Tuturpedia.com — Peta kemampuan bahasa Inggris di Asia kembali menunjukkan kesenjangan yang cukup lebar. Berdasarkan laporan terbaru EF Education First melalui riset EF English Proficiency Index 2025 (EPI), sejumlah negara Asia berhasil mencatatkan skor tinggi, sementara sebagian lainnya, termasuk Indonesia, masih tertinggal.
Dalam daftar tersebut, Malaysia tampil sebagai negara Asia dengan kemampuan bahasa Inggris terbaik dengan skor EPI 581 dan menempati peringkat ke-24 dunia. Disusul Filipina di posisi ke-28 dunia dengan skor 569. Kedua negara ini secara konsisten berada dalam kategori “kemampuan tinggi” dalam beberapa tahun terakhir.

Di bawahnya, Hong Kong (538) dan Korea Selatan (522) juga menunjukkan performa solid, menandakan kuatnya penguasaan bahasa Inggris di kawasan Asia Timur. Sementara itu, negara-negara Asia Selatan seperti Nepal (514) dan Bangladesh (506) berada di kategori menengah.
Di sisi lain, Vietnam (500), Pakistan (493), Sri Lanka (486), dan India (484) mencerminkan kemampuan bahasa Inggris yang cukup, meski belum merata di seluruh populasi.
Indonesia, dalam laporan ini, berada di posisi ke-80 dunia dengan skor 471, masuk dalam kategori kemampuan rendah. Posisi ini menempatkan Indonesia di bawah beberapa negara berkembang lain di Asia, termasuk Vietnam dan Bangladesh.
Laporan EPI 2025 ini kembali menegaskan bahwa faktor sejarah, kebijakan pendidikan, dan eksposur terhadap bahasa Inggris memainkan peran penting. Negara seperti Malaysia dan Filipina diuntungkan oleh penggunaan bahasa Inggris yang luas dalam sistem pendidikan dan pemerintahan.
Sebaliknya, Indonesia masih menghadapi tantangan struktural, mulai dari kualitas pengajaran, akses pendidikan yang belum merata, hingga minimnya penggunaan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, Singapura tidak disertakan dalam pemeringkatan ini. EF Education First mengklasifikasikan negara tersebut sebagai negara dengan bahasa Inggris yang berfungsi sebagai bahasa utama, sehingga tidak relevan untuk dibandingkan dengan negara lain yang menjadikannya sebagai bahasa asing.
Kemampuan bahasa Inggris bukan sekadar soal komunikasi, tetapi juga berkaitan erat dengan daya saing global. Negara dengan tingkat kemahiran tinggi cenderung lebih unggul dalam menarik investasi, mengembangkan sektor teknologi, serta berpartisipasi dalam ekonomi global.
Bagi Indonesia, hasil ini menjadi pengingat bahwa peningkatan kualitas pendidikan bahasa Inggris masih menjadi pekerjaan rumah besar. Tanpa perbaikan signifikan, kesenjangan dengan negara tetangga berpotensi semakin melebar.***














