Blora, Tuturpedia.com – Isu sensitif mengenai kasus pencabulan di lingkungan pesantren kembali mencuat dan menjadi perhatian serius. Menyikapi hal tersebut,
M Ahmad Faishol Nadjib (Gus Faishol) Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hikmah Ngadipurwo, Blora, Jawa Tengah, pun memberikan pernyataan tegas.
Bahkan, pihaknya juga menegaskan bahwa fenomena ini sudah berada dalam fase mengkhawatirkan, bahkan diibaratkan “Gunung Es”—dimana kasus yang terungkap dan terlaporkan hanyalah sedikit dari realitas yang sebenarnya.
Dalam sebuah pernyataannya pada akwa media ini, Gus Faishol menyoroti betapa seringnya kasus-kasus tersebut ditutup-tutupi. Minggu, (30/11/2025).
“Itu pencabulan di pesantren. Bukan dugaan, lho. Maksudnya, ada fakta-fakta yang seperti Gunung Es itu, seperti teori Gunung Es. Jadi, yang terjadi berapa kali itu memang sering ditutup-tutupi,” ujar Gus Faishol.
Mendorong Keterbukaan dan Pencegahan (Tarbiyah Jinsiyah)
Menanggapi kondisi ini, Ponpes Al-Hikmah Ngadipurwo mengambil langkah berani dan transparan. Mereka secara terbuka mengadakan sesi Tarbiyah Jinsiyah (Edukasi Kesehatan Seksual) yang bertema “Kasus Pencabulan di Pesantren” (sesuai poster yang terlampir).
Gus Faishol menjelaskan bahwa tujuan utama pengungkapan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran dan kehati-hatian.
“Kita penginnya memperlihatkan dan memberitahu apa adanya, bahwasanya hal ini sudah sering maupun banyak terjadi serta di tutup-tutupi,” tuturnya.
“Maka dari itu Ponpes Al-Hikmah pun mengadakan sosialisasi dakwah pentingnya ‘Tarbiyah Jinsiyah’, ini difokuskan pada santri putri sebagai upaya perlindungan- pembekalan diri. agar apa ? agar santri dan pengajar sadar bahwa kita harus berhati-hati dan waspada,” tuturnya kembali.
Terlepas dari itu, kegiatan ini mencerminkan komitmen Ponpes Al-Hikmah Ngadipurwo untuk menjadikan lingkungan pesantren sebagai tempat yang aman dan membekali santri dengan pengetahuan yang benar mengenai kesehatan seksual dan batasan pribadi.
Pesan Kunci: Ponpes Al-Hikmah Ngadipurwo mendorong agar lembaga pendidikan lain tidak lagi menganggap isu ini tabu, melainkan berani terbuka dan memberikan edukasi dini sebagai langkah pencegahan paling efektif terhadap krisis kekerasan seksual yang terus membesar.
