Menenun Tradisi dalam Nafas Iman: Pesan Mendalam Ketua DPRD Blora Mustopa di Momentum Ruwatan dan Wayangan Suroan 2026

TUTURPEDIA - Menenun Tradisi dalam Nafas Iman: Pesan Mendalam Ketua DPRD Blora Mustopa di Momentum Ruwatan dan Wayangan Suroan 2026
banner 120x600

Blora, Tuturpedia.com – Kebudayaan dan spiritualitas bukanlah dua jalan yang saling bertolak belakang, melainkan dua sayap yang menerbangkan peradaban manusia menuju keluhuran budi. Esensi inilah yang tercermin kuat dalam rangkaian acara “Ruwatan lan Wayangan Suroan DPRD Kabupaten Blora 2026” yang digelar mulai tanggal 2 hingga 4 Juli 2026.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Ketua DPRD Kabupaten Blora, Mustopa, memberikan sebuah pesan mendalam yang menggetarkan hati masyarakat. Beliau menegaskan bahwa upaya nguri-nguri (melestarikan) kebudayaan Jawa sama sekali tidak boleh menanggalkan atau menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai keislaman. Sebaliknya, tradisi harus menjadi jembatan yang memperkokoh iman dan ketakwaan kepada Sang Pencipta.

Harmoni Budaya dan Syariat: Membuka Suro dengan Doa dan Al-Qur’an

Pesan bermakna dari Ketua DPRD Blora ini bukan sekadar retorika formalitas. Implementasi nyata dari integrasi nilai Islam dan budaya Jawa terlihat jelas sejak hari pertama rangkaian acara dimulai, seperti yang diabadikan dalam poster resmi.

Sebelum pagelaran seni wayang kulit dan ritual adat menyapa publik, DPRD Kabupaten Blora terlebih dahulu mengetuk pintu langit. Rangkaian Suroan dibuka pada Kamis, 2 Juli 2026 pukul 18.00 WIB dengan agenda Manaqiban dan Khataman Al-Qur’an oleh seluruh jajaran Sekretariat DPRD di dalam Gedung DPRD Kabupaten Blora.

“Kebudayaan Jawa yang adiluhung senantiasa sarat dengan simbol penyerahan diri kepada Tuhan. Memulai momentum bulan Suro dengan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan manaqib adalah penegasan bahwa tauhid dan iman adalah fondasi utama dari setiap langkah kebudayaan kita,” ujar Mustopa dalam pesannya.

TUTURPEDIA - Menenun Tradisi dalam Nafas Iman: Pesan Mendalam Ketua DPRD Blora Mustopa di Momentum Ruwatan dan Wayangan Suroan 2026

Ruwatan sebagai Simbol Pembersihan Jiwa dan Doa Keselamatan

Melangkah pada hari puncak, Sabtu, 4 Juli 2026 pukul 12.30 WIB, dilaksanakanlah ritual Ruwatan di dalam Gedung DPRD Kabupaten Blora yang diikuti oleh Anggota DPRD serta jajaran Sekretariat. Bagi masyarakat Jawa, ruwatan sering kali dipandang sebagai ritus membuang sengkolo (kesialan).

Namun, di bawah arahan keteladanan yang bernafaskan Islam, makna ruwatan ini diperluas secara mendalam sebagai bentuk muhasabah (introspeksi diri), permohonan ampunan (istighfar), dan doa bersama agar seluruh wakil rakyat beserta staf senantiasa diberikan keselamatan, kejernihan berpikir, serta kebersihan hati dalam mengemban amanah rakyat Blora.

Wayangan: Tontonan yang Menjadi Tuntunan Hidup

Malam harinya, Sabtu, 4 Juli 2026 pukul 20.00 WIB, halaman DPRD Kabupaten Blora berubah menjadi lautan estetika dan filosofi lewat Pagelaran Wayang Kulit dan Hiburan Umum yang dibuka secara luas untuk seluruh masyarakat Blora.

Ketua DPRD Blora, Mustopa, mengingatkan kembali memori kolektif bangsa tentang bagaimana para Wali Songo terdahulu menggunakan wayang sebagai media dakwah yang sangat efektif. Wayang bukan sekadar tontonan visual semata, melainkan medium tuntunan hidup. Karakter ksatria yang membela kebenaran, melawan kebatilan, dan pasrah pada takdir Ilahi adalah cerminan dari akhlakul karimah dalam Islam.

Catatan Refleksi: Warisan untuk Generasi Masa Depan

Melalui rangkaian acara yang tertata apik ini, DPRD Kabupaten Blora di bawah kepemimpinan Mustopa berhasil memberikan teladan berharga:

Identitas yang Kokoh: Menjadi Muslim yang taat tidak berarti harus melupakan akar budaya Jawa yang membentuk jati diri.
Sinergi Harmonis: Kebudayaan justru menjadi wadah yang indah untuk mengekspresikan rasa syukur kepada Allah SWT.

Persatuan Nasional: Melalui pagelaran budaya yang merakyat, sekat-sekat sosial melebur, melahirkan guyub rukun di bumi Blora.

Acara Suroan tahun 2026 ini akan dikenang bukan hanya karena kemeriahan pementasannya atau keindahan ornamen gunungan dan tumpeng yang disajikan, melainkan karena pesan spiritualnya yang menghujam dalam. Bahwa nguri-nguri budaya adalah merawat warisan leluhur, dan menjaga nilai keislaman adalah menjaga keselamatan abadi. Keduanya berjalan beriringan, seirama, membawa Blora menuju daerah yang berkah, maju, dan bermartabat.

Penulis: Lilik Yuliantoro Editor: Permadani T.
tuturpedia.com - 2026