Indeks

Laga Eksibisi dan Perdebatan Upah Setara: Saat Sepak Bola Putri Dibandingkan dengan Tim Putra

Tuturpedia.com – Perdebatan soal kesetaraan bayaran antara pesepak bola putra dan putri kembali mencuat setelah beredarnya video yang memperlihatkan pertandingan eksibisi antara tim wanita top dunia dan pemain pria veteran di Inggris. Cuplikan tersebut ramai dibicarakan di media sosial dan kembali menghidupkan diskusi lama tentang perbandingan performa dan perlakuan dalam sepak bola.

Tim putri yang muncul dalam narasi video itu merujuk pada United States women’s national soccer team, salah satu kekuatan dominan di pentas internasional. Tim ini dikenal sebagai langganan juara FIFA Women’s World Cup dengan empat gelar juara dan reputasi kuat di kancah sepak bola putri global.

Dalam tayangan yang beredar, tim tersebut dikisahkan menantang skuad pria yang berisi mantan pemain dari klub divisi bawah Inggris Wrexham A.F.C.. Alih-alih menurunkan pemain aktif, pihak lawan disebut mengirimkan para pemain yang telah pensiun. Pertandingan eksibisi itu yang bersifat informal dilaporkan berakhir dengan skor 12–0 untuk tim pria.
Cuplikan lain yang viral menunjukkan dua pemain yang pernah membela Crystal Palace F.C., yakni Wilfried Zaha dan Yannick Bolasie, saat mengikuti sesi latihan bersama tim putri klub tersebut.

Sorotan Alisha Lehmann Tentang Kesetaraan Upah

Nama salah satu bintang sepak bola wanita, Alisha Lehmann, juga ikut mencuat dalam diskusi ini karena pernyataannya soal kesetaraan upah di sepak bola. Pemain asal Swiss yang pernah bermain di ­Aston Villa dan kemudian bergabung dengan Leicester City itu secara terbuka mengkritik perbedaan bayaran antara pesepak bola pria dan wanita, termasuk jika dibandingkan dengan gaji pasangannya, Douglas Luiz.

Lehmann mengatakan dalam wawancara dengan media Italia bahwa meskipun mereka melakukan pekerjaan yang sama sebagai pesepak bola profesional, perbedaan bayaran yang sangat besar masih ada di dunia sepak bola.

“Setelah latihan, saya sering bilang kepada Douglas bahwa ini tidak adil. Kami melakukan pekerjaan yang sama, tetapi dia menghasilkan jauh lebih banyak dari saya.” ucapnya.

Ia menyebut ketidaksetaraan itu “mempengaruhi saya karena saya seorang perempuan” dan bahwa perjuangan untuk mencapai gaji setara masih panjang serta merupakan bagian dari proses yang perlu didukung oleh banyak pihak di industri olahraga.

Pernyataan Lehmann mencerminkan suara yang makin sering terdengar dari kalangan pemain wanita yang menuntut pengakuan dan perlakuan yang lebih adil dalam payung dunia sepak bola, baik di klub maupun kompetisi internasional, termasuk soal peluang, hak siar, pendapatan sponsor, dan dukungan infrastruktur.

Interpretasi dan Diskusi Publik

Video eksibisi antara tim putri top dan mantan pemain pria itu kemudian sering dipakai oleh sebagian netizen untuk memunculkan argumen bahwa sepak bola putra dan putri tidak bisa dibandingkan secara langsung karena perbedaan intensitas fisik dan dinamika permainan.

Namun sebagian pengamat olahraga menilai bahwa pertandingan lintas gender yang bersifat hiburan atau latihan tidak relevan sebagai dasar penilaian struktur gaji profesional.

Isu kesetaraan bayaran sendiri, termasuk tuntutan tim putri Amerika atas persamaan perlakuan dengan tim putra usia mereka, telah lama menjadi perdebatan global karena melibatkan banyak faktor kompleks seperti dukungan federasi, pemasaran komersial, hak siar televisi, dan minat publik yang berkembang pesat terhadap sepak bola wanita.

Perdebatan ini menunjukkan bahwa diskursus tentang sepak bola putra dan putri tidak hanya berhenti pada skor pertandingan eksibisi atau perbandingan fisik. Ada persoalan ekonomi olahraga, struktur industri, serta tuntutan kesetaraan yang terus berkembang seiring meningkatnya perhatian terhadap sepak bola wanita di dunia.

Jika Anda ingin artikel ini dilengkapi dengan bahasan dampak sosial, statistik pendapatan atau respon para federasi terhadap tuntutan upah setara, saya bisa bantu lengkapi juga.***

Exit mobile version