Jakarta, Tuturpedia.com — Pameran Maestro Film Indonesia 2026: Asrul Sani — Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini memasuki pekan terakhir penyelenggaraan pada 29–30 Agustus 2026. Program yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, ini menghadirkan rangkaian kegiatan berupa pameran arsip, pemutaran film, diskusi publik, hingga pertunjukan seni.
Pameran tersebut menjadi ruang untuk mengenalkan kembali jejak karya Asrul Sani, sosok yang dikenal sebagai sutradara, penulis skenario, sekaligus sastrawan. Pameran arsip ini dapat disaksikan publik secara gratis hingga Minggu, 30 Agustus 2026, pukul 10.00–20.00 WIB di Ruang Museum Koleksi, Gedung Trisno Soemardjo Lantai 2, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Program yang dimulai sejak 21 Agustus 2026 itu merupakan kerja sama antara Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, dan Yayasan Pelaku Sanggar Pelakon. Pameran resmi dibuka oleh Faksi Hanadi Putra, Kepala Bidang Pemanfaatan, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.
Hingga penghujung pekan pertama, pameran telah dikunjungi kurang lebih 1.000 orang. Selama sepuluh hari penyelenggaraan, publik tidak hanya diajak melihat arsip, tetapi juga menikmati berbagai program yang dirancang untuk merawat ingatan terhadap kontribusi Asrul Sani dalam perkembangan perfilman dan kesusastraan Indonesia.
Memasuki pekan kedua sekaligus penutup, penyelenggara menyiapkan dua sesi diskusi publik dan pemutaran delapan judul film yang ditulis dan/atau disutradarai oleh Asrul Sani. Kegiatan pemutaran berlangsung di Studio Asrul Sani yang memiliki kapasitas 90 kursi dan Studio Sjuman Djaya dengan kapasitas 50 kursi. Kedua studio tersebut berada di lantai 4 Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki.

Pada Sabtu, 29 Agustus 2026, rangkaian kegiatan dimulai dengan pemutaran Nagabonar (1987) pada pukul 13.00 WIB di Studio Asrul Sani. Pada waktu yang hampir bersamaan, pukul 13.15 WIB, pengunjung dapat menyaksikan Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1969) di Studio Sjuman Djaya.
Agenda berlanjut pada pukul 15.00 WIB melalui diskusi bertajuk “Asrul Sani & Inovasi Arsip”. Diskusi ini menghadirkan Farry Hanief, Kepala Sinematek, dan Bunga Siagian, peneliti film, dengan Umi Lestari, Ketua Komite Film DKJ, sebagai moderator.
Pembahasan mengenai arsip menjadi bagian penting dalam program penutup karena warisan perfilman tidak hanya berbicara mengenai film yang pernah dibuat, tetapi juga bagaimana jejak karya tersebut dirawat dan dapat kembali diakses publik.
Setelah diskusi, pemutaran Jembatan Merah (1973) dijadwalkan berlangsung pada pukul 15.30 WIB di Studio Sjuman Djaya. Sore harinya, mulai pukul 16.00 hingga 17.30 WIB, pengunjung dapat menyaksikan Live Painting “Reka Ulang Poster Film Asrul Sani” di Area Ruang Museum Koleksi Lantai 4.
Sesi tersebut menghadirkan tiga seniman lukis, yakni Aidil Usman, AR Tanjung, dan Muna Dianur. Mereka akan menginterpretasikan ulang poster-poster film karya Asrul Sani secara langsung di hadapan pengunjung.
Pada malam hari, program dilanjutkan dengan pemutaran Nada dan Dakwah (1991) pada pukul 19.00 WIB di Studio Asrul Sani serta Omong Besar (1988) pada pukul 19.15 WIB di Studio Sjuman Djaya.
Sementara itu, Minggu, 30 Agustus 2026, menjadi hari terakhir pameran. Program dimulai dengan pemutaran Sorta (Tumbuh Bunga di Sela Batu) (1982) pukul 13.00 WIB dan Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1969) pukul 13.15 WIB.
Pada pukul 15.00 WIB, digelar diskusi penutup bertajuk “Asrul Sani sebagai Auteur: Membaca Ulang Visi Penyutradaraan & Skenario”. Diskusi ini menghadirkan sutradara Riri Riza dan dosen film Azalia Muchransyah, dengan Agus Mediarta, pengkaji film, sebagai moderator.
Diskusi tersebut mengajak publik membaca kembali posisi Asrul Sani sebagai auteur dengan mempertemukan visi penyutradaraan dan kekuatan penulisan skenarionya dalam satu pembacaan yang utuh.
Rangkaian hari terakhir kemudian dilanjutkan dengan pemutaran Terimalah Laguku (1953) pukul 15.30 WIB, Pagar Kawat Berduri (1961) pukul 19.00 WIB, dan Ibu Sejati (1973) pukul 19.15 WIB.
Seluruh rangkaian pemutaran film, diskusi, dan live painting terbuka untuk umum dan gratis. Program ini sekaligus menjadi penutup dari sepuluh hari Pameran Maestro Film Indonesia 2026: Asrul Sani.
Kehadiran pameran tersebut memperlihatkan upaya untuk mendekatkan karya Asrul Sani kepada generasi masa kini sekaligus menjaga ingatan publik terhadap kontribusinya bagi perfilman dan kesusastraan Indonesia.
Informasi lebih lengkap mengenai rangkaian program dapat diakses melalui akun Instagram @kineforum, @disbuddki, dan @sanggarpelakon.
Kontributor: Sarah Limbeng | Editor: Permadani T.














