Pekalongan, Tuturpedia.com – Di balik situasi sulit akibat banjir yang melanda Kota Pekalongan, terselip kisah haru yang membawa harapan baru bagi Fitria (27). Perempuan penyandang disabilitas mental dan fisik ini akhirnya mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan, sesuatu yang selama ini hanya bisa ia impikan.
Harapan itu muncul saat Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengunjungi posko pengungsian di Aula Kecamatan Pekalongan Barat, Senin (19/1/2026). Saat itu, tercatat sekitar 449 warga mengungsi di lokasi tersebut.
Ketika menyapa para pengungsi, perhatian Gus Yasin—sapaan akrab Wakil Gubernur—terhenti pada sosok Fitria. Ia pun berbincang dengan sang ibu, Siti Qomariah (52), warga Kelurahan Bendan Kergon, Kecamatan Pekalongan Barat. Dari obrolan singkat itu terungkap bahwa Fitria belum pernah mengenyam pendidikan formal, bukan karena kemauan, melainkan keterbatasan kondisi dan ekonomi keluarga.

Mendengar cerita tersebut, Gus Yasin langsung meminta ajudannya mencatat data Fitria. Ia pun menyampaikan komitmennya untuk membantu agar Fitria bisa bersekolah.
“Harus dipastikan sekolahnya bagaimana,” ucapnya singkat namun tegas.
Tak berhenti di situ, Gus Yasin juga secara khusus menitipkan Fitria kepada Camat Pekalongan Barat agar proses pendidikan bisa segera ditindaklanjuti.

“Pak Camat, kulo nitip anak ini supaya bisa sekolah,” ujarnya.
Camat Pekalongan Barat, M. Natsir, menyatakan siap menindaklanjuti arahan tersebut. Ia akan segera berkoordinasi dengan dinas pendidikan untuk menentukan sekolah yang paling sesuai dengan kondisi Fitria.
“Kami akan koordinasi dengan dinas pendidikan, mencari sekolah yang paling tepat untuk anak ini,” katanya.
Bagi Siti Qomariah, perhatian dan bantuan itu menjadi momen yang sangat mengharukan. Selama ini, ia mengaku tak mampu menyekolahkan Fitria karena keterbatasan ekonomi dan kondisi keluarga.
Siti bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang harus berangkat sejak pagi dan pulang menjelang sore. Sementara itu, sang suami dalam kondisi sering sakit, sehingga tak bisa banyak membantu.
“Saya tidak bisa mengantar, bapaknya juga sakit-sakitan. Kalau saya tidak kerja, ya tidak makan,” tuturnya lirih.
Ia pun tak kuasa menahan rasa syukur. Sebelumnya, Fitria telah menerima bantuan kursi roda dari Dinas Sosial. Namun, kesempatan untuk bersekolah menjadi bantuan yang jauh lebih bermakna baginya.
“Senang sekali. Baru kali ini ada yang mau membantu sampai urusan sekolah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.***
Kontributor Jawa Tengah: Rizal Akbar















