Semarang, Tuturpedia.com – Momentum Hari Tani Nasional 2026 bakal menjadi ruang konsolidasi berbagai elemen masyarakat Jawa Tengah. Jateng Guyub mengajak petani, buruh, mahasiswa, nelayan, pekerja informal hingga kelompok pemerhati lingkungan untuk bergandeng tangan menyuarakan kepentingan rakyat. Jumat, (11/09/2026).
Aksi tersebut dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, 22–24 September 2026, di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah.
Jateng Guyub menilai Hari Tani Nasional bukan sekadar momentum bagi kalangan petani. Persoalan tanah, air, pangan dan lingkungan disebut berkaitan langsung dengan kehidupan seluruh masyarakat.
“Persoalan petani adalah persoalan pangan kita. Persoalan tanah adalah persoalan kehidupan kita. Persoalan air adalah persoalan masa depan kita. Kerusakan lingkungan adalah ancaman bagi kita semua,” demikian seruan Jateng Guyub.
Ajakan tersebut ditujukan kepada berbagai kelompok masyarakat, mulai dari tani, buruh, mahasiswa, pedagang kaki lima (PKL), perempuan, pengemudi ojek online (ojol), pekerja seni dan budaya, pemerhati lingkungan, budayawan, masyarakat miskin kota dan desa, pemuda, nelayan hingga komunitas masyarakat lainnya.
Jateng Guyub mendorong agar berbagai persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat tidak berjalan sendiri-sendiri. Momentum Hari Tani Nasional diharapkan menjadi titik temu untuk memperkuat solidaritas lintas sektor.
“Kita tidak datang sebagai kelompok yang berbeda-beda. Kita datang sebagai rakyat yang memiliki kepentingan yang sama: hidup layak, tanah yang adil, pangan yang terjangkau, lingkungan yang lestari, dan masa depan yang tidak dirampas,” tegasnya.
Gerakan tersebut mengusung semangat membangun “Kekuatan Rakyat”, dengan mempertemukan berbagai keresahan masyarakat dalam satu ruang perjuangan.
Seruan itu sekaligus menegaskan sejumlah tuntutan mendasar yang menjadi perhatian masyarakat, yakni keadilan atas tanah, akses terhadap pangan yang terjangkau, keberlanjutan lingkungan serta perlindungan terhadap sumber-sumber kehidupan rakyat.
Di akhir seruannya, Jateng Guyub membawa pesan dalam bahasa Jawa yang menjadi slogan gerakan “TANAH KANGGO RAKYAT, BANYU SUMBER PANGURIPAN”.
Aksi tiga hari di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah tersebut juga membawa pesan “Nagih Sing Janji Ngopeni”, sebagai bentuk pengingat kepada pemerintah agar memenuhi janji dan tanggung jawabnya dalam mengurus kepentingan rakyat.
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.














