Tuturpedia.com – Suasana peringatan Nuzulul Quran yang digelar Partai Golkar di Jakarta Barat berubah hangat ketika Ketua Umumnya, Bahlil Lahadalia, melontarkan candaan yang langsung memancing tawa para hadirin. Dalam sambutannya, Bahlil menyebut bahwa bagi Golkar, “Lailatul Qadar” memiliki makna yang sedikit berbeda, yakni ketika jumlah kursi partai bertambah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu awalnya mengajak para kader merenungkan fase akhir Ramadan. Ia menggambarkan perjalanan bulan suci seperti waktu yang terus bergerak menuju penghujungnya, sebuah periode yang oleh umat Islam diyakini sebagai saat turunnya malam Lailatul Qadar, malam yang penuh keberkahan.
“Ini sudah menyongsong Lailatul Qadar ya, karena ini mataharinya sudah mulai turun-turun ini. Ibarat kalau perjalanan manusia itu sekarang kita sudah di jam 12, besok sudah mulai turun ke jam 1,” kata Bahlil dalam sambutannya.
Setelah menggambarkan suasana spiritual Ramadan, Bahlil kemudian menyelipkan kelakar yang langsung disambut riuh hadirin.
“Ini Insya Allah kalau orang yang selalu diberikan berkah, secercah harapan Lailatul Qadar sudah mulai turun. Tapi kalau bagi Partai Golkar, Lailatul Qadar itu kalau kursi tambah,” ujarnya.
Meski bernuansa humor, pernyataan tersebut sekaligus mencerminkan ambisi politik Golkar untuk meningkatkan kekuatan di parlemen pada masa mendatang. Tambahan kursi legislatif dianggap sebagai indikator keberhasilan kerja politik partai sekaligus bukti bahwa dukungan publik terhadap Golkar terus menguat.
Di balik candaan itu, Bahlil juga menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Quran seharusnya tidak berhenti pada seremoni semata. Menurutnya, momentum tersebut perlu dimaknai sebagai waktu untuk kembali mendekatkan diri pada nilai-nilai Al-Qur’an serta menjadikannya pedoman dalam kehidupan, termasuk dalam menjalankan kekuasaan.
Ia mengingatkan bahwa jabatan di pemerintahan, baik di lembaga eksekutif maupun legislatif, bukan sekadar alat untuk meraih kekuasaan. Bagi kader Golkar yang memegang posisi publik, kekuasaan harus dipahami sebagai amanah yang membawa tanggung jawab moral kepada masyarakat dan kepada Tuhan.
“Jadi kalau kader Partai Golkar di eksekutif maupun legislatif, ini tidak hanya sekadar kekuasaan yang kita rebut, tapi kekuasaan amanah itu harus menjadi rahmatan lil ‘alamin,” ungkapnya.
Bahlil menambahkan bahwa setiap pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas kekuasaan yang dipegangnya. Karena itu, jabatan seharusnya menjadi sarana pengabdian untuk memberikan manfaat bagi masyarakat luas, bukan sekadar simbol prestise politik.
Selain menyinggung etika kepemimpinan, ia juga menyoroti pesan Al-Qur’an mengenai pentingnya keadilan ekonomi. Menurutnya, kitab suci tersebut mengingatkan agar kekayaan tidak hanya berputar di kalangan segelintir orang, tetapi harus didistribusikan secara adil agar kesejahteraan dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas.
Pandangan tersebut, kata Bahlil, sejalan dengan prinsip yang tertuang dalam konstitusi Indonesia, khususnya semangat keadilan sosial yang tercermin dalam Pasal 33 UUD 1945.
Dengan demikian, meski dimulai dengan candaan yang ringan, pidato Bahlil pada malam itu tetap membawa pesan serius: kekuasaan harus dijalankan dengan landasan moral, nilai agama, serta komitmen untuk menghadirkan keadilan bagi seluruh masyarakat.***
