Tegal, Tuturpedia.com — Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), menegaskan bahwa roda pemerintahan tidak cukup dijalankan hanya dengan kekuatan struktural dan kewenangan jabatan, tetapi juga membutuhkan dukungan spiritual berupa doa dan nasihat para ulama. Senin, (12/01/2026).
Hal tersebut disampaikan Gus Yasin saat menghadiri peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan Haul ke-52 almarhum KH. Sa’id bin Armia di Pondok Pesantren Attauhidiyyah Giren, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, Sabtu (10/01).
Di hadapan ribuan jamaah, ulama, habaib, serta tokoh masyarakat, Gus Yasin yang hadir mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, menyampaikan bahwa para pemimpin memiliki tanggung jawab besar yang tidak lepas dari potensi kekhilafan.
“Kami mohon doa dari para ulama agar pemerintahan di Jawa Tengah benar-benar bisa berjalan dengan rida Allah SWT,” ujar Gus Yasin.
Menurutnya, kedekatan antara pemerintah dan ulama merupakan kebutuhan mendasar, bukan sekadar simbolis. Majelis ilmu menjadi ruang penting bagi para pejabat untuk menundukkan ego sekaligus mencari keberkahan.
“Duduk bersama orang-orang saleh seperti ini, kita mencari barakah dan ampunan Allah,” tuturnya.
Gus Yasin juga sempat berkelakar melihat beragam ekspresi jamaah, mulai dari yang khusyuk menyimak hingga yang terlelap. Namun ia menegaskan, kehadiran di majelis orang-orang saleh tetap membawa kebaikan.
“Semoga kita semua diampuni dosa-dosanya dan mendapatkan keberkahan dari majelis ini,” ucapnya.
Mengenang Keteladanan KH. Sa’id bin Armia
Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh Ponpes Attauhidiyyah Giren, KH. Khasani, mengisahkan keteladanan almarhum KH. Sa’id bin Armia, khususnya dalam menjaga adab dan kepatuhan kepada guru, KH. Abu Ubaidah.
Ia menuturkan, KH. Sa’id bahkan tidak berani pulang untuk melayat wafatnya sang ayah, KH. Armia, sebelum memperoleh izin dari gurunya.
“Inilah adab santri dulu, sangat patuh kepada guru,” tutur KH. Khasani.
Ketaatan itu, menurutnya, menjadi jalan terbukanya karamah. Salah satu kisah yang dikenal adalah terlihatnya cahaya dari sosok KH. Sa’id muda saat tertidur di masjid, yang kemudian menjadi awal pernikahannya dengan putri KH. Abu Ubaidah.
KH. Khasani juga menyampaikan bahwa KH. Sa’id wafat tepat pada 20 Rajab, bertepatan dengan peringatan Isra Mikraj, sebagaimana pesan yang pernah disampaikannya semasa hidup.
Bahkan dalam kondisi sakit, almarhum tetap melaksanakan ibadah hingga menghembuskan napas terakhir saat menjalankan salat Duha.
“Beliau wafat dalam keadaan ibadah, sesuai dengan apa yang pernah beliau pesankan,” ungkapnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Pj Ketua Umum PBNU KH. Zulfa Mustofa, Bupati dan Wakil Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman–Ahmad Kholid, para habaib, serta kiai sepuh. Kehadiran para tokoh tersebut mencerminkan kuatnya sinergi antara ulama dan pemerintah dalam menjaga harmoni serta membangun Jawa Tengah.
