Yogyakarta, Tuturpedia.com – Tekanan ekonomi mulai terasa semakin nyata di kalangan masyarakat menengah ke bawah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kenaikan harga sejumlah bahan pokok berlangsung di tengah daya beli masyarakat yang melemah, membuat perputaran uang di tingkat pedagang kecil ikut tersendat.
Bagi pelaku usaha yang mengandalkan transaksi harian, kondisi tersebut bukan sekadar angka dalam laporan ekonomi. Sepinya pembeli langsung berpengaruh terhadap jumlah dagangan yang dibawa, omzet yang diterima, hingga kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Yanti, ibu tunggal yang sehari-hari berjualan jajanan pasar keliling di kawasan Ledok Tukangan, Kota Yogyakarta, menjadi salah satu yang merasakan tekanan tersebut.
Sejak awal September, ia terpaksa memangkas volume dagangannya hingga sekitar 50 persen. Keputusan itu diambil karena biaya bahan baku meningkat sementara jumlah pembeli justru menurun.
Minyak goreng, misalnya, kini harus dibeli dengan harga sekitar Rp19.000 per 800 gram. Harga gula dan sejumlah bahan lainnya juga ikut menekan biaya produksi.
Persoalannya, kenaikan biaya produksi tidak bisa serta-merta dibebankan kepada konsumen.
Harga dinaikkan sedikit, pembeli bisa semakin enggan membeli. Namun jika harga dipertahankan, keuntungan pedagang semakin tipis.
“Dagangan dikurangi karena kalau terlalu banyak, takut tidak habis,” demikian gambaran kondisi yang dihadapi pedagang kecil ketika daya beli masyarakat melemah.
Bahkan, menurutnya, pelanggan dari kalangan aparatur sipil negara (ASN) yang sebelumnya relatif rutin membeli jajanan kini mulai mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan tersebut.
Omzet Angkringan Anjlok 70 Persen
Tekanan serupa dirasakan Baharuddin Kamba, pedagang angkringan di Sedan, Sariharjo, Sleman. Dalam setahun terakhir, omzet yang diperolehnya disebut merosot hingga sekitar 70 persen. Penurunan tersebut membuat persoalan baru. Makanan yang sudah disiapkan tetapi tidak terjual berpotensi menjadi kerugian.
Untuk menghindari makanan terbuang percuma, sebagian dagangan terpaksa dikonsumsi sendiri atau dibagikan kepada tetangga. Kondisi itu menunjukkan bahwa persoalan daya beli tidak berhenti pada konsumen. Ketika masyarakat mengurangi belanja, pedagang kecil menjadi salah satu kelompok yang langsung merasakan dampaknya.
Rantai ekonominya sederhana: pembeli menghemat, transaksi berkurang, omzet pedagang turun, produksi dikurangi, dan pendapatan rumah tangga pedagang ikut tertekan.
Selisih Rp1.000-Rp2.000 Jadi Sangat Berarti
Tekanan ekonomi juga terlihat dari cara rumah tangga mengatur pengeluaran.
Hayat, seorang ibu rumah tangga di Minggir, Sleman, mengaku harus berpindah-pindah pasar untuk mencari harga yang lebih murah. Selisih Rp1.000 hingga Rp2.000 untuk kebutuhan tertentu kini menjadi pertimbangan penting.
Penghematan bahkan menyentuh kebutuhan protein keluarga. Porsi pembelian daging ayam dikurangi hingga separuh dan makanan bergizi lebih diprioritaskan untuk anak-anak.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat tidak sekadar mengurangi belanja barang yang bersifat sekunder. Penyesuaian mulai menyentuh kebutuhan konsumsi rumah tangga sehari-hari.
Bukan Sekadar Soal Harga, tetapi Daya Beli
Fenomena di lapangan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga stabilitas harga saja belum cukup. Ketika harga kebutuhan pokok naik sementara pendapatan masyarakat tidak bertambah secara seimbang, daya beli otomatis tertekan.
Bagi pedagang kecil, persoalannya bahkan menjadi lebih kompleks. Mereka menghadapi dua tekanan sekaligus: harga bahan baku meningkat dan konsumen mengurangi pembelian. Selasa, (06/10/2026).
Karena itu, harapan para pedagang dan masyarakat bukan sekadar adanya operasi pasar atau bantuan sesaat. Mereka membutuhkan kebijakan yang mampu menjaga harga kebutuhan pokok sekaligus memperkuat pendapatan dan daya beli masyarakat.
Pertanyaannya kemudian, apakah kondisi yang terjadi di Jogja merupakan fenomena lokal atau gambaran yang juga dirasakan masyarakat di berbagai daerah Indonesia?
Jawabannya perlu dilihat dari data dan kondisi masing-masing daerah. Tekanan daya beli dan perubahan pola belanja memang bisa terjadi secara luas, tetapi tingkat keparahannya tidak otomatis sama di seluruh Indonesia.
Harga pangan, pendapatan masyarakat, struktur ekonomi daerah, lapangan pekerjaan, distribusi barang, hingga ketergantungan terhadap sektor informal berbeda-beda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Namun, jika cerita seperti Yanti, Baharuddin, dan Hayat semakin banyak ditemukan di berbagai daerah, persoalannya patut dilihat bukan lagi sebagai keluhan individu, melainkan sebagai sinyal mengenai kondisi ekonomi masyarakat di lapisan bawah.
Sebab pada akhirnya, kesehatan ekonomi bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi di atas kertas. Ekonomi juga terlihat dari apakah pedagang kecil masih mampu membawa pulang keuntungan, apakah pembeli masih mampu membeli jajanan, dan apakah sebuah keluarga masih bisa memenuhi kebutuhan pangan tanpa harus menghitung selisih seribu rupiah berkali-kali.
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.
