Tuturpedia.com — Kamis Pagi, 26 Februari 2026 berubah menjadi hari yang tak pernah dilupakan civitas akademika Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau. Seorang mahasiswi bernama Faradilla Ayu Pramesti, yang tengah bersiap menghadapi sidang proposal skripsinya, tiba-tiba menjadi korban pembacokan oleh salah seorang rekannya di lingkungan kampus yang seharusnya menjadi ruang aman belajar dan bertukar gagasan.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIB di koridor Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum. Saksi mata mengatakan korban sedang menunggu giliran sidang ketika pelaku, yang juga mahasiswa di kampus yang sama, muncul tiba-tiba sambil membawa senjata tajam.
Tanpa peringatan, ia menyerang Faradilla dengan kapak di depan mahasiswa lain yang panik dan tidak berani mendekat. Petugas keamanan akhirnya berhasil mengamankan pelaku setelah beberapa saat aksi berlangsung.
Motif Asmara yang Membelit
Penyelidikan polisi kemudian mengungkap sisi gelap dari insiden ini. Pelaku yang berinisial Raihan Mufazzar (21) mengaku telah merencanakan penyerangan terhadap Faradilla sejak beberapa bulan terakhir, dipicu oleh rasa sakit hati setelah cintanya ditolak sang korban. Dalam pemeriksaan, polisi mencatat pelaku membawa dua senjata tajam kapak dan parang yang ia siapkan jauh sebelum hari kejadian. Ada indikasi tindakan ini bukan impuls sesaat, melainkan hasil obsesi yang berkembang selama beberapa waktu.
Kabid Humas Polda Riau Kombes Zahwani Pandra Arsyad menyatakan bahwa motif awalnya berakar pada dendam dan sakit hati, yang kemudian berkembang menjadi agresi yang membahayakan jiwa.
Di tengah proses hukum yang berjalan, ruang publik diramaikan dengan beredarnya foto-foto yang memperlihatkan kedekatan pelaku dan korban. Beberapa gambar menunjukkan keduanya dalam pose bermesraan, bahkan berciuman. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa hubungan mereka bukan sekadar perkenalan biasa, melainkan relasi romantis yang kemudian retak. Namun, aparat menegaskan bahwa apa pun dinamika hubungan tersebut, tindakan kekerasan tidak dapat dibenarkan.
Kondisi Korban dan Respons Kampus
Akibat serangan itu, Faradilla mengalami luka serius di beberapa bagian tubuh. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan intensif dan sempat dirujuk ke fasilitas medis yang lebih lengkap. Keluarga dan teman-teman jauh dari kampus menggambarkan suasana haru dan cemas menyelimuti ruang instalasi gawat darurat saat kabar itu menyebar.
Pihak UIN Suska Riau juga angkat bicara. Rektor dan dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum membentuk tim etik internal segera setelah kejadian dan menegaskan akan mengambil langkah tegas terhadap pelaku, termasuk kemungkinan pemecatan dari status mahasiswa. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga citra dan keamanan sivitas akademika.
Sorotan Publik dan Seruan Evaluasi Keamanan Kampus
Insiden berdarah ini tak hanya mengguncang lingkungan kampus, tetapi juga menarik perhatian publik dan para wakil rakyat.
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut dan menekankan bahwa tindakan kekerasan tidak seharusnya mewarnai ruang akademik. Ia menyerukan evaluasi ketat terhadap sistem keamanan di lingkungan kampus, termasuk deteksi dini potensi konflik interpersonal di antara mahasiswa.
Bagi banyak mahasiswa, kejadian ini menjadi pengingat pahit bahwa masalah pribadi terutama hubungan dan emosi, bila tidak ditangani dengan dewasa bisa berubah menjadi tragedi yang menghancurkan kehidupan orang lain.
Kejadian ini pun memicu diskusi luas tentang pentingnya pendampingan psikososial di kampus serta kesiapan lembaga pendidikan menghadapi dinamika emosional mahasiswa.
