Jakarta, Tuturpedia.com – Industri perfilman Indonesia akan menghadirkan warna baru melalui film Pulang Kampung, sebuah karya musikal berlatar budaya Batak yang diproduksi oleh rumah produksi Imajinari. Film garapan Bene Dion Rajagukguk ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 26 November 2026.
Kehadiran Pulang Kampung menjadi salah satu proyek ambisius Imajinari karena mengangkat konsep film musikal daerah dengan identitas budaya Batak. Film ini juga mencatatkan sejarah sebagai film musikal Batak pertama di Indonesia, sekaligus menjadi upaya memperkenalkan kekayaan budaya Sumatera Utara kepada penonton yang lebih luas.
Melalui cerita yang memadukan drama keluarga, romansa, komedi, musik, dan tarian tradisional, Pulang Kampung menawarkan pengalaman menonton yang berbeda dari film drama pada umumnya.
Berawal dari Kisah Nyata Musisi Viky Sianipar
Ide pembuatan film Pulang Kampung ternyata sudah digodok sejak 2022. Bene Dion Rajagukguk selaku penulis sekaligus sutradara mengembangkan cerita yang terinspirasi dari perjalanan hidup musisi legendaris Viky Sianipar.
Inspirasi tersebut berangkat dari hubungan kompleks antara Viky dan sang ayah, yang turut memengaruhi perjalanan hidupnya dalam mengenal, menemukan kembali, serta mendalami akar budaya Batak.
Meski terinspirasi dari kisah nyata, karakter utama dalam film ini telah dimodifikasi menjadi tokoh fiktif untuk memenuhi kebutuhan dramatisasi layar lebar.
Pendekatan tersebut memungkinkan Bene Dion menghadirkan cerita yang tidak hanya berbicara tentang perjalanan seseorang menuju kampung halaman, tetapi juga menggambarkan proses pencarian identitas, hubungan keluarga, dan kedekatan seseorang dengan warisan budaya leluhurnya.
Menariknya, film ini diproduksi secara independen tanpa pesanan maupun dukungan pendanaan dari pemerintah. Proyek tersebut berangkat dari keinginan untuk memperkenalkan kebudayaan dan potensi pariwisata Sumatera Utara melalui medium perfilman.
Daniel dan Uli, Dua Tokoh dalam Perjalanan Mengenal Akar Budaya
Cerita Pulang Kampung berpusat pada Daniel, seorang pemuda Batak yang lahir dan tumbuh besar di Jakarta. Kehidupan perkotaan membuat Daniel memiliki pola pikir urban dan cenderung jauh dari adat istiadat yang menjadi bagian dari identitas keluarganya.
Situasi berubah ketika Daniel harus memenuhi ambisi politik sang ayah. Ia diwajibkan kembali ke kampung halaman di kawasan Danau Toba untuk mempersiapkan diri maju sebagai calon anggota legislatif. Keputusan tersebut membuat Daniel harus meninggalkan kehidupan yang selama ini dikenalnya dan menghadapi lingkungan budaya yang terasa asing. Di kampung halaman, Daniel bertemu dengan Uli, sepupunya yang kemudian membantunya mengenal lebih jauh tradisi dan kehidupan masyarakat Batak.
Melalui interaksi dengan Uli dan keluarga besarnya, Daniel perlahan memahami nilai-nilai budaya yang sebelumnya tidak terlalu dikenalnya. Perjalanan tersebut juga menghadirkan dinamika keluarga, pengalaman baru, serta benih-benih romansa di tengah keindahan alam Danau Toba.
Dibintangi Bakat Baru dan Sejumlah Musisi Senior
Film ini menghadirkan Axelo Nababan sebagai Daniel dan Vanessa Simorangkir atau Vanessa Zee sebagai Uli. Keduanya merupakan jebolan Indonesian Idol yang menjalani debut akting layar lebar melalui proyek ini.
Selain dua pemeran utama tersebut, Pulang Kampung turut diperkuat sejumlah nama yang sudah dikenal publik. Rita Matu Mona berperan sebagai Oppung Dio, Paulus Simangunsong sebagai Pak Daniel, serta Lea Simanjuntak sebagai Mak Daniel. Sementara itu, Judika Sihotang memerankan Pak Uli.
Film ini juga menghadirkan penampilan khusus dari tiga komedian, yakni Boris Bokir, Indra Jegel, dan Oki Rengga. Kehadiran para pemain dengan latar belakang berbeda menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Kolaborasi aktor, komedian, dan musisi diharapkan mampu menghadirkan cerita yang menghibur sekaligus memperkuat nuansa budaya Batak.
Menghadirkan Sembilan Lagu dengan Aransemen Viky Sianipar
Sebagai film musikal, Pulang Kampung tidak hanya mengandalkan dialog untuk menyampaikan emosi karakter. Cerita dikembangkan melalui kombinasi dialog, nyanyian, dan tarian yang menjadi bagian dari perjalanan para tokohnya.
Viky Sianipar dipercaya sebagai music director untuk menggarap keseluruhan aransemen musik.
Film ini menghadirkan sembilan lagu, terdiri atas delapan lagu tradisional Batak legendaris yang diaransemen ulang dengan sentuhan modern dan megah, serta satu lagu baru berjudul “20.000” yang disiapkan untuk mendukung adegan komedi.
Beberapa lagu tradisional yang dihadirkan antara lain “Jamila”, “Pulo Samosir”, dan “Tortohon Ma”.
Tidak hanya musik, unsur tari juga mendapatkan perhatian khusus melalui keterlibatan koreografer Wandy Adrianus dan Dimas Praditya. Keduanya mengembangkan koreografi yang menghidupkan tarian khas Batak dengan kemasan lebih modern.
Syuting di 21 Lokasi Kawasan Danau Toba
Untuk menghadirkan suasana yang autentik, proses pengambilan gambar dilakukan langsung di Sumatera Utara. Tercatat terdapat 21 titik lokasi syuting yang tersebar di lima kabupaten di sekitar kawasan Danau Toba dan Pulau Samosir.
Keindahan alam, lanskap perkampungan, serta suasana kehidupan masyarakat setempat menjadi bagian penting dari visual film. Sinematografi dipercayakan kepada Padri Nadeak untuk menangkap karakter visual kawasan tersebut.
Di balik layar, Bene Dion Rajagukguk bertindak sebagai penulis skenario sekaligus sutradara, didampingi Kristo Immanuel sebagai co-director. Sementara posisi produser eksekutif dan produser diisi Ernest Prakasa serta Dipa Andika.
Proyek ini juga melibatkan Mira Lesmana, Yonathan Nugroho, Sean Kim, dan sejumlah nama lainnya sebagai co-executive producer. Penyuntingan film ditangani oleh Aline Jusria.
Melalui Pulang Kampung, Imajinari menghadirkan sebuah karya yang memadukan hiburan dan pengenalan budaya lokal. Film ini diharapkan menjadi ruang bagi musik, tradisi, dan keindahan Sumatera Utara untuk dikenal lebih luas. Film musikal Batak Pulang Kampung dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 26 November 2026.
Kontributor: Sarah Limbeng | Editor: Permadani T.














