Lampung, Tuturpedia.com – Proses transisi kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golkar Lampung Tengah menjelang Musyawarah Daerah (Musda) mulai menuai sorotan. Kamis, (22/01/026).
Ketua Laskar Lampung Tengah, Yunisa Putra, mengingatkan potensi kegaduhan jika proses suksesi tidak berjalan secara demokratis dan transparan. Berdasarkan pantauan di internal partai, dinamika perebutan posisi Ketua, Sekretaris, dan Bendahara (KSB) disebut semakin menguat.
Ketua dan Sekretaris DPD II Golkar Lampung Tengah periode sebelumnya, Musa Ahmad dan Febriyantoni, yang masa jabatannya berakhir per 30 Juli 2025, masih memiliki pengaruh kuat di struktur partai. Namun, keduanya disebut merasa kurang dihargai oleh sejumlah kader baru yang dinilai ingin mengambil alih kepemimpinan.
Situasi tersebut kian memanas karena sebanyak 28 Pengurus Kecamatan (PK) kini mulai menjadi rebutan dukungan menjelang pra-Musda. Musa Ahmad menyatakan, dirinya tidak akan tinggal diam apabila dalam Musda nanti terjadi intervensi atau pengondisian dari pihak tertentu.
“Kalau Musda tidak berjalan demokratis dan ada upaya pemaksaan figur tertentu oleh DPD I, kami akan mengerahkan kekuatan. Kalau ada pengondisian, patut diduga ada indikasi gratifikasi,” tegas Musa kepada awak media.
Menyikapi kondisi itu, Yunisa Putra meminta semua pihak menahan diri demi menjaga stabilitas daerah, terlebih Lampung Tengah masih menghadapi berbagai persoalan pemerintahan dan pengungkapan kasus korupsi oleh KPK.
“Kami masyarakat Lampung Tengah cinta damai. Jangan sampai Musda Golkar memicu kegaduhan. Tahun lalu pernah ada korban jiwa, jangan sampai terulang lagi,” kata Yunisa.
Ia menegaskan, meskipun tidak lagi menjadi kader Golkar, kepedulian tersebut muncul karena kekhawatiran akan dampak konflik politik terhadap keamanan masyarakat.
“Kami tidak ingin partai sebesar Golkar terpecah belah. Gunung Sugih ini kampung tua, jangan sampai dipancing ke arah konflik,” tambahnya.
Yunisa juga meminta Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar agar mengevaluasi peran DPD I Provinsi Lampung dalam proses transisi di Lampung Tengah.
Sementara itu, Musa Ahmad menilai kontribusi Febriyantoni sebagai Sekretaris DPD II layak mendapat apresiasi, mengingat pada masa kepengurusannya Golkar mampu meraih 13 kursi legislatif di Lampung Tengah.
“Jangan karena kepentingan sesaat, jasa kader yang sudah membesarkan partai dilupakan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Febriyantoni yang menilai kepemimpinan Golkar Lampung Tengah ke depan harus dipegang oleh kader yang memahami peta politik daerah.
“Sudah puluhan tahun kami berjuang di Golkar. Jangan sampai partai besar ini dipimpin orang yang belum memahami kondisi politik Lampung Tengah,” tegasnya.
Ia menambahkan, Lampung Tengah memiliki potensi suara besar dari 28 kecamatan dan lebih dari 3.000 kampung, sehingga kepemimpinan partai harus benar-benar diperhitungkan secara matang menjelang kontestasi politik mendatang.
Menutup pernyataannya, Yunisa Putra menegaskan Laskar Lampung Tengah akan ikut mengawal jalannya Musda agar tetap kondusif.
“Kami berharap Golkar jaya di Lampung Tengah dengan dipimpin kader yang tepat, berpengalaman, dan punya sejarah membesarkan partai. Jaga kondusifitas, jangan sampai Musda menjadi sumber konflik,” pungkasnya.















