Semarang, Tuturpedia.com — Keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri (KI) di Jawa Tengah tak sekadar menjadi pusat aktivitas bisnis. Kawasan-kawasan tersebut terbukti memberi dorongan nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
Pada 2025, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,37 persen. Di balik angka itu, ratusan perusahaan yang beroperasi di KEK dan KI ikut menyumbang peran penting.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Ali Said, menjelaskan bahwa kontribusi KEK dan KI terhadap pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai 1,87 persen. Rinciannya, KEK menyumbang 0,98 persen atau sekitar Rp4,86 triliun, sedangkan kawasan industri berkontribusi 0,89 persen atau Rp4,43 triliun.

Tak hanya itu, jika dilihat dari sektor industri pengolahan yang menjadi tulang punggung ekonomi Jateng dengan porsi 33,38 persen pada 2025, kontribusi KEK dan KI bahkan mencapai 3,70 persen. Dari angka tersebut, 2,33 persen berasal dari KEK (Rp3,86 triliun) dan 1,37 persen dari KI (Rp2,26 triliun).
“Ini kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian. Apalagi ini baru dari perusahaan yang sudah beroperasi. Ke depan potensinya masih bisa meningkat,” ujar Ali saat bertemu Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Semarang, Rabu (11/2/2026).
Hingga triwulan IV 2025, perusahaan yang tercatat dalam pendataan BPS antara lain 109 perusahaan di KEK Kendal, 48 perusahaan di KEK Industropolis Batang, 47 perusahaan di Kawasan Industri Candi Semarang, 31 perusahaan di Terboyo, 24 di Wijayakusuma, 17 di BSB Industrial Park, 12 di Jateng Land Park Sayung Demak, 5 di Batang Industrial Park, serta beberapa kawasan lain di Semarang.
BPS memastikan pendataan kawasan ini akan dilakukan rutin setiap triwulan sebagai bagian dari penguatan basis data PDRB Jawa Tengah.
Dalam kesempatan tersebut, Ali juga menyampaikan rencana pelaksanaan Sensus Ekonomi pada Mei hingga Juli 2026. Sensus ini akan memetakan daya saing usaha, struktur ekonomi wilayah, perkembangan UMKM, hingga isu ekonomi hijau dan tantangan yang dihadapi pelaku usaha.
“Kami ingin memotret kondisi riil dunia usaha, termasuk persoalan yang mereka hadapi,” jelasnya.
Gubernur Ahmad Luthfi menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan sensus tersebut. Ia menegaskan akan mengoordinasikan bupati dan wali kota agar mendukung pendataan secara terbuka dan akurat.
Menurut Luthfi, data yang kuat menjadi dasar penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan. Ia pun terus mendorong daerah-daerah di Jawa Tengah untuk mengembangkan kawasan ekonomi dan kawasan industri baru guna memperluas dampak investasi.
Sejumlah wilayah seperti Cilacap, Kebumen, Banyumas, Brebes, Batang, Kendal, Demak, Semarang, hingga Rembang telah menyiapkan langkah ke arah tersebut.
“Dengan adanya kawasan ekonomi dan industri, investasi lebih mudah masuk dan itu akan menggerakkan perekonomian,” kata Luthfi.
Dengan kontribusi yang sudah terlihat nyata dan potensi yang masih terbuka lebar, KEK dan kawasan industri diyakini akan tetap menjadi salah satu motor utama penggerak ekonomi Jawa Tengah ke depan.***
Kontributor Jawa Tengah: Rizal Akbar














