Tuturpedia.com – Sutradara muda berbakat Indonesia, Wregas Bhanuteja bersama Rekata Studio kembali merilis film terbaru bertajuk Para Perasuk (Levitating) yang resmi tayang di bioskop sejak Kamis, 23 April 2026.
Sebelum secara resmi rilis di bioskop tanah air, Para Perasuk lebih dulu tayang dan dinikmati oleh publik Park City di Utah, Amerika Serikat melalui event Sundance Film Festival pada 24 Januari 2026.

Tercatat, pada event tersebut, Para Perasuk berhasil memantik standing ovation saat ditayangkan pada sesi World Cinema Dramatic Competition.
Bukan tanpa alasan, sebab film panjang ketiga garapan Wregas Bhanuteja ini memang mencoba menawarkan ide segar sekaligus memberikan hiburan yang sukses mengusir perasaan suntuk pada ide dan formula film medioker.

Sebagai sutradara, Wregas mengungkapkan bahwa ide Para Perasuk diilhami oleh kecintaan dan obsesinya pada dunia film. Hal yang membuatnya seperti tengah “terasuki”. Wregas menyebut, kerasukan juga mencakup aspek “ketidaksadaran” alih-alih berkaitan dengan roh yang memasuki diri seseorang belaka.
“Posisi antara alam sadar dengan ketidaksadaran itulah yang menjadi inspirasi utama untuk menulis elemen-elemen dari film ini,” jelas Wregas (11/12/25).
Sinopsis dan Pemeran
Para Perasuk berlatar di Desa Latas, sebuah desa kecil yang dikenal dengan tradisi pesta sambetan (kerasukan). Tradisi ini telah menjadi bagian dari tradisi, kehidupan sekaligus hiburan bagi warga setempat.
Konflik muncul ketika mata air roh keramat desa, sumber utama ritual tersebut, terancam digusur oleh korporasi. Kondisi ini lantas memicu kekhawatiran warga Lantas yang mencurigai korporasi tersebut akan mengancam tempat yang memiliki nilai spiritual dan ekonomi bagi warga tersebut.
Dalam situasi itu, diperkenalkanlah tokoh pemuda bernama Bayu (Angga Yunanda) yang bertekad menjadi Perasuk Utama. Ia ingin memimpin pesta besar untuk mengumpulkan dana demi menyelamatkan mata air roh.

Namun, perjalanan Bayu ternyata tidak berjalan mudah. Ia mulai menyadari bahwa ambisi saja tidak cukup untuk menjadi Perasuk sejati dan menyelamatkan desanya.
Selain Angga Yunanda, film ini juga dibintangi sejumlah aktor dan aktris ternama seperti Maudy Ayunda, Chicco Kurniawan, Anggun, Brian Domani, Ganindra Bimo, hingga Indra Birowo.


Review dan Pembahasan
Sekitar tahun 2023, sempat ramai dibahas bahwa Wregas Bhanuteja akan menelurkan film bergenre horor. Hal yang kemudian memantik pertanyaan di benak banyak orang, bagaimana jadinya jika sutradara yang dikenal punya taste unik ini membuat film horor.
Alih-alih menampilkan kisah horor kerasukan yang lazim disajikan sineas Indonesia. Para Perasuk justru menawarkan hal yang baru dan tentunya fresh, Wregas secara arif memposisikan kerasukan sebagai pengalaman komunal yang sarat euforia.

Para Perasuk secara jeli menampilkan kerasukan sebagai pengalaman spiritual serta semacam pelarian bagi orang-orang yang tengah dibebani beratnya cobaan kehidupan untuk sejenak bebas dan merayakan kebahagiaan dalam alam imaji. Ide segar inilah yang kemudian diolah oleh Wregas menjadi nyawa dan fondasi kuat bagi kisah yang berusaha dituturkan Wregas.
Nyawa dan fondasi itu lalu diejawantahkan Wregas menjadi kekuatan untuk membangun dunia baru yang kuat dan believeable. Secara jeli, Wregas menciptakan alam sambeten, lore tentang berbagai roh binatang, serta perayaan sambetan yang digambarkan secara detail.

Bagi penonton casual, pada bagian awal film mungkin memerlukan sedikit waktu untuk menyesuaikan diri dan mencerna semesta yang diciptakan Wregas. Namun bukan Wregas namanya kalau tak mampu membuat penonton masuk ke alam pikirannya yang imajinatif, memadukan antara yang hayal dan nyata, tempat di mana logika menjadi nomor dua dan menomorsatukan perasaan. Hal ini lantas membuat siapapun yang menonton Para Perasuk akan merasakan energi yang sama seperti yang Wregas maksud.
Namun, Para Perasuk tetap tidak melupakan yang namanya aturan main. Maka meski dunianya dibuat sangat unik dan cenderung aneh, hal tersebut tidak terkesan mengganggu dan justru bertransformasi menjadi daya tarik utama yang meyakinkan.

Selain balutan fantasi yang kuat, film ini juga menyimpan drama yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti konflik keluarga, romansa, ketimpangan sosial, serta benturan budaya dan generasi. Lapisan yang variatif itu membuat Para Perasuk juga memiliki emosi nyata yang terasa dekat. Walaupun pada sepertiga akhir film, ada banyak opsi yang sebenarnya bisa dipilih Wregas sebagai alternatif cerita yang lebih baik.
Dari sisi teknis, Para Perasuk menawarkan sinematografi yang megah dan amat menonjol. Visualnya terasa memiliki identitas kuat didukung dengan komposisi gambar yang kaya, atmosfer yang konsisten, serta tentunya colour grading yang memanjakan mata. Gunnar Nimpuno yang sudah sering didapuk Wregas menjadi DoP untuk film-film karyanya kembali menampilkan performa apik yang berhasil menghidupkan fantasi penuh warna dan tekstur dalam gelaran pesta sambetan. Sinematografi yang masterpiece ini juga sekaligus mencoba menutup dosa pada beberapa efek visual digitalnya yang belum sepenuhnya mulus.
Hal yang tentunya paling mencuri perhatian adalah musik skoring, original soundtrack, serta koreografi yang berkontribusi besar memberi warna pada film Para Perasuk. Racikan musik Yennu Ariendra yang berkolaborasi dengan Anggun berhasil menciptakan mantra-mantra magis serta dendang nan ciamik, membuat siapapun yang mendengarnya akan turut menganggukkan kepala tanda menikmati nuansa emosional.
Tiupan selumpret Angga Yunanda, petikan gitar elektrik Chicco Kurniawan, serta tabuhan tam-tam Bryan Domani terasa sangat ikonik dan mengundang perasaan yang sulit diutarakan. Menyalakan semangat, tapi juga memberi rasa takut, memadamkan kekhawatiran tapi sekaligus memantik rasa ngeri.

Last but not least, tentunya adalah penampilan pada pemain. Wregas sukses mengarahkan pemain-pemain andalannya untuk tampil solid dan tangkas. Angga Yunanda yang didapuk memerankan Bayu secara intens menunjukkan akting yang meyakinkan dalam upaya menampilkan gejolak batin antara ambisi dan luka nurani. Maudy Ayunda sebagai conpatriot Angga juga tampil total dengan peran Laksmi yang menuntutnya menunjukkan ekspresi fisik yang tak biasa serta komitmennya untuk tak memakai alas kaki sepanjang film. Tak kalah mencuri perhatian, Bryan Domani dan Chicco Kurniawan juga sukses memerankan abang-abangan kampung yang rese dan menyebalkan serta bersahaja dan membumi.
Indra Birowo yang akrab dikenal lewat peran-perannya yang cenderung komikal, di film ini justru menampilkan karakter yang serius, lengkap dengan dinamika emosi yang kuat dalam relasinya sebagai ayah dan caranya mentreatment anak. Lebih lanjut, kita tentunya tak boleh melupakan sosok yang menjadi MVP di film Para Perasuk, the one and only, Anggun C. Sasmi. Penampilan debut film panjang pertamanya ini mengejutkan banyak orang, sebab ia yang selama ini dikenal dengan citra glamor dan mewah justru ditampilkan sebagai sosok yang apa adanya, natural, berkarakter dan tentunya sukses menjadi scene stealer di film ini. Ia secara baik dapat menggambarkan pribadi yang penuh warna, tegas, dan juga mengayomi.
Sebagai penutup, Para Perasuk adalah film yang cukup revolusioner dan berani menapaki jalan yang berbeda. Ia tak mencoba menyenangkan penonton dengan formula yang aman tapi justru memilih bereksperimen dengan gagasan, cara bertutur, serta bentuk visual. Hal yang mungkin harus dibayar mahal dengan hasil berupa jumlah penonton yang tak banyak. Namun disitulah letak kekuatannya, bagi mereka yang tengah mencari tontonan segar nan unik dan kaya tafsir, film karya Wregas ini tentu sangat layak masuk ke dalam daftar wajib tonton. Wregas sekali lagi mampu menciptakan pengalaman sinematik nan segar yang sukses mengusir suntuk pada formula yang klise dan repetitif.***














