Jakarta, Tuturpedia.com — Dalam data terbaru yang dirilis Bank Dunia melalui Macro Poverty Outlook 2025, Indonesia menempati posisi kedua tertinggi di dunia dari segi persentase jumlah penduduk miskin, mengungguli banyak negara berkembang besar lainnya seperti Brasil, China, hingga Argentina.
Menurut visualisasi yang dirilis akun riset publik Tuturpedia, persentase penduduk miskin di Indonesia mencapai 60,3% dari total populasi angka yang jauh lebih tinggi dibanding sejumlah negara berpenghasilan menengah lain. Data ini mengejutkan, terutama ketika dibandingkan negara-negara berpenduduk besar seperti China (11,9%) dan Brazil (20,9%), bahkan melebihi Iran (19,0%) dan Vietnam (18,2%).
Di posisi puncak daftar negara dengan jumlah penduduk miskin terbanyak secara persentase adalah Zimbabwe dengan 84,2% warga hidup di bawah garis kemiskinan. Indonesia berada tak jauh dari puncak, mengungguli El Salvador di urutan ketiga yang mencatatkan 25,1%.
Negara-negara lain dalam daftar 12 besar mencerminkan beragam kondisi ekonomi global: Argentina (13,3%), China (11,9%), Thailand (7,1%), Turki (5,2%), hingga Rusia dan Malaysia yang masing-masing mencatat angka relatif kecil, yakni 1,6% dan 1,3%.
Para analis menilai peringkat ini bukan sekadar angka statistik, tetapi sinyal kuat bahwa tantangan kemiskinan di Indonesia masih besar meskipun telah ada berbagai program pengentasan dalam dekade terakhir. Sementara banyak negara berpendapatan menengah lainnya berhasil menurunkan angka kemiskinan secara signifikan, Indonesia justru berada di posisi yang menghentak.
Bank Dunia sendiri merilis data ini dalam konteks pemantauan global pascapandemi serta dampak ekonomi yang masih dirasakan di banyak negara. Data menyertakan ukuran kemiskinan absolut, memperhitungkan daya beli dan standar hidup minimum, bukan sekadar definisi garis kemiskinan nasional masing-masing negara.
Pengamat ekonomi dari salah satu lembaga riset nasional mengatakan, “Data ini memberi gambaran bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi terjadi, distribusi kesejahteraan masih belum menyentuh akar persoalan kemiskinan secara efektif di banyak daerah.”
Bagi pemerintah Indonesia, data ini sekaligus menjadi wake-up call untuk memperkuat strategi penanggulangan miskin ekstrem dan memperluas akses kesejahteraan secara lebih merata dari kota besar hingga wilayah terpencil.
Menguatnya angka kemiskinan relatif tinggi di Indonesia juga mencerminkan faktor struktural seperti tingginya biaya hidup, disparitas pendapatan, dan tantangan dalam pendidikan serta kesehatan. Data Bank Dunia 2025 ini menjadi bahan evaluasi penting menjelang pembahasan strategi pembangunan 2026–2030.
Lebih jauh, sejumlah pihak berharap laporan ini akan memicu kebijakan yang lebih tajam dan terukur agar target pengentasan kemiskinan nasional dapat terealisasi seiring komitmen Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.***
