Indeks

Film Invisible Hopes Jadi Momentum Advokasi Hak Perempuan dan Anak di Hari Perempuan Internasional 2026

Tuturpedia.com — Peringatan International Women’s Day 2026 di Indonesia menjadi momentum penting untuk kembali menyoroti isu perlindungan perempuan dan anak dalam situasi khusus, terutama bagi narapidana perempuan yang sedang hamil serta anak-anak yang lahir dan tumbuh di dalam lembaga pemasyarakatan.

Dalam rangka memperingati hari tersebut, Perkumpulan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PNPS GMKI) bekerja sama dengan rumah produksi Lam Horas Film menggelar pemutaran sekaligus dialog film dokumenter Invisible Hopes di Jakarta, Jumat (7/3/2026).

Film dokumenter ini sebelumnya telah meraih penghargaan bergengsi di ajang Festival Film Indonesia melalui Piala Citra, dan dikenal luas karena mengangkat kisah nyata perempuan hamil serta anak-anak yang harus menjalani masa awal kehidupan mereka di balik jeruji penjara.

Mengangkat Realitas yang Jarang Terlihat
Isu perempuan hamil di lembaga pemasyarakatan masih menjadi persoalan kompleks di Indonesia. Selain keterbatasan fasilitas kesehatan, sistem pemasyarakatan dinilai belum sepenuhnya memiliki pendekatan yang menempatkan kepentingan terbaik bagi perempuan dan anak sebagai prioritas utama.

Kondisi tersebut membuat anak-anak yang lahir di penjara menghadapi berbagai keterbatasan sejak awal kehidupannya. Akses terhadap ruang tumbuh yang sehat, stimulasi perkembangan, hingga lingkungan yang layak bagi anak sering kali belum terpenuhi secara optimal.

Melalui film Invisible Hopes, berbagai realitas tersebut diangkat secara jujur dan humanis. Film ini menggambarkan bagaimana para ibu di dalam penjara harus menjalani kehamilan, melahirkan, serta membesarkan anak dalam kondisi yang penuh keterbatasan.

Film sebagai Media Advokasi Sosial

Sejak dirilis pada 2021, film Invisible Hopes tidak hanya berfungsi sebagai karya sinema, tetapi juga menjadi media advokasi yang kuat dalam mendorong perubahan kebijakan. Diproduksi oleh Lam Horas Film, film ini telah menjalani berbagai rangkaian kampanye dampak (impact campaign) di Indonesia. Selain tayang di bioskop, film tersebut juga diputar di berbagai forum diskusi publik, kampus, komunitas, hingga konferensi yang membahas isu hak asasi manusia.

Pemutaran dalam berbagai forum tersebut bertujuan memperluas kesadaran publik mengenai kondisi perempuan dan anak di dalam lembaga pemasyarakatan.
Ketua Umum Perkumpulan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, William Sabandar, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang dialog antara masyarakat sipil dan para pemangku kepentingan.

Melalui diskusi yang melibatkan berbagai pihak, diharapkan lahir komitmen nyata untuk memperbaiki sistem pemasyarakatan yang lebih adil, inklusif, dan sensitif terhadap isu gender.

Kolaborasi Lintas Sektor

Kegiatan pemutaran dan dialog ini mempertemukan beragam unsur penting, mulai dari pembuat kebijakan, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga perwakilan diplomatik internasional.
Salah satu pihak yang turut memberikan pandangan adalah perwakilan dari Kedutaan Besar Swiss di Indonesia yang menyoroti pentingnya kerja sama internasional dalam mendorong perlindungan hak perempuan dan anak.

Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menekankan pentingnya pendekatan kebijakan yang berorientasi pada kepentingan terbaik bagi anak yang lahir dalam situasi khusus, termasuk di lingkungan pemasyarakatan.

Mendorong Perubahan Kebijakan

Dialog yang digelar setelah pemutaran film diharapkan mampu menghasilkan langkah-langkah konkret untuk memperbaiki kebijakan pemasyarakatan di Indonesia. Salah satu fokus utama adalah memastikan bahwa perempuan hamil yang menjalani masa hukuman tetap mendapatkan perlindungan kesehatan yang memadai, serta memastikan anak-anak mereka mendapatkan hak dasar untuk tumbuh secara layak.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari agenda awal kepengurusan baru PNPS GMKI periode 2025–2028 untuk memperkenalkan arah kerja organisasi dalam tiga tahun ke depan. Sebagai organisasi nasional yang menaungi puluhan ribu alumni GMKI dari berbagai sektor, PNPS GMKI menyatakan komitmennya untuk terus terlibat aktif dalam isu-isu keadilan sosial dan kemanusiaan.

Melalui kegiatan seperti ini, film Invisible Hopes diharapkan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa masih ada realitas yang jarang terlihat namun membutuhkan perhatian serius dari masyarakat dan negara.
Kontributor: Sarah Limbeng

Exit mobile version