
Sementara itu, tokoh masyarakat Blora yang akrab disapa Ki Yayun memberikan dukungan terhadap pelaksanaan renungan suci tersebut.
Menurutnya, menjaga Pancasila bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun aparat, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
Terlebih di tengah derasnya arus informasi, generasi muda dinilai membutuhkan pemahaman sejarah dan nilai kebangsaan agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang tidak bertanggung jawab.
“Kesaktian Pancasila itu sudah harga mati. Kita harus mendukung penuh kegiatan seperti ini,” ujar Ki Yayun.
Ia juga mengungkap filosofi yang terkandung dalam Tugu Pancasila di Desa Kedung Jenar, Blora. Menurutnya, keberadaan monumen tersebut memiliki makna sejarah dan simbol perjuangan yang belum banyak diketahui masyarakat.
Patung-patung yang terdapat di monumen tersebut menghadap ke empat penjuru mata angin dengan atribut berbeda.
Patung yang menghadap ke barat membawa pistol. Menurut Ki Yayun, simbol tersebut menggambarkan sosok pemimpin yang memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan anak buahnya.
Sementara patung yang menghadap ke timur membawa kendi dan pacul. Simbol itu menggambarkan masyarakat yang mencari nafkah dengan mengikuti datangnya matahari.
Patung yang menghadap ke utara membawa bambu runcing sebagai simbol perjuangan rakyat dengan peralatan sederhana dalam menghadapi penjajahan.
Sedangkan patung yang menghadap ke selatan membawa rampasan senjata dari Belanda. Menurut Ki Yayun, simbol tersebut menggambarkan perjuangan yang mulai menggunakan perlengkapan lebih modern.
Jangan Sekadar Diperingati
Renungan suci di Tugu Pancasila tersebut menjadi pengingat bahwa peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak semestinya hanya menjadi agenda seremonial.
Bagi para peserta, momentum tersebut menjadi ruang untuk kembali mengingat pengorbanan para pejuang sekaligus memperkuat komitmen menjaga persatuan bangsa.
Pancasila diharapkan tidak hanya hadir dalam pidato maupun upacara, tetapi benar-benar menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat.
Kegiatan tersebut juga diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda Blora agar memahami sejarah, menghargai perjuangan para pendahulu, serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.














