Indeks
News  

Ratusan Siswa Tumbang Usai Santap MBG, Satgas Blora Desak SPPG Sukorejo 2 Ditutup

Blora, Tuturpedia.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menghadapi persoalan serius di Kabupaten Blora. Sebanyak 133 siswa dan dua guru SMA Negeri 1 Tunjungan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG yang didistribusikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2.

Keluhan yang muncul bukan sekadar ringan. Sejumlah siswa mengalami sakit perut, diare hingga pusing, bahkan enam siswa harus mendapatkan rujukan untuk memperoleh penanganan medis.

Kasus ini langsung menjadi perhatian Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Blora. Ketua Satgas MBG Blora, Sri Setyorini atau Bude Rini, bahkan mengungkap adanya laporan yang jauh lebih mengkhawatirkan: temuan belatung pada makanan MBG.

“Menunya tempe goreng, brokoli, ayam. Tapi dari laporan ada belatungnya lagi. Di Al-Banjari ada belatungnya. Dari kebersihannya saya nilai kurang,” kata Bude Rini saat mengunjungi SMA Negeri 1 Tunjungan, Selasa (8/9/2026).

Temuan tersebut membuat persoalan SPPG Sukorejo 2 tidak lagi sebatas keluhan penerima manfaat. Standar kebersihan dan keamanan pangan dalam program yang menyasar anak-anak justru dipertanyakan.

Bude Rini mengatakan, dari 133 siswa dan dua guru yang mengalami keluhan kesehatan, enam siswa sempat dirujuk. Tiga siswa telah diperbolehkan pulang, sementara tiga lainnya masih menjalani penanganan medis.

“Yang dirujuk enam siswa. Tiga sudah pulang, tiga masih di sana,” ujarnya.

Sudah Dua Kali Diperingatkan, Kini Terjadi Lagi

Yang membuat Satgas MBG Blora semakin geram, persoalan di SPPG Sukorejo 2 disebut bukan kejadian pertama. Menurut Bude Rini, pihaknya telah memberikan peringatan kepada SPPG yang berada di bawah naungan Yayasan Tirta Mirah Asih tersebut sebanyak dua kali sebelum kasus terbaru mencuat.

SPPG Sukorejo 2 selama ini mendistribusikan makanan MBG ke tiga titik sasaran, yakni SMA Negeri 1 Tunjungan, Pondok Pesantren Al Banjari, dan SD IT. Dengan adanya laporan keluhan kesehatan massal ditambah temuan belatung, Satgas menilai evaluasi tidak bisa dilakukan setengah-setengah.

“Kami mau tidak mau mengusulkan tutup. Kalau masalah tutup permanen itu dari pusat, saya dari satgas sini, tutup. Sudah tiga kali,” tegas Bude Rini.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal keras bahwa Satgas MBG Blora menilai persoalan SPPG Sukorejo 2 sudah berada pada titik yang membutuhkan tindakan tegas.

Distribusi MBG Dihentikan

Untuk mencegah persoalan meluas, distribusi MBG ke SMA Negeri 1 Tunjungan dihentikan sementara pada Selasa (8/9/2026).

Bude Rini mengatakan, keluhan siswa diduga berkaitan dengan makanan MBG yang dikonsumsi pada Senin (7/9/2026). Namun, ia menegaskan penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.

“Ya iya, bagaimana. Kemarin makan, kemudian pulang di rumah, sampai di rumah mereka merasa mual-mual. Setelah masuk sekolah tadi, baru diketahui sebanyak ini,” ujarnya.

Artinya, dugaan keterkaitan antara makanan MBG dan keluhan kesehatan belum dapat dinyatakan sebagai penyebab pasti sebelum hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi pihak berwenang keluar.

Namun demikian, munculnya keluhan kesehatan dalam jumlah besar serta laporan adanya belatung menjadi alarm serius bagi pengelola program MBG.

Satgas MBG Kabupaten Blora selanjutnya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap SPPG Sukorejo 2, mulai dari kebersihan bahan makanan, proses memasak, penyimpanan, pengemasan hingga distribusi.

Hasil evaluasi tersebut akan dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Bude Rini menjelaskan, kewenangan untuk melakukan penutupan permanen SPPG berada di tangan pemerintah pusat melalui BGN. Satgas di tingkat kabupaten hanya dapat memberikan rekomendasi.

Namun satu hal sudah jelas: ketika makanan yang seharusnya memberikan gizi justru membuat puluhan hingga ratusan penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan, standar keamanan pangan tidak boleh ditawar.

Program MBG bukan sekadar soal makanan sampai ke tangan siswa. Yang jauh lebih penting adalah memastikan makanan tersebut aman sebelum dikonsumsi.

Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.

Exit mobile version