Semarang, Tuturpedia.com – Upaya menumbuhkan budaya membaca di Jawa Tengah terus dikuatkan. Bunda Literasi Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, menegaskan komitmennya untuk mendorong setiap desa dan kelurahan memiliki perpustakaan sebagai pusat gerakan literasi masyarakat.
Hal itu ia sampaikan usai Rapat Koordinasi Bunda Literasi Jawa Tengah 2026 bertema “Sinergi Bunda Literasi untuk Jawa Tengah Maju Berkelanjutan” di Grhadika Bhakti Praja, Selasa (10/2/2026). Saat ini, tercatat ada 7.621 perpustakaan desa/kelurahan di Jateng. Jumlah tersebut ditargetkan terus bertambah hingga mencapai 8.563 unit, menyesuaikan total desa dan kelurahan yang ada.
“Harapannya, dari 8.563 desa dan kelurahan di Jawa Tengah, semuanya memiliki satu perpustakaan. Sekarang sudah ada 7.621, tinggal kita dorong agar bisa merata,” ujar Nawal.
Menurutnya, perpustakaan desa tak sekadar bangunan penyimpan buku. Lebih dari itu, tempat ini diharapkan menjadi ruang belajar, diskusi, dan penggerak literasi di tengah masyarakat.
Gerakan ini juga diperkuat oleh jaringan perpustakaan lainnya. Di tingkat daerah, terdapat 36 perpustakaan kabupaten/kota dan provinsi. Di lingkungan pendidikan, ada 22.388 perpustakaan sekolah dari jenjang SD hingga SMA. Selain itu, tersedia pula 1.425 perpustakaan khusus yang tersebar di instansi pemerintah, rumah ibadah, lembaga pemasyarakatan, hingga komunitas masyarakat.
Nawal menilai setiap jenis perpustakaan memiliki segmen pembaca yang berbeda. Jika semuanya bergerak bersama, tingkat kegemaran membaca (TGM) masyarakat Jawa Tengah diyakini akan terus meningkat.
Data Perpustakaan Nasional menunjukkan tren positif. TGM Jateng naik dari 71,31 persen pada 2023 menjadi 73,91 persen di 2024. Bahkan pada 2023, Jawa Tengah menempati posisi kedua nasional dalam kategori tingkat kegemaran membaca tertinggi.
Di tingkat akar rumput, penguatan literasi juga dilakukan melalui Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang dikelola para pegiat dan relawan. Saat ini ada 1.297 TBM aktif di seluruh wilayah Jawa Tengah.
Tak hanya fokus pada fasilitas, Nawal juga mendorong Bunda Literasi di 35 kabupaten/kota untuk menghadirkan terobosan baru. Ia menekankan bahwa peran Bunda Literasi bukan sekadar simbolis, melainkan sebagai motor penggerak, mitra kolaborasi, pendidik, sekaligus motivator dalam gerakan literasi.
Menurutnya, gerakan literasi ini sejalan dengan program Gubernur Ahmad Luthfi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mempercepat penurunan angka kemiskinan.
“Yang kita dorong adalah inovasi. Jadi tidak berhenti pada bangunan fisik, tapi benar-benar menggerakkan pemberdayaan masyarakat. Dari situ, literasi bisa ikut berkontribusi menekan angka kemiskinan,” jelasnya.
Ia juga menaruh perhatian pada literasi berbasis budaya. Perpustakaan desa dinilai bisa menjadi ruang untuk merawat dan mengenalkan kembali nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda.
Nawal berharap sinergi antar-Bunda Literasi di Jawa Tengah semakin solid agar program yang dirancang dapat berjalan maksimal.
“Salam literasi untuk seluruh masyarakat Jawa Tengah. Semoga ini menjadi langkah awal yang semakin menguatkan gerakan literasi kita,” tutupnya.***
Kontributor Jawa Tengah: Rizal Akbar
