Jakarta, Tuturpedia.com — Penurunan kasus campak hingga 93 persen yang dilaporkan pemerintah mendapat sorotan dari Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto. Selasa, (07/04/2026).
Dirinya , mengingatkan bahwa capaian tersebut tidak boleh membuat semua pihak lengah, karena masih ada persoalan mendasar yang berpotensi memicu lonjakan kasus di masa mendatang.
Pada awal tahun ini, tercatat sebanyak 2.220 kasus campak. Meski angka tersebut menunjukkan tren penurunan, Edy menilai kondisi ini harus dibaca secara kritis, terutama di tengah merosotnya cakupan imunisasi dasar dalam beberapa tahun terakhir.
“Penurunan kasus ini tidak serta-merta mencerminkan kondisi aman. Justru kita harus jujur melihat bahwa cakupan imunisasi dasar kita sempat turun dan tidak mencapai target. Ini yang menjadi akar masalah,” tegasnya, Kamis (2/4).
Menurutnya, lonjakan kasus campak sebelumnya merupakan dampak langsung dari melemahnya sistem imunisasi nasional.
Salah satu indikatornya adalah belum optimalnya pelaksanaan vaksinasi Campak-Rubela. Data September 2022 menunjukkan cakupan vaksinasi dalam program Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) secara nasional hanya mencapai 87,7 persen—masih di bawah target ideal.
Bahkan, di luar wilayah Jawa-Bali, tidak ada daerah yang mampu menembus angka 90 persen.
Sementara di Jawa-Bali, provinsi besar seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat juga belum mencapai target 95 persen. Kondisi ini diperparah oleh pandemi Covid-19 yang sempat mengganggu layanan kesehatan, termasuk program imunisasi.
Edy mengungkapkan, dalam periode 2019 hingga 2021, sekitar 1,7 juta bayi tercatat tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Hal ini menciptakan celah besar terhadap penyebaran penyakit menular seperti campak di masyarakat.
“Meningkatnya insidensi campak belakangan ini adalah akibat kelalaian dalam pelaksanaan program vaksinasi yang tidak mencapai target. Ini jelas menciptakan kerentanan besar,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Edy mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan pembenahan menyeluruh.
Ia menegaskan bahwa upaya tidak cukup hanya mengandalkan imunisasi massal, tetapi juga harus memperkuat sistem pencegahan berbasis komunitas.
Langkah konkret yang perlu dilakukan antara lain percepatan pemulihan cakupan imunisasi dasar, penguatan kembali program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), serta peningkatan deteksi dini di fasilitas layanan kesehatan primer. Selain itu, edukasi publik juga dinilai penting untuk mengatasi keraguan masyarakat terhadap vaksin.
Dengan upaya terpadu dan kesadaran bersama, Edy berharap Indonesia tidak hanya mampu menekan angka kasus, tetapi juga membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh demi melindungi generasi masa depan.





















