Sukabumi, Tuturpedia.com — Setelah sukses memikat penonton tahun lalu, Musikal Sri Asih 1989 kembali membuka tirai dan siap membawa publik pada perjalanan nostalgia yang lahir dari tanah Sukabumi sendiri. Pertunjukan ini akan berlangsung di Gedung Juang 45 Sukabumi pada 28–29 November, menghadirkan kisah tentang kebanggaan, kehilangan, dan memori yang tak pernah padam.
“Kita kembali lagi,” bunyi pesan penyelenggara dalam keterangan resmi mereka. Sebuah penanda sederhana namun penuh makna: cerita yang pernah menggetarkan hati penonton akan dihidupkan sekali lagi.
Menguak Romansa Masa Lalu
Cerita Sri Asih 1989 berkisah tentang sebuah gedung pertunjukan yang pernah menjadi simbol kebanggaan warga Sukabumi—tempat berjumpanya seniman, penampil muda, dan para penikmat seni. Tetapi semua itu hilang saat gedung tersebut hangus dilahap api. Namun memori, sebagaimana seni itu sendiri, tidak mudah padam.
“Cerita tentang sebuah gedung pertunjukan yang dulu jadi kebanggaan, lalu hilang ditelan api dan bagaimana kenangannya masih hidup sampai hari ini,” tulis tim produksi. Narasi ini menjadi pondasi utama pementasan, menggambarkan perjalanan sebuah komunitas seni yang mencoba bangkit dari puing-puing sejarahnya.
Dengan pendekatan musikal, pementasan menggambarkan kolaborasi antara drama, musik orkestra, koreografi teatrikal, serta elemen sinematik yang kuat. Penonton akan diajak menyusuri dua waktu berbeda—masa kejayaan dan masa kehancuran—yang berpadu dalam panggung modern.
Seni sebagai Ingatan Kolektif
Sri Asih 1989 bukan sekadar hiburan panggung. Ia adalah arsip, sebuah upaya melestarikan ingatan kolektif melalui seni. Ditulis oleh kreator muda Sukabumi, musikal ini menjadi bukti bagaimana komunitas lokal mampu menghidupkan kembali nilai sejarah melalui karya teater.
Kota Sukabumi sendiri kini semakin aktif menggelorakan ruang-ruang kreatif, baik melalui komunitas seni, pelaku UMKM, hingga program seni pertunjukan. Kehadiran Sri Asih 1989 memperkuat pesan itu: bahwa seni dapat menjadi jembatan antara generasi lama dan baru.
Ajak Kembali ke Masa 1989
“Tahun ini… kita kembali lagi,” begitu mereka menegaskan. Bagi penyelenggara, bukan sekadar mengulang. Ini soal menghadirkan pengalaman baru, memperkaya perspektif, dan membangun keterhubungan emosional antara penonton dengan kota yang mereka tinggali.
Sutradara pementasan menegaskan bahwa musikal ini bukan hanya tentang nostalgia belaka. Ia berharap penonton pulang membawa refleksi: bahwa nilai sebuah ruang seni tidak hanya bergantung pada gedungnya, tetapi pada manusia-manusia yang menghidupinya.
Musikal Sri Asih 1989 hadir sebagai ajakan: Siap balik ke masa itu?
Karena beberapa kenangan tak layak dilupakan—dan seni adalah cara terbaik untuk menghidupkannya kembali.
