Tuturpedia.com — Momentum langka terjadi ketika Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 berdekatan dengan Idul Fitri 1447 Hijriah. Menyikapi hal ini, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, I Nyoman Kenak, mengingatkan pentingnya menjaga harmoni, terutama terkait penggunaan pengeras suara saat malam takbiran.
Ia menegaskan bahwa kedua hari suci tetap dapat dijalankan secara berdampingan apabila masyarakat mengedepankan sikap saling menghormati. Ia lantas menekankan nilai kearifan lokal Bali. Sagilik Saguluk Salunglung Sabayantaka adalah filosofi Bali yang mencerminkan semangat persatuan dalam keberagaman.
“Kuncinya adalah Pawongan atau hubungan harmonis antar-sesama manusia,” ujarnya.
Dalam praktiknya, perhatian utama tertuju pada potensi kebisingan saat malam takbiran yang waktunya berdekatan dengan Nyepi, hari yang identik dengan keheningan total melalui pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Karena itu, masyarakat diimbau menyesuaikan penggunaan pengeras suara agar tidak mengganggu kekhusyukan umat Hindu yang menjalankan tapa, brata, dan meditasi.
Lebih lanjut, ia juga menekankan bahwa takbiran tetap dapat dilaksanakan dengan penyesuaian, seperti dilakukan di lingkungan masjid atau musala terdekat tanpa penggunaan pengeras suara berlebihan serta tanpa arak-arakan yang menimbulkan kebisingan.
Fenomena berdekatan antara Nyepi dan Idul Fitri tergolong jarang terjadi, mengingat keduanya menggunakan sistem kalender berbeda, Saka dan Hijriah. Dalam beberapa dekade terakhir, peristiwa ini hanya terjadi dalam momen tertentu ketika perhitungan kalender keduanya saling beririsan.
Menurut I Nyoman Kenak, situasi ini justru menjadi ujian sekaligus peluang untuk menunjukkan kedewasaan dalam kehidupan beragama. Ia berharap masyarakat Bali tetap menjaga tradisi toleransi yang telah mengakar kuat.
Dengan komunikasi yang baik antara tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat, dua perayaan besar ini diyakini tetap dapat berlangsung damai dan khidmat. Bali pun kembali diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana keberagaman dapat dirawat dalam harmoni.***
