Blora, Tuturpedia.com – Menjelang Hari Raya Idulfitri 2026, suasana penjualan sarung di Kabupaten Blora tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Para pedagang rumahan mengaku mengalami penurunan omzet yang cukup drastis, bahkan hingga dua kali lipat dibandingkan Lebaran tahun lalu.
Salah satu pedagang sarung rumahan di Blora, Yunia, mengungkapkan bahwa penjualan tahun ini jauh dari harapan. Jika pada Lebaran sebelumnya ia mampu menjual lebih dari 3.000 sarung, pada musim Lebaran 2026 ini jumlah penjualan bahkan belum menyentuh angka 1.000 lembar.
“Biasanya menjelang Lebaran penjualan sarung sangat ramai. Tahun lalu bisa tembus lebih dari 3.000 sarung. Tapi tahun ini sampai sekarang belum sampai 1.000,” ujar Yunia. Senin, (16/03/2026).
Menurutnya, penurunan ini berdampak langsung pada omzet penjualan yang merosot hingga dua kali lipat. Kondisi tersebut membuat para pedagang harus memutar otak agar tetap bisa bertahan di tengah lesunya daya beli masyarakat.
Yunia menilai, turunnya penjualan tidak lepas dari kondisi ekonomi yang sedang kurang menggairahkan. Selain itu, kebijakan efisiensi anggaran di berbagai sektor juga disebut ikut mempengaruhi perputaran uang di masyarakat.
“Sekarang orang lebih banyak menahan belanja. Yang penting kebutuhan pokok dulu. Sarung yang biasanya jadi barang wajib menjelang Lebaran sekarang banyak yang ditunda,” jelasnya.
Ia berharap kondisi perekonomian segera membaik agar daya beli masyarakat kembali pulih. Sebab bagi para pedagang musiman seperti dirinya, momen Lebaran biasanya menjadi waktu paling menentukan dalam setahun.
“Harapannya sih menjelang hari H Lebaran masih ada peningkatan pembeli. Karena biasanya beberapa hari terakhir orang baru ramai belanja,” pungkasnya.
Fenomena penurunan penjualan ini juga dirasakan sejumlah pedagang lainnya di Blora. Lesunya daya beli masyarakat menjadi sinyal bahwa geliat ekonomi di tingkat bawah masih membutuhkan perhatian serius.
