Indeks
News  

Populasi Diperkirakan Tinggal 66 Ekor, KLH Perkuat Upaya Penyelamatan Pesut Mahakam

Tuturpedia.com — Upaya penyelamatan Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) kembali diperkuat. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat populasi mamalia air tawar endemik Sungai Mahakam itu diperkirakan berjumlah 66 ekor pada 2026, naik dari 62 ekor pada 2025. Data tersebut dihimpun berdasarkan hasil pemantauan lapangan dan dirilis per 8 Februari 2026.

Meski menunjukkan kenaikan, jumlah tersebut masih menempatkan Pesut Mahakam dalam kategori sangat terancam punah. Pemerintah menilai tren populasi yang fluktuatif dan jumlah individu yang kecil membuat spesies ini tetap berada dalam kondisi rentan.

Dok. Tuturpedia.com

“Populasi yang terbatas membuat pesut sangat sensitif terhadap gangguan lingkungan,” demikian keterangan KLH dalam pemutakhiran data populasi terbarunya.

Ancaman dari Hulu ke Hilir

Sungai Mahakam bukan hanya rumah bagi pesut, tetapi juga jalur ekonomi utama di Kalimantan Timur. Di sepanjang alirannya, aktivitas manusia kian padat. Pertambangan batu bara di wilayah hulu menjadi salah satu faktor yang disebut mencemari perairan sungai. Limbah dan sedimentasi berpotensi menurunkan kualitas habitat.

Selain itu, lalu lintas transportasi sungai yang ramai turut mengganggu ruang gerak pesut. Kapal-kapal besar dan tongkang batu bara melintas hampir sepanjang hari, meningkatkan risiko tabrakan serta kebisingan bawah air yang mengganggu navigasi alami satwa tersebut.

Ancaman lain datang dari praktik penangkapan ikan ilegal, seperti penggunaan setrum dan bom ikan. Metode ini tak hanya merusak ekosistem sungai, tetapi juga berisiko langsung terhadap keselamatan pesut yang hidup berdampingan dengan aktivitas nelayan.

Dua Desa Konservasi Ditetapkan

Sebagai respons, KLH menetapkan dua desa di Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai desa konservasi. Penetapan ini ditujukan untuk memperkuat perlindungan habitat sekaligus melibatkan masyarakat setempat dalam upaya penyelamatan.

Program desa konservasi mencakup edukasi penggunaan alat tangkap ramah lingkungan serta peningkatan kesadaran warga terhadap pentingnya menjaga populasi pesut. Pemerintah juga menyatakan akan menindak tegas perusahaan atau pihak yang terbukti menyebabkan kerusakan lingkungan dan kematian satwa dilindungi tersebut.

Langkah ini diharapkan mampu menekan laju ancaman sekaligus menciptakan model pengelolaan berbasis komunitas di kawasan sungai.

Simbol Sungai Mahakam

Pesut Mahakam merupakan satu-satunya lumba-lumba air tawar yang hidup di Indonesia. Keberadaannya kerap disebut sebagai indikator kesehatan Sungai Mahakam. Penurunan populasi mencerminkan tekanan serius terhadap ekosistem sungai, sementara kenaikan meski tipis, dipandang sebagai sinyal bahwa intervensi perlindungan mulai menunjukkan dampak.

Namun dengan jumlah yang belum menembus angka seratus, para pegiat konservasi menilai pekerjaan rumah masih panjang. Pemantauan populasi akan terus dilakukan secara berkala untuk memastikan tren pertumbuhan benar-benar stabil dan bukan sekadar fluktuasi sementara.

Di tengah derasnya arus industri dan transportasi sungai, nasib 66 ekor pesut itu kini bergantung pada konsistensi pengawasan dan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, serta masyarakat setempat.***

Exit mobile version